GUNUNG MERAPI NAIK STATUS JADI SIAGA-Awan Panas 5 Km Mengancam, Wisata di Lokasi Rawan Dihentikan


UMBULHARJO (MERAPI)- Setelah 2 tahun lebih berstatus Waspada (level II), status Gunung Merapi di perbatasan DIY dan Jawa Tengah ditingkatkan menjadi Siaga (level III) pada Kamis (5/11). Peningkatan status itu mempertimbangkan peningkatan aktivitas kegempaan dan penggembungan tubuh Gunung Merapi. Masyarakat di daerah potensi bahaya diimbau agar lebih waspada.
“Per Kamis (5/11) pukul 12.00 WIB, status Gunung Merapi kami naikkan dari Waspada level dua ke Siaga level tiga. Karena berdasarkan data hasil pemantauan kami saat ini terjadi kenaikan aktivitas Gunung Merapi,” kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, dalam jumpa pers lewat video telekonferensi, Kamis (5/11).

Dia menjelaskan rangkaian erupsi Merapi sudah berlangsung sejak lama di tahun 2018.
Setelah letusan eksplosif pada 21 Juni 2020, kegempaan internal yaitu vulkanik dalam (VA), Vulkanik Dangkal (VB) dan Fase Banyak (MP) mulai meningkat. Sebagai perbandingan, pada bulan Mei 2020 gempa VA dan VB tidak terjadi dan gempa MP terjadi 174 kali. Pada bulan Juli 2020 terjadi gempa VA 6 kali, VB 33 kali dan MP 339 kali.
Di samping itu terjadi penggembungan atau pemendekan jarak baseline EDM (Electronic Distance Measurement) sektor Barat Laut Babadan-RB1 sebesar 4 cm sesaat setelah terjadi letusan eksplosif 21 Juni 2020. Setelah itu pemendekan jarak terus berlangsung dengan laju sekitar 3 mm/hari sampai September 2020. Pada 4 November 2020 rata-rata gempa VB 29 kali/hari, MP 272 kali/hari, Guguran (RF) 57 kali/hari, Hembusan (DG) 64 kali/hari. Laju pemendekan EDM Babadan mencapai 11 cm/hari. Namun kubah lava belum muncul.

“Sejak bulan Oktober 2020 kegempaan meningkat semakin intensif. Energi kumulatif gempa sudah melampaui kondisi menjelang erupsi 2006. Tetapi masih lebih rendah jika dibandingkan sebelum erupsi 2010. Jumlah kegempaan dan penggembungan tubuh gunung masih terus meningkat. Maka dimungkinkan terjadi letusan eksplosif,” terangnya.
Dia menyebut potensi ancaman bahaya berupa guguran lava, lontaran material dan awanpanas sejauh maksimal 5 kilometer. Sedangkan prediksi guguran mengarah ke Kali Gendol karena bukaan kawah mengarah ke sungai itu dan belum muncul kubah lava. BPPTKG juga memetakan perkiraan daerah bahaya dengan ditetapkan status Siaga yakni di 13 desa dan 30 dusun yang tersebar di Jateng-DIY. Di Sleman daerah bahaya di Kecamatan Cangkringan di Dusun Kalitenga lor Desa Glagaharjo, Dusun Kaliadem Kepuharjo dan Dusun Pelemsari di Umbulharjo. Selain itu di Magelang, Boyolali dan Klaten di Jawa Tengah.

BPPTKG juga merekomendasikan penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III untuk dihentikan. Termasuk kegiatan wisata di KRB III dan pendakian ke puncak Gunung Merapi. Pemerintah daerah Sleman, Magelang, Boyolalli dan Klaten yang berpotensi terdampak bahaya erupsi diminta mempersiapkan segala sesuatu yang terkait upaya mitigasi.

Secara terpisah, Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengimbau warga Yogyakarta tidak panik dengan perubahan status Gunung Merapi dari waspada menjadi siaga. Sultan menyakini masyarakat sudah memiliki kesiapan dan pengalaman dalam menghadapi aktivitas dan perkembangan Gunung Merapi. Terlebih dari Kabupaten Sleman. “Masyarakat tidak perlu panik ya karena sudah hapal (erupsi Merapi). Khususnya sekitar Merapi. Saya kira mereka sudah paham,” ungkapnya.(Tri/C-4)

Read previous post:
Positif Corona Melonjak, Sehari Tambah 168 Kasus

Close