PELAKU BAKAR KORBAN KARENA TAK MAU DIAJAK NIKAH-Sebulan Buron, Pembunuh Janda Hidup Mengemis

NANGGULAN (MERAPI)- Pelaku pembakaran yang menewaskan janda Catur Atminingsih (54) warga Banyuroto Nanggulan Kulonprogo, ATS (51) telah resmi ditahan di Mapolres Kulonprogo. Selama buron sebulan terakhir, ATS sempat berpindah-pindah tempat pelarian, sebelum akhirnya hidup menggelandang sebagai pengemis.
Saat dihadirkan dalam gelar perkara di Mapolres Kulonprogo, Selasa (3/11), ATS bersikap tenang. Warga Sentolo itu mengaku menyesal dan tidak menyangka, aksi nekatnya membakar Catur bisa menewaskan wanita yang sudah dipacarinya selama empat tahun tersebut.
“Maksudnya cuma bikin dia jera, tapi ternyata fatal,” kata ATS.
Ia kemudian mengungkapkan, aksi nekatnya membakar Catur dilatarbelakangi rasa sakit hati. Janda yang sudah dipacarinya selama empat tahun itu tiba-tiba berubah menjaga jarak. Kekesalan ATS pun memuncak saat Catur menolak menikah dengannya.

“Kan dulu sudah janji mau saya nikahi. Lama-lama kok ada hal yang nggak enak. Saya tanya bagaimana ini kok jadi seperti ini. Ternyata dia nggak mau nikah sama saya,” kata ATS.
Perubahan sikap itu, menurut ATS sudah ditunjukkan Catur empat bulan sebelum kejadian. ATS mengaku tidak tahu, apa yang menyebabkan kekasihnya berubah. Namun yang jelas, Catur selalu menjaga jarak hingga muncul niat ATS untuk memberikannya pelajaran.
ATS kemudian nekat menyakiti Catur dengan cara membakar tubuhnya. Tanpa disangka, dampaknya fatal. Catur mengalami luka bakar cukup parah. Karena kalut, ATS pun melarikan diri.
“Saya kabur ke Magelang, Wonosobo dan Wonosari. Tidur di tempat teman-teman dekat,” ucapnya.

ATS terus berpindah-pindah tempat pelarian. Ia akhirnya kembali ke Kulonprogo dan tidur di pasar, kuburan juga jembatan. Lantaran butuh uang untuk makan, ATS mengemis di Pasar Cikli, Kokap. Keberadaannya pun tercium polisi hingga berujung penangkapan pada 29 Oktober lalu.
“Waktu itu pikiran saya kalut, campur aduk, jadi nggak menyerahkan diri ke polisi,” katanya.
Wakapolres Kulonprogo, Kompol Sudarmawan mengatakan, perbuatan ATS membakar Catur termasuk tindak pidana penganiayaan yang direncanakan. Bahkan karena korban sampai meninggal dunia, dimungkinkan akan ada penyesuaian pasal.
“Yang semula Pasal 351 ayat 2 dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara, estimasinya diubah menjadi Pasal 340, Pasal 338 dan Pasal 351 KUHP dengan ancaman hukuman seumur hidup,” tegas Sudarmawan.

Ia menguraikan, dua hari sebelum kejadian yakni pada Kamis (3/10) sekira pukul 17.00 WIB, pelaku dan korban sempat bertemu. Pelaku mengutarakan niatnya menikahi korban, namun korban menolak hingga pelaku merasa sakit hati.
Kemudian pada Sabtu (5/10), pelaku membeli bahan bakar pertalite satu liter. Bahan bakar itu lalu dibawa pelaku ke TKP di Dusun Tawang Banyuroto Nanggulan menggunakan botol plastik. Pelaku sengaja menunggu di ruas jalan Dusun Tawang yang biasa dilintasi korban saat berangkat bekerja.
“Sekira pukul 12.00 WIB, korban lewat lalu dihentikan pelaku. Keduanya terlibat keributan. Saat korban hendak menuju motornya, pelaku menyiramkan bensin ke punggung, wajah dan dada korban kemudian disulut hingga terbakar,” terang Sudarmawan.
Akibat peristiwa ini, Catur mengalami luka bakar cukup serius. Ia sempat dirawat intensif di rumah sakit selama beberapa hari, namun akhirnya meninggal dunia. Dari kasus ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya dua motor matic, botol plastik yang dipakai untuk membawa bahan bakar, tas milik korban yang hangus terbakar serta korek yang digunakan untuk menyulut api.(Unt)

Read previous post:
Komisi C Desak Perbaikan Jembatan Kenet

IMOGIRI (MEREPI) - Komisi C DPRD DIY mendesak Pemda DIY untuk segera memperbaiki jembatan Kenet di Selopamioro Imogiri Bantul. Pasalnya,

Close