Oknum Bidan Otaki Bisnis Jual Beli Bayi

YOGYA (MERAPI)- Aparat Polresta Yogya membongkar praktik jual beli bayi berusia dua bulan. Tiga pelaku, semuanya wanita, ditangkap polisi. Mereka mematok harga Rp 20 juta bagi sipa saja yang berniat mengadopsi bayi. Sindikat ini diotaki oleh seorang bidan.
Tiga orang yang diamankan adalah SB (23) asal Demak, JE (39) warga Yogya dan EP (24) warga Cilacap. Peran masing-masing pelaku berbeda, di mana SB sebagai makelar atau pencari bayi serta JE yang juga bidan sebagai otak atau penyandang dana. “Sedangkan pelaku EP ini sebagai ibu kandung yang menjual bayi yang baru dilahirkan,” ucap Kasat Reskrim Polrest Yogyakarta AKP Riko Sanjaya kepada wartawan, Selasa (7/7).
Dijelaskan Riko, pengungkapan kasus ini berawal saat pelaku SB menawarkan adopsi bayi melalui media sosial. Secara tidak sengaja, RA (30) warga Yogya yang melihat postingan itu tertarik untuk mengadopsi bayi laki-laki tersebut. Dia kemudian menghubungi SB dan menyatakan maksud mengadopsi.

Keduanya lantas sepakat bertemu di sekitar Rumah Sakit Permata Yogya. Saat di lokasi keduanya justru terjadi cekcok. Penyebabnya, SB meminta RA untuk membayar Rp 20 juta sebagai ongkos adopsi. RA menolak lantaran dia tahu jika syarat adopsi tak perlu membayar biaya sebesar itu. Cekcok dua wanita itu menjadi perhatian warga.
“Warga yang melihat kemudian melapor ke Polisi,” ujar Riko. Aparat Polresta Yogya sigap merespons laporan warga. Saat itu juga polisi mengamankan SB dan RA. Saat diintrogasi itulah diketahui ternyata bayi yang mereka ributkan bukan milik keduanya. “RA ini mau adopsi tapi diminta membayar,” ucapnya.
Polisi lantas menginterogasi keduanya. Kepada petugas, SB mengakui mendapatkan bayi tersebut setelah mencari di postingan media sosial. Saat menjelajah dunia maya, SB melihat postingan EP yang menawarkan seorang bayi laki-laki yang mau mengadopsi. EP menawarkan bayi yang baru dilahirkannya agar diadopsi orang lain dengan membayar sejumlah uang.

“Keduanya lantas berkomunikasi dan sepakat untuk ketemu di Cilacap. Namun untuk bisa mengambil bayi itu EP meminta uang Rp 6 juta, permintaan itu langsung disanggupi SB,” kata AKP Riko.
SB lantas membawa bayi itu dan menyerahkan pada sang bidan, JE. Kemudian bayi itu dijual keduanya di media sosial.
“Postingan SB ini dilihat RA dan tertarik untuk adopsi. Keduanya lalu bertemu di Jalan Kusumanegara, saat itu RA pinjam bayi untuk difoto dan ditunjukkan pada orangtuanya,” beber AKP Riko.
Menurut Riko, RA belum punya anak sehingga ingin adopsi. Namun, ia tidak mau membayar biaya adopsi. “Saat ini status RA sebatas saksi,” tandasnya.
Usai mengamankan SB, polisi bergerak cepat meringkus JE dan EP. Dikatakan Riko, JE yang membiayai sindikat ini memiliki sebuh klinik persalinan di Kota Yogya.

Sementara itu EP kepada polisi mengatakan dia berstatus janda. Pelaku mengakui nekat menjual anak yang baru dilahirkannya tersebut karena sudah tidak mampu untuk merawatnya. Pasalnya bayi tersebut didapat dari hasil hubungan gelap bersama kekasihnya.
“EP sudah tidak bisa merawat bayi itu, sehingga ia mencari orang yang mau mengadopsi, diiklankan melalui media sosial,” ucapnya.
Atas perbuatannya, para pelaku dijerat dengan pasal 76 F Jo Pasal 83 UU tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman maksimal 16 tahun kurungan penjara. (Shn)

Read previous post:
PASIEN CORONA DI DIY TAMBAH 7-Penularan Lokal Kembali Dominasi Kasus Positif

Close