Pandemi Corona, Banyak Pelajar dan Remaja Pakai Pil Koplo

DEPOK (MERAPI)- Sebanyak 16 tersangka penjual dan pengedar narkoba ditangkap aparat Polda DIY dalam operasi yang digelar selama sebulan. Sebagian besar adalah penjual narkoba jenis pil koplo. Pelaku memgaku penjualan pil koplo laris manis di masa pandemi, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Selain mengamankan 16 orang, petugas juga menyita puluhan ribu butir pil jenis psikotropika dan obat berbahaya sebagai barang bukti. Diresnarkoba Polda DIY Kombes Pol Ary Satriyan kepada wartawan Senin (2/11) mengatakan, penangkapan itu dilaksanakan kurun waktu September hingga Oktober 2020 tersebut. Setidaknya 14 kasus diungkap dalam operasi itu. Menurutnya, dari 14 kasus terkait kepemilikan obat terlarang, ada tiga kasus menonjol. Salah satunya yakni kasus dengan tersangka SAP (29) warga Gamping, Sleman. Dia ditangkap dengan bukti 20.000 butir pil koplo warna putih berlogo Y.

Selain itu, petugas juga menyita 120 butir pil koplo terdiri dari Alrazolam, Tramadol dan Rivotril Clonazepam. Dari hasil pemeriksaan, tersangka mendapatkan barang terlarang itu dengan cara membeli dari temannya seharga Rp 2 juta.
“Pengakuannya selain untuk dikonsumsi sendiri juga akan dijual. Tersangka mendapat barang itu dengan cara membeli secara online,” beber Kombes Pol Ary, kepada wartawan.
Kombes Ary menambahkan, selama pandemi Covid-19, penyalahgunaan narkoba didominasi psikotropika atau pil koplo. Bahkan penggunanya didominasi oleh remaja dan kalangan pelajar serta mahasiswa. “Sasaran penjualan obat ini adalah pelajar. Mungkin karena harganya lebih murah. Selama pandemi, mereka menjalankan bisnis ini menggunakan media sosial,” tandasnya.
Wadiresnarkoba Polda DIY AKBP Bakti Andriyono didampingi Kasubdit II AKBP Erma Wijayanti menambahkan, dua kasus menonjol lain yang berhasil diungkap yakni kasus yang menjerat NS (31) dan TP (23).

Tersangka NS warga Mlati, ditangkap dengan bukti 5.000 butir pil Alrazolam atau pil sapi, sepulang dari mengambil paket berisi pil sapi. Menurutnya tersangka ini membeli pil sapi itu melalui media sosial seharga Rp 2 juta.
“Tersangka NS merupakan residivis kasus KDRT. Awalnya ia pemakai, lalu iseng membeli secara online dan rencananya akan mengedarkan, namun belum sempat diedarkan sudah kami amankan,” ucap AKBP Bakti. Sedangkan tersangka TP, ditangkap dengan bukti 8 botol berisi 25.000 butir pil koplo jenis trihepynidyl. Tiap botol, tersangka yang sudah sekitar satu tahun menjalankan profesi terlarangnya itu, membeli seharga Rp 750 ribu.

Ia ditangkap di rumahnya daerah Kasihan Bantul, berikut barang bukti tanpa perlawanan. “Tersangka ini hanya punya 8 ribu pil, sedangkan sisanya titipan dari teman-temannya, yang saat ini masih dalam penyelidikan,” kata AKBP Erma. Atas perbuatannya tersangka dijerat pasal 62 UU RI tahun 1997 tentang psikotropika dengan ancaman 5 tahun penjara dan Pasal 198 UU RI tahun 2009 tentang kesehatan dengan pidana dengan maksimal Rp 100 juta. (Shn)

Read previous post:
Dikira Buah Nangka Ternyata Pocong

PADA tahun 2009, Bejo, Paidi, dan Sukat tiga serangkai yang kegemarannya memancing dari satu sungai ke sungai lainnya hampir semua

Close