Pengedar Pil Koplo Incar Remaja Kulonprogo

WATES (MERAPI) – Empat pengedar obat terlarang berupa Pil Yarindo atau Pil Koplo berhasil dibekuk petugas Sat Res Narkoba Polres Kulonprogo. Keempatnya dianggap meresahkan karena membidik para remaja sebagai sasaran. Dua dari empat pengedar tersebut bahkan merupakan residivis yang belum lama keluar dari penjara.
KBO Sat Res Narkoba Polres Kulonprogo, Iptu Jatmiko kepada wartawan, Rabu (21/10) menyampaikan, empat pengedar Pil Koplo yang ditangkap adalah RMM (17) warga Pengasih, ABS (17) warga Purworejo, EP (22) alias Coduk warga Purworejo dan SP (26) alias Unyil warga Purworejo. RMM dan ABS tidak ditahan lantaran masih di bawah umur.

“Ungkap kasus ini bermula dari penangkapan saksi Aka Wijanarko di depan RM Cemoro Jajar, Sogan Wates, 22 September lalu. Ia kedapatan membawa 18 butir Pil Yarindo. Dari keterangan saksi, terungkap obat terlarang itu diperoleh dari RMM dengan cara membeli seharga Rp 100.000,” kata Jatmiko dalam gelar perkara kasus ini di Mapolres Kulonprogo, Rabu (21/10).
Dijelaskan, saat menangkap RMM dan menggeledah kediamannya, polisi menemukan 12 butir Pil Yarindo yang diperoleh dari ABS dengan cara membeli sebanyak 50 butir seharga Rp 250.000. Pengungkapan kasus terus berkembang dengan penangkapan ABS. Dari tangannya, petugas mengamankan 52 butir Pil Yarindo yang disimpan di dalam bungkus rokok. Kepada petugas, ABS mengaku obat terlarang tersebut diperoleh dari EP alias Coduk.
“ABS sudah dua kali membeli Pil Yarindo kepada EP sebanyak 400 butir dengan harga Rp 800.000. Selain itu, ABS juga meminta 100 butir kepada EP secara gratis,” imbuh Jatmiko.

Sementara EP, memperoleh obat terlarang itu dengan cara memesan 950 butir kepada SP dengan harga Rp 800.000. Dari sekian itu, 500 butir diedarkan kepada ABS, kemudian 450 sisanya dikonsumsi bersama teman-temannya. Ungkap kasus peredaran obat terlarang itu terputus di SP yang membeli secara online dengan harga Rp 650.000.
Jatmiko mengungkapkan, EP merupakan residivis kasus pencurian kendaraan bermotor yang sudah keluar dari penjara pada September tahun lalu. Sementara SP, merupakan residivis kasus yang sama yakni peredaran obat terlarang. Ia baru keluar dari penjara pada April lalu setelah memperoleh asimilasi.

“Selain Pil Yarindo, kami juga mengamankan HP dan motor yang menjadi sarana peredaran sebagai barang bukti,” ucap Jatmiko.
Jatmiko kemudian menyebut kasus ini sebagai jaringan peredaran obat terlarang. Sasarannya adalah para remaja di wilayah Kulonprogo dan Purworejo. Mereka dijerat Pasal 197 dan Pasal 196 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.
Saat dimintai keterangan, SP menyampaikan, dirinya bekerja di tambak udang setelah keluar dari penjara. Namun, ia kembali berjualan obat terlarang lantaran mendapat pesanan dari EP.

“Dulu saya pakai juga tapi setelah keluar dari penjara nggak lagi,” ucapnya.
Sementara itu, EP mengedarkan obat terlarang dengan kemasan 100 butir seharga Rp 100.000.
“Saya nggak dapat untung, cuma balik modal saja,” katanya. (Unt)

Read previous post:
MERAPI-BAMBANG PURWANTO Petugas menunjukkan potongan sarang tawon raksasa usai dievakuasi.
Petugas Evakuasi Sarang Tawon di Kota Yogya Disiagakan

Close