Warga Sulit Disiplin, Sultan Isyaratkan PSBB

YOGYA (MERAPI)- Lonjakan jumlah kasus positif Covid-19 di Yogyakarta dalam beberapa hari membuat Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mulai mengisyaratkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Yogyakarta dengan beberapa catatan. Hal yang dipertimbangkan di antaranya tumbuhnya klaster penyebaran baru serta belum sepenuhnya warga menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker dan tak berkerumun.
Hingga saat ini kasus positif Covid-19 menyentuh angka 188 kasus. Peningkatan kasus positif seiring dengan pertumbuhan penyebaran klaster, yakni Klaster Jemaah Tablig Sleman, Klaster GPIB Kota Yogyakarta, Klaster Jemaah Gunungkidul, dan Klaster Indogrosir.
“Kalau memang nanti dengan klaster-klaster itu positifnya dominan, mungkin juga kami lakukan PSBB. Biar kita menertibkan mereka yang tidak disiplin itu,” ujar Sultan kepada wartawan di Gedong Wilis Kompleks Kepatihan Yogya, Jumat (15/5).

Menurut Sultan, upaya menertibkan dan mendisiplinkan warga untuk tidak berkerumun dan menahan diri keluar rumah bila tidak ada kepentingan mendesak sangat sulit diterapkan.
“Tidak berkerumun dan sebagainya. Kita sama-sama untuk menahan diri tidak keluar rumah kalau tak penting. Itu kok sepertinya ngrekoso (susah sekali),” ungkapnya.
Sejauh ini, tambahnya, Pemda DIY masih mengupayakan beberapa langkah mencegah penyebaran corona. Di antaranya tracing massal, pengajuan laboratorium baru, dan masih mengkampanyekan agar masyarakat mematuhi protokol Covid-19 dengan menjaga jarak, membudayakan hidup bersih dan sehat.
“Masih campaign (kampanye) ya. Kami berharap masyarakat itu mau mendisiplinkan diri. Sebetulnya kita PSBB atau tidak, kalau mereka (warga) patuh dan disiplin mengendalikan diri tinggal di rumah, ya sepertinya selesai kok masalahnya,” jelas Sultan.

Sementara itu, dilaporkan adanya penambahan 3 kasus positif Covid-19 di Yogyakarta pada Jumat (15/4). Sehingga akumulasi kasus positif menjadi 188 orang, 71 orang di antaranya sembuh dan 7 orang lainnya meninggal.
Juru bicara penanganan Covid-19 Pemda DIY Berty Murtiningsih mengatakan, pasien positif terdiri dari dua orang karyawan indogrosir, yakni seorang laki-laki berusia 27 tahun warga Kulonprogo dan seorang perempuan usia 29 tahun warga Sleman. Kemudian seorang kasus positif lainnya adalah seorang laki-laki berusia 31 tahun warga Kulonprogo dengan riwayat kluster Jamaah Tabligh.
“Di sisi lain dilaporkan tiga orang dinyatakan sembuh. Ketiga orang itu yakni laki-laki warga Kulonprogo berusia 23, 31, dan 42 tahun,” ujarnya.

Adapun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dilaporkan meninggal dunia belum diambil swab terdiri dari seorang laki-laki berusia 45 tahun warga Kulonprogo dan seorang bayi perempuan usia 8 bulan warga Sleman. Seorang PDP yang meninggal lainnya belum diswab, seorang perempuan berusia 62 tahun warga Sleman.
Selain itu, tercatat akumulasi PDP hingga saat ini sebanyak 1.240 orang, 195 orang lainnya masih dalam perawatan. Akumulasi Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 5.867 orang. Hasil laboratorium menunjukkan hasil positif sebanyak 188 orang. Adapun hasil negatif laboratorium sebanyak 874 orang, 178 orang masih dalam proses, 21 orang lainnya meninggal.
Secara terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kulonprogo Baning Rahayujati juga membenarkan tiga pasien positif COVID-19 yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Wates dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang pada Jumat (15/5).

Dia mengatakan, tiga pasien positif COVID-19 yang dinyatakan sembuh, yakni ABK yang pulang dari Norwegia, dirawat sejak 3 April 2020, seorang anggota klaster Gowa, dirawat sejak 29 April 2020 dan santri dari klaster Magetan yang dirawat sejak 29 April 2020.
“Hari ini saya berbaik hati memberikan kabar gembira yaitu tiga kasus positif kita sudah sembuh,” kata Baning kemarin.
Namun demikian, lanjut Baning, di Kulonprogo ada tambahkan jumlah pasien positif COVID-19 sebanyak dua orang. Dua orang ini adalah laki-laki anggota Jamaah Tabligh Jakarta warga Sentolo dan laki-laki dari klaster Indogrosir yang merupakan warga Sentolo.
“Hasil swab positif merupakan dua Pasien Dalam Pengawasan yang dirawat di RSUD Wates. Sampai hari ini, RSUD Wates masih merawat enam pasien positif COVID-19,” katanya.

Selain itu, ada penambahan satu kasus PDP di RSUD Nyi Ageng Serang, yakni seorang perempuan di Kecamatan Sentolo dan riwayat kontak dalam penyelidikan.
Kemudian ada laporan kematian satu kasus PDP dari RS Ghrasia Sleman yakni seorang laki-laki di Kecamatan Sentolo. “Dirujuk tadi pagi oleh Puskesmas Sentolo karena mengalami sesak napas. Jenazah dimakamkan sore ini oleh tim BPBD DIY,” katanya.(C-4)

Read previous post:
Nakes Positif Corona, Puskesmas Kasihan 2 Tutup 2 Hari

BANTUL (MERAPI)- Puskesmas Kasihan 2 tutup selama dua hari, yakni Jumat-Sabtu (15-16/5). Hal ini dilakukan Dinas Kesehatan Bantul menyusul ditemukannya

Close