PRO KONTRA PENERAPAN NEW NORMAL LIFE DI YOGYA-“Kita tak Bisa Terus Menerus Seperti Ini”

YOGYA (MERAPI)-Rencana penerapan ‘New Normal Life’ oleh pemerintah dalam beberapa pekan mendatang, menimbulkan berbagai respons dari masyarakat, khususnya di Yogya. Di satu sisi sebagian masyarakat sepakat karena roda ekonomi bisa kembali berputar, namun di sisi lain ada yang meminta pemerintah untuk mempertimbangkan ulang dampak rencana tersebut.
Seperti yang diungkapkan Priyantoko (55) warga asal Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman yang setuju dengan rencana ‘New Normal’. Meskipun virus Covid-19 masih ada di sekitar masyarakat, namun dia menilai aktivitas normal harus tetap bisa dilakukan.

“Kita memang harus hidup berdampingan dengan virus. Karena berbagai pakar kesehatan pun mengungkapkan jika virus itu tidak bisa hilang. Kita juga tidak bisa terus menerus dalam kondisi seperti ini, kita harus mulai bergerak lagi,” ungkapnya saat ditemui Merapi, Senin (1/6).
Yanto menyebut dampak pandemi virus Corona sangat luar biasa dan mengena semua orang. Mulai dari melemahnya ekonomi yang menyebabkan banyaknya buruh dan pekerja dirumahkan, hingga sepinya aktivitas jalanan yang biasanya ramai hilir mudik kendaraan. “Kita semua tahu, virus ini membuat semua orang bahkan pemilik angkringan sebagai pelaku ekonomi kecil saja sampai menutup warungnya. Bisa jadi kalau kondisi ini tidak berubah, para pemilik usaha ini gulung tikar. Apalagi Negara, bisa juga gulung tikar kalau tidak ada langkah melawan virus dengan baik dan benar,” jelasnya.

Namun bukan tanpa kritik, Yanto juga meminta pemerintah dalam menerapkan ‘New Normal’ harus dengan sungguh-sungguh. Seperti penerapan aturan jaga jarak, cuci tangan, dan memakai masker. “Jaga jarak, cuci tangan dan memakai masker itu harus diterapkan dengan serius. Bahkan lebih serius dari pada saat ini yang cenderung masih setengah-setengah,” terangnya.
Senada dengan Yanto, warga lain, Bambang asal Bumijo, Kecamatan Jetis, Yogyakarta juga mengamini rencana pemerintah tersebut. Sebagai seorang tokoh agama, dia merasa prihatin berbagai kegiatan keagamaan di kampungnya banyak yang diliburkan sementara sampai batas waktu yang belum bisa dipastikan. “Tak hanya soal ekonomi saja sebenarnya. Kegiatan keagamaan massal juga banyak yang dikurangi. Kegiatan paling kecil di tingkat lingkungan sini saja seperti mengaji sama TPA itu sudah diliburkan,” tandasnya.

Tak hanya meliburkan kegiatan keagaamaan, ia merasa miris dengan sepinya sejumlah tempat ibadah. Meskipun ia tidak bisa berbuat banyak, Bambang berharap kondisi yang terjadi saat ini segera usai. “Ya sedih melihat tempat-tempat ibadah itu sepi. Tempat ibadah pun dibatasi dengan jarak, sehingga yang datang itu sedikit. Tapi kita sebagai manusia hanya bisa berusaha untuk selalu menerapkan semua aturan yang dibuat, dan berharap semua masalah ini selesai,” harapnya.
Berbeda dengan Yanto dan Bambang, Aris Wiganto salah satu pemuda asal Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul melihat pemerintah masih terlalu dini untuk menerapkan ‘New Normal’.
Aris kemudian mengkritisi kebijakan yang masih tumpang tindih antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten. Banyak aturan maupun protokol yang diterapkan dengan berbeda-beda sehingga menjadi tidak efektif meredam virus asal Wuhan, Cina tersebut.

“Kabupaten sini nerapin aturan ini, yang Provinsi sana nerapin aturan itu, tak ada satu alur yang jelas,” katanya. Terkait ‘New Normal’, Aris meminta pemerintah fokus pada penanganan penyebaran virus corona secara menyeluruh. “Kalau memang serius, stop dulu bicarakan ‘New Normal’. Fokus pada penanganan dan pencegahan penyebaran virus,” tutupnya.
Seperti diketahui, pemerintah menyatakan sejumlah daerah bisa menerapkan kebijakan New Normal Life dengan berbagai syarat termasuk laju virus corona yang terkendali atau tak ada sama sekali. Dalam New Normal Life, senumlah kegiatan bisnis berpotensi kembali dibuka termasuk rumah ibadah dan sekolah. Namun harus dengan protokol kesehatan ketat.

Sebelumnya, Magister dan Doktor Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan (MDKIK) UGM melakukan survei soal persepsi masyarakat DIY terkait pencegahan penularan covid-19. Hasilnya, sebanyak 60 persen responden setuju dengan penerapan New Normal Life di DIY. Sementara itu Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyatakan penerapan New Normal tak bisa tergesa-gesa mengingat masih ada penambahan kasus positif corona.(C-8)

Read previous post:
Orangtua Emoh Tanggungjawab, Bayi Dilempar Ke Sungai

Close