Pelatih PSS Belum Rencanakan Panggil Pemain

SLEMAN (HARIAN MERAPI) – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih menjadi yang terdepan sebagi venue berlanjutnya kompetisi. PSSI menilai DIY punya banyak fasilitas yang menunjang lanjutan kompetisi yang sempat disetop karena pandemi. Selain itu situasi DIY di tengah pandemi jauh lebih baik dibanding kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Kediri, Bandung, dan Semarang yang juga punya fasilitas serupa.

Pelatih PSS Sleman, Dejan Antonic, merasa situasi di Yogyakarta tidak hanya jadi kunci bagi PSSI namun juga bagi timnya sendiri. “Situasi di Yogyakarta jadi kunci kapan mengumpulkan pemain andai liga jadi lanjut Oktober nanti. Kalau makin membaik kita bisa cepat mendatangkan pemain lalu aman dan nyaman latihan,” bebernya, Rabu (8/7).

Saat ini manajemen memang belum menginstruksikan pelatih mengumpulkan pemain. Dejan juga enggan tergesa-gesa dalam memberikan instruksi karena harus melihat situasi di Indonesia khususnya Yogya. Apalagi status bencana di Yogya masih diperpanjang hingga 31 Juli 2020 nanti. Banyak hal yang harus disiapkan manajemen sebelum kedatangan pemain untuk latihan bersama andai PSSI tidak mengubah keputusan untuk melanjutkan liga.

“Salah satunya tempat latihannya bagaimana, soalnya masih ada aturan untuk melarang berkerumun. Tempat latihan juga harus steril lalu ada protokol kesehatan. Jadi lebih baik perhatikan situasinya lebih dulu,” sambung Dejan kepada Harian Merapi.

Dejan saat ini masih berada di Hongkong. Wajar bila dirinya sangat memperhitungkan situasi di Yogyakarta sebelum kembali latihan bersama. Eks pelatih Persib ini juga memperhitungkan keselamatan para pemain dari kediaman masing-masing ke DIY karena mau tak mau harus transit ke Jakarta terlebih dulu. “Rancangan kasarnya saya bagi kelompoknya, tidak semua datang bersamaan. Kita lihat nanti keputusan PSSI dan situasi di Yogyakarta,” balas Dejan.

Keputusan melanjutkan Liga 1 di antara banyaknya kebijakan PSSI selama pandemi. Kebijakan lainnya adalah tentang regulasi gaji di mana manajemen tidak boleh memotong hak pemain lebih dari 50 persen. Keputusan ini tengah dibicarakan banyak manajemen dan pemain peserta Liga 1. Bagus Nirwanto, kapten Laskar Sembada salah satunya. Bek kanan yang selalu jadi pilihan utama ini merasa kebijakan itu sudah cukup adil lantaran situasi klub saat ini tidak seperti sebelum datangnya Covid-19.

Secara pribadi Bagus berharap pemangkasan gaji ini tidak menurunkan semangat pemain dalam membela klub masing-masing saat kembali bertarung di lapangan. “Tidak masalah dengan pemotongan gaji sesuai regulasi ini soalnya kondisi klub di masa sekarang kan tidak seperti dulu. Buat saya saat ini yang penting liga jalan dulu,” sambung Bagus. (Des)

Read previous post:
Bhayangkari Brimob Sentolo Bantu Difabel dan Lansia

Close