Balita Dibunuh Karena Sering Rewel

SLEMAN (MERAPI)- Setelah melakukan pememeriksaan secara intensif, penyidik Polres Slemen menetapkan JT (26) warga Caturharjo Sleman, sebagai tersangka kasus penganiayaan berujung tewasnya balita AF (4,5). Tersangka yang merupakan pacar ibu korban itu mengaku melakukan penganiayaan karena balita tersebut sering menangis dan rewel.
Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Deni Irwansyah SIK mengatakan, saat ini JT sudah resmi ditahan di Polres Sleman. Penyidik juga masih terus mendalami kasus ini dan memeriksa saksi-saksi lain yang mengetahui peristiwa itu.

“Saat ini sudah kita lakukan penahanan, namun penyidik masih melakukan penyidikan lebih lanjut untuk mendalami keterangan saksi-saksi lain terkait peristiwa itu,” ucap AKP Deni kepada wartawan, Selasa (11/8). Saat disinggung mengenai berapa lama tersangka melakukan penganiayaan terhadap AF, anak dari kekasihnya AM (25) warga Tempel Sleman, ia belum menceritakan secara gamblang. Pihaknya masih menunggu hasil visum.
“Luka-luka pada tubuh korban dan penyebab kematiannya belum bisa saya sampaikan, karena hasil visum luar dan autopsi dari rumah sakit Bhayangkara belum keluar,” ucapnya.
Dari hasil pemeriksaan sementara, kata Deni, tersangka mengaku nekat melakukan penganiayaan lantaran jengkel dengan korban. Alasannya, anak kedua dari dua bersaudara tersebut rewel dan sering nangis sehingga membuat tersangka emosi.

Atas dasar itu pelaku lantas melakukan penganiayaan terhadap korban dengan cara dipukul pakai sapu, dicubit, dijewer, bahkan ditendang dengan dengkul. Penganiayaan dilakukan di ruang tamu, dapur bahkan di kamar mandi.
“Motif tersangka karena jengkel dengan korban. Karena masih balita, korban masih suka ngompol, buang air sembarang dan rewel. Tersangka kemudian melampiaskan kekesalannya pada korban,” beber AKP Deni.
Meski kondisi korban penuh dengan luka, ujar Deni, ibu korban mengaku tidak mengetahui kalau anaknya dianiaya oleh kekasihnya itu. Bahkan, tersangka tidak pernah melakukan penganiaayaan saat ibu kandung korban berada di rumah.

“Penganiayaan ini dilakukan tanpa sepengetahuan ibu kandung korban. Untuk menutupi luka di tubuhnya, korban diberi pakaian yang menutup seluruh bagian tubuh, sehingga secara kasat mata tidak kelihatan,” tandasnya.
Dijelaskan, pihaknya juga masih akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan pemeriksaan terhadap kakak kandung korban. Alasannya, saudara korban yang berusia 7 tahun masih memerlukan pendampingan orangtuanya. Diduga, kakak korban yang juga tinggal serumah dengan pelaku mengetahui penganiayaan itu.
“Kita belum tahu apakah saudara korban ini mengetahui peristiwa itu atau tidak, karena belum kita periksa. Kita masih akan berkoordinasi dengan pihak terkait karena usianya juga masih bawah umur,” kata AKP Deni.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 80 ayat 3 UU RI No 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dan Pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal, ancaman 15 tahun penjara. Seperti diberitakan, seorang balita, AF (4,5) tewas setelah diduga dianiaya oleh pacar atau selingkuhan ibunya sendiri di sebuah rumah kontrakan di daerah Minggir 3 Sendangagung, Minggir, Sleman, Minggu (9/8). Korban tinggal serumah dengan ibunya dan pelaku. Kejadian ini mencuat setelah ayah korban curiga dengan kematian anaknya itu, lantas melapor ke polisi. (Shn)

Read previous post:
Protokol Keselamatan Laut

SELAMA ini kita lebih banyak mengenal istilah protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19. Padahal masih banyak protokol

Close