PKL Malioboro Siap Bangkit dengan Disiplin Protokol Kesehatan

DANUREJAN (MERAPI)- Sekitar 6 pedagang kali lima (PKL) Malioboro masih diliburkan dari aktivitas berjualan karena menjalani isolasi mandiri. Para pedagang diminta untuk isolasi mandiri karena terkait kontak dengan kasus positif Covid-19 pada PKL Malioboro beberapa waktu lalu. Para pelaku di Malioboro diminta mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah sebaran Covid-19.
“Yang belum berjualan ada enam lapak dari enam pedagang. Mereka disuruh puskesmas untuk karantina mandiri selama 14 hari tidak berjualan,” kata Pengurus Paguyuban PKL Tridharma di Malioboro, Paul Zulkarnaen kepada wartawan, Senin (28/9).

Pihaknya membenarkan 6 PKL yang diliburkan itu berjualan di zona 3 kawasan Malioboro. Lokasi lapak tempat berjualan para PKL tersebut, termasuk beberapa PKL yang dinyatakan positif Covid-19 juga masih steril tidak untuk berjualan. Tapi tidak ada penanda pembatas area itu harus steril untuk berjualan.
“Tidak ada tandanya. Tempat jualan dikosongkan saja. Masih tidak untuk berjualan,” ujarnya.
Menurutnya adanya kasus positif Covid-19 pada beberapa PKL Malioboro berdampak pada sepinya pembeli. Pada akhir pekan bulan Agustus lalu, lanjutnya, kondisi para PKL sudah akan bangkit setelah libur beberapa bulan karena pandemi Covid-19. Tapi setelah ada beberapa PKL yang kena Covid-19, kondisinya sepi.

“Ada yang kena Covid-19, jadi sepi. Memang malam Minggu kemarin ramai, tapi pembeli sepi. Tapi kami tetap berjualan dan tetap semangat. Kami tetap terapkan protokol Covid-19. Kami tetap mengimbau pedagang untuk tetap memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak,” jelasnya.
Secara terpisah Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Maryustion Tonang memastikan beberapa PKL yang positif Covid-19 tidak berjualan dahulu untuk mencegah sebaran Covid-19. Pasca temuan kasus itu, para pedagang melalui komunitas diminta untuk mengetatkan protokol Covid-19.
“Isolasi dan libur jualan dulu. Tidak ada perlawanan karena kami tekankan lebih baik tidak jualan dulu daripada dipaksakan bisa menyebar. Malioboro milik bersama, sehingga mari dijaga bersama. Terlebih dalam situasi pandemi Covid-19. Tolong dipatuhi prinsip 3M, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak,” jelas Tion.

Pihaknya menegaskan dalam kondisi status tanggap darurat Covid-19, pemerintah tidak menutup usaha pariwisata. Tapi harus melalukan verifikasi penerapan protokol kesehatan untuk mencegah Covid-19. Kawasan Malioboro menjadi model penerapan protokol Covid-19. Dengan kondisi itu, dia menilai Malioboro masih eksis ramai dikunjungi wisata luar daerah di masa pendemi.
Berdasarkan data dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta, setidaknya total ada sekitar 19 kasus positif Covid-19 di Malioboro. Jumlah itu di antarnya terdiri dari 3 pedagang, keluarga pedagang dan tetangga pedagang. Pedagang yang positif Covid-19 itu berjualan pada zona yang sama yakni zona 3 dan tidak jauh dari kasus pedagang pertama.(Tri)

Read previous post:
Sebelum Tewas, Balita Dibiarkan Pingsan Selama 2 Jam

Close