PROTES UJICOBA MALIOBORO BEBAS KENDARAAN-Pengemudi Bentor: Saya Takut Teman Kelaparan

YOGYA (MERAPI)-Uji coba jalur pedestrian Malioboro tanpa kendaraan bermotor dimulai Selasa (3/11) hari ini hingga 15 November mendatang. Sayangnya, belum juga dijalankan, ujicoba ini menuai protes dari Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY). Mereka pun beraudiensi ke anggota DPRD DIY, Senin (2/11).
Selama ujicoba jalur pedestrian, bentor terancam tak bisa mengambil penumpang di sepanjang Malioboro. Ketua Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY), Parmin meminta perlindungan dan keamanan agar tetap melangsungkan hidup selama uji coba pedestrian yang menutup akses mata pencahariannya.
“Saya dan teman-teman meminta keamanan pemerintah. Saya tak takut (secara pribadi) tapi takut teman-teman yang kelaparan, takut istri dan teman-teman yang kelaparan,” ungkapnya saat menyampaikan aspirasinya kepada DPRD DIY dan dihadiri Dinas Perhubungan DIY.

Parmin meminta jawaban dan kejelasan. Bahkan menurutnya selama pandemi Covid-19 tidak diberi bantuan. “Yang penting saya ke sini ada jawaban, yang penting boleh atau tidak becak motor lewat atau mangkal. Kita itu minta bantuan sampai sekarang cuma dijanji-janji, pak. Selama pandemi ini, saya ndak bohong ini,” lanjutnya.
Di sisi lain, plt Dinas Perhubungan DIY, Ni Made Panti Dwipanti Indrayanti mengatakan uji coba pedestrian Malioboro tetap akan dilaksanakan selama dua minggu ke depan. Menurutnya kebijakan tersebut sudah diputuskan secara matang.

“Kebijakan ini kan bukan sesuatu yang mendadak, pendekatan sudah agak lama. Jadi sebenarnya bukan kebijakan baru,” ungkapnya pada kesempatan yang sama. Menurutnya para pengemudi bentor sebaiknya menyesuaikan diri dengan kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah daerah. Ada dua opsi yang bisa dipilih yakni beralih kembali ke becak kayuh atau bekerja di sisi lain kawasan Malioboro. “Kan dia tinggal milih mau bekerja di sirip (luar kawasan Malioboro) atau (beralih) becak kayuh, itu saja kan,” imbuhnya.
Sebelumnya dia juga mengatakan kawasan bebas kendaraan bermotor di Kawasan Malioboro sebagai salah satu bagian untuk pendukung keberadaan sumbu filosofi yang segera disahkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda.

Kebijakan tersebut melarang kendaraan bermotor melintasi Jalan Malioboro kecuali bus TransJogja, kendaraan tidak bermotor, ambulans, damkar, kendaraan patroli, dan tamu kepresidenan.
Wakil ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana meminta secara tegas agar Pemda DIY dan Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan uji coba secara bertahap sambil mencari solusi terbaik terkait permasalahan bentor. Sebab hal ini menyangkut mata pencaharian wong cilik. Ditambah kondisi masa pandemi Covid-19 yang serba susah.

“Mata pencaharian orang-orang kecil jangan dimatikan dulu. Kalau becak-becak motor mohon boleh lewat dulu kalau yang mobil-mobil segala macem jangan lewat tak papa. Tapi kalau becak motor, saya harap bisa lewat dulu sampai kita pelan-pelan cari solusi yang permanen dari becak motor itu,” paparnya Senin (2/11) di DPRD DIY.
Namun apabila tetap dilaksanakan, Huda meminta agar para pengemudi bentor diberi bantuan berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) agar dapat menyesuaikan kondisi tersebut, mengingat kawasan Malioboro sebagai sumber penghasilan utama mereka.(C-4)

Read previous post:
PEMKAB BANTUL DAN ANGKASA PURA TEKEN MOU: Tingkatkan Sektor Pariwisata dan UMKM

TEMON (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul melakukan penandatanganan Memorandum Of Understanding (MoU) dengan PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara

Close