TERBUKTI TERIMA SUAP RP 221 JUTA PROYEK SAH -Jaksa Eka Divonis 4 Tahun, Satriawan 1,5 Tahun

Majelis hakim saat membacakan vonis secara bergantian terhadap dua jaksa yang telah menerima suap proyek SAH Soepomo. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)
Majelis hakim saat membacakan vonis secara bergantian terhadap dua jaksa yang telah menerima suap proyek SAH Soepomo. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)

 

YOGYA (MERAPI) – Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) diketuai Asep Permana SH MH menjatuhkan vonis terhadap jaksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Yogyakarta, Eka Safitra selama 4 tahun penjara dikurangi masa tahanan dan denda sebesar Rp 100 juta subsider 3 bulan kurungan dalam sidang yang digelar secara teleconference di Pengadilan Tipikor Yogya, Rabu (20/5). Vonis yang dijatuhkan lebih ringan dari tuntutan jaksa KPK Wawan Yunarwanto SH yang menuntut 6 tahun penjara dengan denda Rp 300 juta subsider 5 bulan kurungan.

Sementara dalam sidang terpisah, jaksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Surakarta, Satriawan Sulaksono divonis 1 tahun 6 bulan penjara serta denda Rp 50 juta subsider 1 bulan kurungan. Vonis ini jauh lebih rendah dari tuntutan sebelumnya yakni 4 tahun dengan denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan.
Hakim menyatakan para terdakwa terbukti bersalah dan meyakinkan telah menerima suap sebesar Rp 221 juta dari Direktur PT Manira Arta Mandiri, Gabriela Yuan Anna (terpidana berkas terpisah) untuk melancarkan kemenangan PT Widoro Kandang pada lelang proyek rehabilitasi saluran air hujan (SAH) di Jalan Dr Supomo Yogyakarta pada Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta Tahun Anggaran 2019.

Hal-hal meringankan hukuman, terdakwa bersikap sopan, berterus terang selama jalannya persidangan. Selain itu kedua terdakwa belum pernah dihukum, memiliki tanggungan keluarga dan menyesali perbuatannya.
Dalam perkara ini kedua terdakwa telah melanggar pasal 11 UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP sebagaimana dakwaan alternatif kedua dari dakwaan di jaksa penuntut umum.

Atas vonis majelis hakim, kedua terdakwa menyatakan pikir-pikir. Sementara jaksa penuntut umum menyatakan banding atas putusan tersebut.
Alasan penuntut umum melakukan banding karena putusan hakim tergolong ringan. Bahkan untuk terdakwa Satriawan hukuman kurang dari dua pertiga tuntutan jaksa. Selain itu pasal yang dibuktikan hakim berbeda dengan pasal yang dibuktikan penuntut umum baik dalam dakwaan maupun tuntutan. Sebelumnya penuntut umum membuktikan para terdakwa melanggar pasal 12 tetapi dalam putusannya majelis hakim justru membuktikan pasal 11 UU No 31 Tahun 1999.

Dalam amar putusan majelis hakim terungkap, dalam perkara ini kedua terdakwa Jaksa fungsional sekaligus dari anggota Tim TP4D Kejaksaan Negeri Yogyakarta, Eka Safitra dan jaksa Kejaksaan Negeri Surakarta Satriawan Sulaksono bersalah karena menerima suap terkait lelang proyek SAH Soepomo. Kedua terdakwa sebagai penyelenggara negara tidak mendukung program pemerintah dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. Keduanya justru menerima suap berupa hadiah atau janji dari pengusaha atau kontraktor yang seharusnya dihindari. (C-5)

 

Read previous post:
Membangun Rumah di Tanah Angker

SETELAH menikah Arya memutuskan untuk membangun rumah di tanah warisan orang tuanya. Tanah itu terletak di sudut desa dan terkenal

Close