134 Santri Tertular Corona, Ponpes di Bantul Diminta Lockdown Lokal

BANTUL (MERAPI)-Angka penambahan positif corona di Bantul melonjak dalam dua hari terakhir. Penyebabnya, muncul klaster baru penularan corona di sebuah pondok pesantren di Krapyak Panggungharjo Sewon Bantul. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul pun meminta ponpes untuk melakukan lockdown internal setelah ditemukannya 139 pasien positif Covid-19.
“Untuk itu kami meminta pondok pesantren melakukan lockdown selama 2 kali masa inkubasi yakni 28 hari untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” ujar Kepala Dinkes Bantul, Agus Budi Raharja SKM MKes kepada wartawan, Jumat (6/11).

Sebelumnya, pihak Dinkes Bantul melakukan tracing di ponpes ditemukan 64 positif Covid-19. Setelah itu dilakukan tracing terhadap 240 orang dan didapatkan 139 positif Covid-19. Dari 139 pasien positif Covid-19 sebanyak 134 orang merupakan santri pondok pesantren dan sisanya pengasuh dan pengurus pondok.
Menurut Agus, dari hasil penelusuran Dinkes Bantul, kebanyakan kasus Covid-19 berasal dari luar kota akibat dampak perjalanan. Apalagi lingkungan ponpes saat ini memiliki kepadatan yang cukup tinggi dan kepatutan protokol kesehatan rendah.

Terlebih budaya jabat tangan dan cium tangan masih tinggi. Sehingga ini memungkinkan penyebab virus Covid-19 semakin masif. Termasuk para penghuni pondok senang merokok sehingga sering tidak mengenakan masker.
Selain di Krapyak, Dinkes Bantul juga meminta dilakukan lock down internal di pondok pesantren di wilayah Piyungan dan Pajangan. Meksi kasus positif Covid-19 tak sebanyak di Sewon tetapi langkah antisipasi perlu dilakukan untuk mencegah penularan.
Karena banyaknya pasien positif Covid-19 maka Dinkes Bantul memanfaatkan RS Patmasuri untuk tempat perawatan bagi pasien dari klaster pondok pesantren. “Untuk menjamin pelaksanaan isolasi maka akan dilakukan pengawasan oleh tim pengawas dari dinas kesehatan,” jelasnya.
Lurah Desa Panggungharjo Sewon Bantul, Wahyudi Anggoro Hadi meminta pihak ponpes melakukan lockdown untuk mencegah penyebaran virus Corona. Dengan adanya karantina wilayah tersebut diharapkan virus Corona tidak menyebar ke masyarakat sekitar.

Untuk mendukung lockdown tersebut pemerintah desa telah memberikan bantuan logistik, perlengkapan sanitasi maupun perlengkapan belajar mengajar untuk para santri. “Adanya virus Covid-19, kami selaku pemerintah desa hadir untuk ikut membuat karena lokasi ponpes tersebut ada di wilayah kami sehingga kami merasa ikut bertanggung jawab,” tegas Wahyudi.
Sementara itu Pemerintah Kota Yogyakarta mengantisiapsi lonjakan kasus Covid-19 di Kabupaten Bantul yang terjadi di sebuah pondok pesantren. Mengingat lokasi pondok pesantren itu berbatasan langsung dengan wilayah Kota Yogyakarta di sisi selatan dan padat penduduk.
“Kami minta puskesmas di wilayah itu untuk mengantisipasi. Terutama di wilayah sekitar supaya memperhatikan potensi sebaran karena memang berbatasan dengan kota dan di sana padat penduduk,” kata Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, Jumat (6/11).

Dia menyebut sampai kemarin belum ada laporan terkait kasus positif Covid-19 di Kota Yogyakarta akibat sebaran kasus di Bantul yang berbatasan dengan kota. Dia menduga tidak ada laporan kasus itu karena klaster seperti di pondok pesantran sebagian besar para santri tentu jarang berinteraksi dengan masyarakat luar. Terutama di masa pandemi Covid-19.
“Kasus Covid-19 yang muncul di kota akhir-akhir ini sebagian besar tidak ada yang dari wilayah itu (perbatasan sekitar ponpes). Tapi kami tetap antisipasi,” ujar Heroe yang juga Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta.(Usa/Tri)

Read previous post:
CANDI CETO DI LERENG GUNUNG LAWU (3-HABIS) – Ada Dugaan Dibangun untuk Tujuan ‘Ruwatan’

Teras ke-3 berupa halaman yang tidak terlalu luas. Seperti yang terdapat di teras sebelumnya, di sisi barat teras terdapat sepasang

Close