2 Bulan, 200 Kasus Positif Corona di Yogya

YOGYA (MERAPI)-Tepat dua bulan sejak pertama dilaporkannya pasien pertama Covid-19 di Yogya, kasus positif corona menembus angka 200 pasien. Pada Senin (18/5), dilaporkan penambahan 1 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Yogyakarta, sehingga jumlah kasus positif tepat menyentuh angka 200 kasus. Dari jumlah itu, sebanyak 90 orang dinyatakan sembuh dan 8 orang lainnya meninggal.
Juru Bicara Pemda DIY Untuk Penanganan Covid-19, Berty Murtiningsih mengatakan, pasien ke-200 itu tak ada riwawat dengan sejumlah klaster besar yang belakangan berkembang, termasuk klaster Indogrosir. Dia hanya diketahui baru saja bepergian ke Wonosari. “Pasien ke-200 seorang perempuan berusia 30 tahun warga Sleman dengan riwayat ke Wonosari, kontak dengan tamu dari Jakarta,” ujar Berty Murtiningsih.

Di sisi lain, dilaporkan lima orang dinyatakan sembuh dari Covid-19, terdiri dari seorang perempuan berusia 48 tahun warga Gunungkidul, seorang laki-laki berusia 14 tahun warga Sleman, seorang laki-laki berusia 44 tahun warga Kota Yogyakarta, dan dua orang perempuan warga Kota Yogyakarta berusia 54 dan 63 tahun.
Selain itu dilaporkan dua orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) meninggal dan sudah diambil swab. Terdiri dari seorang perempuan berusia 65 tahun warga Bantul dengan penyakit penyerta jantung dan seorang perempuan berusia 54 tahun warga Sleman dengan penyakit penyerta gagal ginjal
Untuk saat ini, tambah Berty, akumulasi jumlah PDP sebanyak 1.306 orang, 176 orang di antaranya masih dalam perawatan. Jumlah Orang Dalam Pengawasan (ODP) sebanyak 5.992 orang. Hasil laboratorium menunjukkan negatif sebanyak 926 orang, 180 orang masih dalam proses laboratorium, 23 orang lainnya meninggal.

Pasien ke-200 ini menandakan tepat dua bulan corona masuk wilayah Yogya. Pada 15 Maret 2020 lalu, Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengumumkan ada 1 warga Yogyakarta positif virus corona (Covid-19). Satu pasien tersebut seorang anak balita berusia 3 tahun. “Ya betul, satu masih anak-anak (yang positif virus Corona),” ujar Sultan usai rapat tertutup dengan para Bupati, Walikota dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemda DIY, Minggu (15/3) lalu. Anak yang positif terinfeksi Corona itu adalah pasien kasus Nomor 49 yang diumumkan oleh Pemerintah pusat. Masuk ke RSUP dr Sardjito pada Senin (9/3) yang sebelumnya diketahui melakukan perjalanan ke Depok, Jawa Barat bersama dengan orangtuanya.
Dua bulan berjalan, muncul beberapa klaster penyebaran corona di Yogya dan bahkan hingga mencapai generasi ketiga. Yakni Klaster Jemaah Tablig Sleman, Klaster GPIB Kota Yogyakarta, Klaster Jemaah Gunungkidul, dan Klaster Indogrosir.

Menanggapi penyebaran kasus corona di DIY, Pemkab Kulonprogo akan menggelar rapid test massal selektif selama dua hari, Selasa-Rabu (19-20/5). Rapid test massal dengan kapasitas 500 peserta ini akan menyasar pedagang dan pengunjung pasar serta swalayan besar di Kulonprogo.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kulonprogo, dr Baning Rahayu Jati menyampaikan, rapid test massal selektif akan menyasar pedagang dan pengunjung tiga pasar tradisional di Kulonprogo yakni Pasar Wates, Pasar Bendungan dan Pasar Sentolo. Selain itu, karyawan dan pengunjung empat swalayan besar di wilayah Kapanewon Wates dan Pengasih juga akan disasar sebagai peserta.
“Kapasitasnya 500 orang dengan pelaksanaan tes selama dua hari,” katanya, Senin (18/5).
Menurut dr Baning, lokasi rapid test meliputi Puskesmas Wates, Puskesmas Sentolo 2, Puskesmas Pengasih 1, Labkesda dan Pasar Wates. Pemilihan orang yang disasar rapid test massal dilakukan secara sampling, diseleksi yang kontaknya di pasar atau swalayan banyak.

“Rapid test akan diulang pada 2-3 Juni, setelah hari ke-10,” jelasnya.
Meski demikian, dr Baning menegaskan belum ada indikasi penularan Covid-19 di pasar tradisional dan swalayan besar di Kulonprogo. Pelaksanaan rapid test massal didorong adanya klaster pasar dan swalayan di sejumlah daerah sehingga di Kulonprogo, hal itu dilakukan sebagai upaya antisipasi.
Di sisi lain, dr Baning menyebut hingga kini tidak ada penambahan kasus positif Covid-19 di Kulonprogo. Penambahan meliputi satu kasus PDP yang berasal dari luar Kulonprogo.
Salah satu pengunjung swalayan besar di Wates, Nurul menyampaikan, dirinya menyambut baik rencana pelaksanaan rapid test massal oleh pemerintah. Hal itu mengingat biaya rapid test secara mandiri terbilang mahal.
“Saya cek di rumah sakit Yogya biayanya sekitar Rp 500.000. Sebenarnya saya berharap bisa menjadi peserta rapid test massal ini, tapi kan pemerintah yang menentukan,” ucapnya.(C-4/Unt)

Read previous post:
Saya (Terpaksa) Khutbah Id dari Rumah di Akun Fesbuk: iipwijayanto

BEBERAPA hari ini, saya berdiskusi intensif via WA dengan panitia hari besar Islam yang sejak Februari 2020 sudah meminta kesanggupan

Close