DI DIY TAMBAH 9 PASIEN-Positif Corona Tanpa Kontak dan Riwayat Perjalanan Zona Merah

YOGYA (MERAPI)-Pasien positif corona di Yogya dilaporkan bertambah sebanyak 9 kasus pada Jumat (1/5). Sehingga total pasien positif saat ini sebanyak 104 orang, 44 orang di antaranya sembuh dan 7 orang lainnya meninggal. Dari 9 pasien baru itu, petugas menelusuri dua pasien yang tanpa riwayat bepergian maupun kontak.
Juru Bicara Pemda DIY untuk penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih kepada wartawan kemarin mengatakan, dari penambahaan kasus baru itu, rinciannya di antaranya 2 orang pekerja migran dari Luar Negeri yang terinfeksi, kemudian 1 orang santri terinfeksi sepulang dari Pesantren Temboko, Magetan, 1 orang sepulang dari Tabligh Akbar di Gowa, 3 orang pernah berhubungan dengan pasien positif sebelumnya, dan 2 orang lainnya dalam proses penelusuran.
Dua orang pekerja yang berasal dari luar negeri adalah laki-laki berusia 32 tahun yang baru pulang dari Dubai, Uni Emirat Arab dan lelaki 36 tahun yang baru pulang dari Amerika Serikat.

“Setiap pekerja migran Indonesia yang datang maka oleh Dinkes Kabupaten atau Kota dilakukan rapid test, bila rapid positif, maka diisolasi di RS dan diambil swab,” jelasnya.
Selain itu, kata dia, seorang laki-laki berusia 13 tahun warga Kulonprogo dinyatakan positif sepulang dari pesantren Temboko dan seorang laki-laki berusia 43 tahun warga Bantul terinfeksi usai mengikuti tabligh akbar di Gowa, Sulawesi Selatan.
Adapun 3 kasus positif lain yakni pasien yang pernah berhubungan dengan pasien positif terdiri dari perempuan berusia 59 tahun dan 50 tahun warga Bantul, serta seorang perempuan berusia 67 tahun warga Sleman. “Satu orang lainnya seorang laki-laki berusia 79 tahun warga Sleman diketahui tidak ada riwayat bepergian di zona merah dan saat ini sedang dilakukan tracing,” jelasnya.

Selain itu, dilaporkan 1 orang positif Covid-19 yang dinyatakan sembuh, yakni seorang perempuan berusia 50 tahun warga Sleman.
Hingga saat ini tercatat Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 869 orang, 134 orang di antaranya masih dalam perawatan. Adapun jumlah Orang Dalam Pengawasan (ODP) sebanyak 4.814 orang. Hasil laboratorium negatif sebanyak 685 orang, dan masih dalam proses laboratorium 80 orang, 4 orang lainnya meninggal.
Dari sekian banyak kasus positif corona di Yogya, dilaporkan muncul 3 klaster besar persebaran Covid-19 di Yogyakarta. Masing-masing klaster terkait dengan kegiatan keagamaan. Bahkan klaster Sleman sudah memasuki generasi ketiga sedangkan klaster di Gunungkidul sudah mencapai penularan generasi kelima.

Hal ini diungkapkan Koordinator Tim Respons Covid-19 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dr Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D, Jumat (1/5) dalam jumpa pers di kantor BPBD DIY.
“Masing-masing klaster terkait dengan kegiatan keagamaan yakni 2 klaster terkait dengan jamaah tabligh dan 1 klaster terkait dengan kegiatan di gereja,” tandasnya.
Riris menjelaskan 2 klaster berasal dari kegiatan tabligh di Jakarta yang terbawa ke Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Sleman. Sedangkan klaster ketiga berasal dari kegiatan pertemuan gereja di Bogor yang kemudian ada 3 anggota yang menjadi perwakilan dan selanjutnya terjadi persebaran.
“Pada Klaster pertama Gunungkidul terdiri dari 18 kasus, 6 orang terkonfirmasi dan lainnya positif terhadap rapid tes, dan 1 PDP sebelum dites sudah meninggal dunia,” jelasnya.

