PSS Sulit Mencari Sponsor Tambahan

SLEMAN (HARIAN MERAPI) – Manajemen PSS Sleman kesulitan mencari sponsor tambahan untuk mendukung tim di lanjutan liga 1 Oktober nanti. Kondisi ekonomi yang babak belur dihantam pandemi jadi kendala. Direktur Utama PT Putra Sleman Sembada, Marco Paulo Garcia membenarkan kesulitan itu.

Sejumlah calon sponsor yang didekatinya merasa belum bisa menjalin kerjasama tahun ini namun tak menutup kemungkinan di musim berikutnya. “Kami sempat cari sponsor tambahan tapi belum memungkinkan karena pandemi. Penjajakannya jadi untuk musim depan karena sulit tahun ini,” kata Marco, kemarin.

Meski sulit menemukan sponsor baru untuk mendukung operasional PSS di lanjutan liga, Marco masih mengintip peluang mendapatkan satu atau dua pihak yang bisa diajak kerjasama. Banyaknya dana operasional yang akan dikeluarkan PSS selama liga yang digelar di tengah pandemi ini jadi penyebabnya. Di sisi lain pihak PT juga lega karena existing sponsor musim ini masih berkomitmen mendukung Laskar Sembada. “Saya tidak menutup peluang adanya sponsor tambahan musim ini. Masih terus cari dan jalin komunikasi,” sambung eks CEO Badak Lampung itu.

Mencari tambahan sponsor cukup masuk akal di tengah situasi seperti ini. Apalagi dana subsidi dari PT LIB belum cukup untuk mengarungi kompetisi selama lima bulan. Manajemen sendiri sempat mengeluhkan nominal subsidi dari PT LIB ke tiap klub saat kompetisi dilanjutkan. Subsidi senilai Rp 800 juta bagi manajemen masih belum cukup bagi operasional apalagi tiap dua pekan wajib melakukan rapid test untuk para pemain, pelatih, dan official.

Keluhan itu dijawab PT LIB, Kamis (30/7) malam lalu, melalui Direktur Operasional Sudjarno. “Tidak ada tambahan subsidi ya segitu saja. Pasti membantu dan akan dicairkan minimal satu bulan sebelum <I>kick off<P>,” kata Sudjarno.

Manajemen sendiri akan kembali meminta penjelasan lewat pertemuan antar-manajer pekan kedua Agustus mendatang. Andai PT LIB bergeming, manajemen harus putar otak agar bisa menyelesaikan liga tanpa masalah keuangan. Direktur Operasional PT PSS, Hempri Suyatna mengatakan salah satu hal yang memberatkan adalah tanpa penonton yang membuat manajemen tidak punya pemasukan. Janji PSSI yang mencari pihak swasta untuk menanggung biaya rapid test juga makin tak jelas. “Harus jeli mengatur anggaran karena dana operasional yang tak sedikit,” keluh Hempri.

Selain besaran subsidi manajemen rencananya juga akan minta penjelasan detail mengenai regulasi renegoisasi kontrak pemain agar tidak ada yang dirugikan setelah PSSI menyarankan pemotongan gaji tidak boleh lebih dari 50 persen. “Tentu saja kami akan minta penjelasan lebih lanjut soal subsidi yang tidak ada tambahan dan soal kontrak. Semoga sudah ada tanggal untuk meeting karena dari sana patokannya,” harap Marco. (Des)

Read previous post:
IBL Sosialisasikan Pedoman Kesehatan Saat Latihan dan Pertandingan

JAKARTA (HARIAN MERAPI) - Menghadapi lanjutan kompetisi IBL 2020 bulan Oktober nanti, manajemen IBL melakukan sosialisasi pedoman kesehatan saat melakukan

Close