CERITA POLWAN ANGGOTA POLDA DIY IKUT MISI PERDAMAIAN-Terjebak di Tengah Baku Tembak Kelompok Bersenjata

DEPOK (MERAPI)-Pengalaman berharga dan berkesan dialami Polisi Wanita (Polwan) anggota Polda DIY, Briptu Hikma Nur Syafa. Selama 15 bulan, dia terpilih bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Bangui, Afrika Tengah. Dia tergabung dalam Formed Police Unit (FPU).
Bersama 139 anggota Polri lain, Polwan berusia 26 tahun ini bertugas di daerah Bugai. Jalan yang ditempuh Briptu Ima, sapaan akrabnya, untuk bisa berangkat tidak mudah. Ia harus bersaing dengan ribuan Polwan lainnya di Indonesia.
Ia bergabung di misi FPU tahun 2019, dan menjalani pelatihan 18 bulan. Pada 27 Juni 2019 satgas FPU 1 Indonesia diberangkatkan 140 orang, 14 di antaranya polwan.
“Misi di Bangui adalah misi pertama FPU dari Indonesia, sebagai tactical troops dan security camp,” beber Briptu Hikma Nur Syafa kepada wartawan di Polda DIY, Senin (2/11).

Dia mengatakan, misi ini juga sangat spesial. Alasannya, sebelumnya tidak ada polwan yang diberangkatkan dalam misi ini. Setibanya di sana, ia mengaku kaget karena harus membangun semua dari awal, karena belum ada area camp (tempat tinggal) yang disediakan.
“Sebelumnya tidak ada polwan yang diberangkatkan untuk misi ini. Pada 2018 dibuka kesempatan untuk polwan untuk mengikuti tes dan melaksanakan misi di luar negeri,” katanya.
Banyak kesulitan yang dialami Briptu Hikma. Ia mengaku harus bertahan dengan kondisi cuaca yang kerap berubah, paling tidak selama tiga bulan pertama ia harus beradaptasi. Yang lebih mengerikan, ia harus berhadapan dengan kelompok bersenjata. Sebab lokasi dia bertugas merupakan daerah konflik.

“Untuk kerawanannya antara lain kelompok bersenjata. Di setiap wilayah terdapat kelompok bersenjata di mana kelompok bersenjata itu saling berkonflik,” bebernya.
Briptu Ima pun menceritakan pengalamannya saat sempat mendapatkan ancaman dari kelompok bersenjata. Kala itu, dirinya bersama rekan-rekannya tengah berpatroli, tiba-tiba dihentikan oleh kelompok bersenjata.
“Saat patroli tiba-tiba dihentikan dan juga meminta imbalan secara langsung. Tapi kami coba berkomunikasi dan kami dibebaskan. Sempat juga tersandera dalam mobil,” katanya.
Selain disandera, penyerangan juga kerap terjadi. Bahkan ia mengaku sempat berada di tengah-tengah kelompok bersenjata yang sedang baku tembak. “Saat terjadi baku tembak, saya berada di tengah-tengah itu. Tapi semua bisa pulang dengan selamat,” kenangnya.

Selama bertugas, ia mendapati bahwa masyarakat di sana masih kerap membawa senjata. Namun, ada kebijakan dari UN (PBB) untuk meminimalisir penggunaan senjata. Meski penembakan memang banyak terjadi.
“Masyarakat di sana pada umumnya masih membawa senjata. Jadi setiap kami patroli orang yang membawa senjata harus disita,” katanya.
Baginya, menjalankan misi di Afrika Tengah ini sepenuhnya misi kemanusiaan bersama rekannya dari sesama Polwan dari Polda DIY AKP Leonisa. Ia pun merasa bersyukur dengan kondisi Indonesia dibandingkan keadaan di Afrika.
“Kita harusnya banyak bersyukur dengan keadaan Indonesia. Afrika Tengah serba kekurangan, tidak ada sekolah, belanja susah, minum air susah, anak kekurangan gizi dan lain sebagainya,” pungkasnya.(Shn)