Dikatakan lebih lanjut, kasus bermula ketika seorang jemaat pulang dari Jakarta dan menularkan pada Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang memiliki jejaring cukup banyak sehingga menular pada banyak kasus.
Kemudian pada klaster Sleman, ada 24 kasus, sebagian besar adalah kasus terkonfirmasi. Sedangkan pada klaster ketiga ada 17 kasus dengan 2 terkonfimasi dan 3 PDP selebihnya positif terhadap rapid tes.
Adanya peningkatakan persebaran dengan adanya 3 klaster besar, Riris kembali mengingatkan bahaya adanya kerumunan massa.
“Oleh karena itu kami mengimbau kepada masyarakat Yogya agar tetap menghindari kegiatan yang menimbulkan kerumunan,” imbaunya.
Sementara Wakil Ketua Sekretariat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 DIY, Biworo Yuswantono mengatakan, timbulnya klaster besar di Yogyakarta ditanggapi oleh Ketua Gugus tugas dengan membuat surat edaran terkait peningkatan persebaran di Kabupaten Sleman, Gunungkidul, dan Bantul.

“Diharapkan bisa melajukan pemeriksaan secara massal sehingga bisa dipetakan penyebaran infeksi maupun transimisi. Kita bicara data dulu untuk kemudian dibahas lebih lanjut,” tandasnya.
Sementara itu, kasus Covid-19 di Kulonprogo bertambah satu orang. Warga Lendah yang memiliki riwayat perjalanan dari Magetan Jawa Timur dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil tes swab.
Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kulonprogo, dr Baning Rahayu Jati menyampaikan, satu orang positif Covid-19 warga Lendah ini sudah dirawat intensif di RSUD Wates. Ia merupakan salah satu dari 11 pemudik asal Magetan.
“11 orang ini sudah dilakukan rapid test dengan hasil dua reaktif dan langsung dirujuk ke RSUD Wates. Satu di antaranya hasil swab positif, kemudian satu lainnya dari Sentolo berstatus PDP dan masih menunggu hasil tes swab,” kata dr Baning, Jumat (1/5).

Kemudian sembilan pemudik dari Magetan lainnya, lanjut dr Baning, hasil rapid test pertama non reaktif dan akan dilakukan test rapid kedua 10 hari kemudian. Mereka tersebar di Kalibawang 1 orang, Lendah 2 orang, Wates 2 orang, Temon 1 orang, Pengasih 1 orang, Galur 1 orang dan Sentolo 1 orang. Kesembilan orang ini diminta isolasi mandiri di rumah masing-masing.
Terkait tindak lanjut dari adanya kasus positif baru, Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo melakukan pemantauan ketat terhadap pelaksanaan isolasi di rumah. Selain itu, juga dilakukan penyelidikan epidemiologi atau tracking terhadap kegiatan kasus dalam 14 hari terakhir.
“Besok pagi mulai dilakukan rapid test kepada yang kontak erat. Masyarakat yang merasa kontak erat dengan kasus dan belum didatangi Puskesmas agar melapor untuk dikaji apakah termasuk kontak erat atau bukan,” tegas dr Baning.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan juga melakukan tracking kepada jamaah Itjima Gowa yang berasal dari Kulonprogo. Sedikitnya, enam orang telah diperiksa rapid test dengan hasil tiga reaktif yakni dari Kalibawang, Sentolo dan Kokap. Ketiganya telah dirujuk ke RSUS Wates sebari menunggu hasil tes swab.
“Tiga orang lainnya berasal dari Kalibawang 2 orang dan Sentolo 1 orang hasil rapid test pertama non reaktif sehingga akan dilakukan rapid test kedua 10 hari kemudian. Mereka sudah melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing,” jelasnya.(C-4/Unt)

Read previous post:
Bansos Semasa Wabah Covid-19 Pemkab Sleman Pastikan Tepat Sasaran

SLEMAN (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten Sleman mengecek kembali data keluarga penerima manfaat bantuan sosial (bansos), dalam upaya memastikan penyaluran bantuan

Close