Pasien Corona Nambah Terus, Tanggap Darurat Diperpanjang

DANUREJAN (MERAPI)-Pemda DIY memperpanjang status tanggap darurat Covid-19 yang berakhir pada Jumat (31/7) dan diperpanjang hingga 31 Agustus mendatang. Salah satu pertimbangannya, karena lonjakan kasus masih terjadi.
“Untuk tanggap darurat, Pak Gubernur sudah menetapkan memperpanjang (status tanggap darurat) satu bulan lagi,” ungkap Sekda DIY, Baskara Aji, Kamis (30/7) di Kompleks Kepatihan.
Kebijakan ini kata dia ditempuh selain Pemerintah Pusat belum mencabut status bencana nasional, juga karena perkembangan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Yogyakarta terus meningkat.
Aji menjelaskan, status tanggap darurat Covid-19 masih dibutuhkan selain untuk prioritas kesehatan, juga untuk pemulihan ekonomi dengan optimalisasi Biaya Tidak Terduga (BTT).

Pada pemulihan ekonomi, Pemda DIY membuat skema baru guna meredam kontraksi ekonomi yang saat ini disebut sudah minus pada triwulan kedua tahun 2020. Stimulus bagi UMKM akan digulirkan melalui insentif.
“Kita fokus usulkan ke Kementerian Koperasi dan UMKM, bagi mereka yang belum bank-able (belum mendapatkan bantuan bank), kita berikan bantuan pada mereka. Sekarang baru proses pendataan, jumlahnya cukup banyak,” paparnya.
Adapun pada sektor Pariwisata, Aji menegaskan tidak membuka kawasan wisata secara penuh dan membatasi kunjungan wisata. Apabila ada pelanggaran protokol kesehatan di destinasi wisata maka Pemda DIY akan mencabut izin buka.
“Ini sebagai peringatan kalau protokol kesehatan harus dipatuhi semua pihak sebaik-baiknya,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Sekretariat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemda DIY, Biwara Yuswantana mengungkapkan saat ini Pemda DIY juga tengah fokus dalam penanganan kasus Covid-19 pada tingkat komunitas.
“Kita perlu menggerakkan kembali masyarakat untuk melakukan pendataan atau pengawasan, monitor orang yang keluar masuk, terutama dari luar atau keluar kota. Masyarakat yang akan mengawasi. Ini yang membuat peran komunitas jadi penting,” jelasnya.
Sementara itu Pemkot Yogyakarta mengikuti kebijakan Pemda DIY yang kembali memperpanjang status masa tanggap darurat bencana Covid-19 di DIY hingga akhir Agustus 2020. Perpanjangan status masa tanggap darurat itu dinilai akan memudahkan penanganan Covid-19 di Kota Yogyakarta. Terutama kebijakan penganggaran dana tak terduga.
“Tanggap darurat bagi pemerintah itu terkait urusan penganggaran. Tidak ada kaitannya dengan penutupan atau pembatasan kegiatan masyarakat,” kata Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, Jumat (31/7).

Menurutnya dengan status tanggap darurat akan lebih fleksibel dalam penganggaran penanganan Covid-19, bisa menggunakan dana tak terduga. Dia menjelaskan, sampai kini masih ada kasus positif Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dan muncul kasus baru. Jika tidak berstatus tanggap darurat dan penanganannya belum dianggarkan maka akan sulit ditangani.
“Penanganan Covid-19 akan lebih mudah dan jelas dengan dana tak terduga. Dalam masa tanggap darurat, kami tidak pernah menutup usaha maupun kegiatan di masyarakat. Yang penting menerapkan protokol kesehatan,” paparnya.
Wakil Walikota Yogyakarta Hero Poerwadi sekaligus Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta menambahkan perpanjangan masa tanggap daurat bencana Covid-19 juga akan digunakan untuk memperkuat protokol kesehatan untuk mencegah persebaran Covid-19. Mengingat Kota Yogyakarta mulai menggeliat dan ramai aktivitas kedatangan wistawan, mahasiswa maupun tamu dari luar daerah.

“Kami tetap akan melakukan penguatan protokol dan saat ini masih ada kasus positif Covid-19. Pak Gubernur mengatakan selama masih ada yang di rumah sakit, akan diperpanjang masa tanggap darurat,” terang Heroe.
Pemkot Yogyakarta mencatat pada Kamis (30/7) pukul 12.00 WIB ada 10 kasus positif Covid-19 yang dirawat, 39 sembuh dan 3 meninggal. Sedangkan pasien dalam pengawasan (PDP) ada 16 orang.
Diakuinya ada kenaikan kasus Covid-19 di Kota Yogyakarta selama beberapa hari ini. Sebagian besar kasus Covid-19 tersebut masih didominasi memiliki riwayat perjalanan dari luar DIY.
“Jadi kita tidak bisa meremehkan kasus yang selama ini berkembang di masyarakat. Dengan kondisi sekarang masyarakat sudah beraktivitas, maka protokol kesehatan harus diketatkan,” tegasnya.(C-4/Tri)

Read previous post:
ilustrasi
Pembuang Bayi di Godean Mahasiswa Kedokteran

Close