Rumah Pimpinan Bank Indonesia Dihiasi Sampah

SEKELOMPOK orang dari Paguyuban Bank Sampah DIY dan Generasi Baru Indonesia (GenBI) tampak beraksi di rumah bernomor 53 H. Mereka sibuk dengan sampah di depan rumah bercat putih tersebut. Rumah tersebut adalah kediaman pimpinan Bank Indonesia Perwakilan DIY Hilman Trisnawan.

Yuli Pratiwi, terlihat dengan cekatan melukisi Losida, Lodong Sisa Dapur, yang dipegangnya. Tidak dengan kuas. Hanya dengan jari-jarinya. Anggota Paguyuban Bank Sampah DIY ini menghias pipa paralon sepanjang 1 meter tersebut. Cat empat warna –merah, putih, kuning, biru- yang disiapkan panitia beserta pengencernya, dia padukan melalui kreativitas seninya.

Empat anggota kelompoknya, sibuk dengan aktivitas lain. Ada yang menyusun tutup botol menjadi nomor rumah, ada yang menyusun botol plastik menjadi lampion dan menghiasnya dengan tambahan aksesoris pemanis. Peralatan lem tembak, solder, gunting, dan cutter mereka gunakan secara optimal.

Di delapan rumah lainnya, kesibukan yang sama juga berlangsung. Masing-masing lima orang dalam satu kelompok. Rumah-rumah yang dibuat beraksi adalah Komplek Perumahan Bank Indonesia Perwakilan DIY yang berada di kawasan Terban, Yogya.

Mereka beraksi dalam kegiatan Program Indonesia Bersih bertema “Merdeka dan Kreatif Dalam Mengelola Sampah“. Ini kegiatan kolaboratif yang digelar oleh Bank Indonesia Perwakilan DIY dengan menggandeng Paguyuban Bank Sampah DIY dan Generasi Baru Indonesia (GenBI). Satu kegiatan memeringati HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan cara berbeda. Yakni lomba memanfaatkan sampah rumah tangga.

Ide kreatifnya sederhana. Sampah yang ada di rumah, dikelola untuk membuat hiasan. Langsung dipasang untuk mempercantik rumah. Kemudian, tiga terbaik diganjar hadiah jutaan rupiah oleh Bank Indonesia Perwakilan. Juara pertama dua juta rupiah, juara kedua satu setengah juta dan ketiga mendapat satu juta rupiah.

Para peserta pun bebas menunjukkan kreativitasnya. Maka, hadirlah sejumlah kreasi yang berbeda. Aneka bentuk lampion terwujud dalam beragam bentuk. Aneka tulisan nomor rumah, tertempel indah dengan aneka desain. Kendati bahannya sama: tutup botol dan kardus. Begitu pula Losida. Terpasang di depan rumah dengan hiasan cantik nan beragam.

Kelompok Yuli Pratiwi (Kelompok Delapan) yang berkegiatan di rumah 53H itulah yang kemudian menjadi pemenang pertama lomba kreativitas mengelola sampah ini. Pemenang kedua adalah kelompok Lima terdiri dari Ningkar, Kirana, Ayu, Silvy dan Fathilah. Dan pemenang ketiga, kelompok Empat yaitu Sri Barjini, Heni Rahmani, Salsa, Selvi dan Jamal.

Rumahnya dihias sampah apakah Kepala Bank Indonesia Perwakilan DIY Hilman Trisnawan tidak malu? Hilman mengaku tidak malu dan malah senang rumahnya dihiasi dengan kreativitas dari sampah. “Lihat saja, sampah yang dikreasikan itu menjadi indah. Dan itu bisa dimanfaatkan untuk mengelola sampah organik rumah tangga sehingga tidak memenuhi TPA,“ katanya sembari menunjuk Losida yang bergambar bunga di depan rumahnya.

Sebelum para peserta berkegiatan lomba, mereka mendapat edukasi pengelolaan sampah rumah tangga. Disampaikan oleh Erwan Widyarto dan Zaenal Mutakin. Erwan menegaskan, sampah rumah tangga wajib dipilah. Sampah anorganik disendirikan, sampah organik dipisahkan. Anorganik dipilah misalnya kertas, plastik, kaca dan logam. Yang organik dikelola dengan dibuat kompos. “Salah satunya dengan Losida yang kita lakukan hari ini,“ jelas Sekretaris Paguyuban Bank Sampah DIY ini.

Dijelaskan pula, pengelolaan sampah anorganik bisa menjadi peluang wirausaha sosial (social enterpreneurship). Pesan ini disampaikan untuk memberi inspirasi bagi para anggota GenBI Yogya yang semuanya mahasiswa sejumlah perguruan tinggi di Yogya.

Menurut Erwan, kita bisa mengelola satu macam sampah anorganik saja. Bisa juga mengelola dua macam saja. Atau banyak macam sekalian. Yang satu jenis, misalnya mengelola ban dalam. “Anda bisa kreasikan ban dalam tersebut menjadi aneka macam barang yang dibutuhkan seperti dompet, tas, ikat pinggang dan sebagainya. Atau ban luar saja. Ban luar itu dijadikan figur atau patung. Bisa dinosaurus, lebah, gorila dan sebagainya. Atau kelola sampah sachet dan pouch bekas minyak goreng dibuat tas atau aksesoris lain,“ tambah pengelola Bank Sampah Griya Sapu Lidi ini.

Sebelumnya, Pimpinan Bank Indonesia Perwakilan DIY Hilman Trisnawan dalam sambutannya menegaskan bahwa persoalan aktual yang kini menjadi problem adalah sampah. Banyak TPA yang tidak mampu lagi menampung produksi sampah yang terus menggunung. Sedangkan kedisiplinan warga juga masih rendah.

“GenBI adalah generasi muda yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa ini. Dengan mengenali masalah sampah, kalian bisa menjadi pemimpin bangsa yang peduli dengan lingkungan. Inilah kesempatan belajar bersama bapak dan ibu dari Paguyuban Bank Sampah DIY yang sudah mengelola sampah dengan baik,“ pesan Hilman.

Hilman menambahkan, saat pandemi ini kebersihan harus mendapat perhatian. Mengelola sampah rumah tangga merupakan upaya untuk menjaga kebersihan ini. Momentum peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI menjadi sangat pas diisi dengan kegiatan mengelola sampah rumah tangga. “Lihat saja itu, kreasi dari sampahnya begitu indah. Lingkungan menjadi bersih. Kegiatan semacam ini nanti akan terus kita kembangkan sebagai bentuk tanggung jawab Bank Indonesia terhadap lingkungan,“ tandasnya. Mengisi kemerdekaan bisa dilakukan dari lingkup terkecil, diri sendiri, lingkungan dan komunitas yang ada di sekitar. Paguyuban Bank Sampah DIY dan Generasi Baru Indonesia (GenBI) sudah melakukannya. Semoga hal ini menjadi kontribusi bagi Indonesia di usianya yang 75 tahun ini. (*)

Read previous post:
Kartun Jurukunci, Rabu (19/8/2020)

Close