Pernikahan Tebu, Menjaga Tradisi di Tengah Pandemi

Iring-iringan tebu pengantin di PG Tasikmadu (Foto:Abdul Alim)
Iring-iringan tebu pengantin di PG Tasikmadu (Foto:Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI)- Suasana sakral pernikahan tebu di Pabrik Gula (PG) Tasikmadu tetap dirasakan meski kemeriahan yang menyertainya ditiadakan akibat wabah virus corona, Jumat (18/4). Sosok mempelai laki-laki dan perempuan yang melambangkan tebu terbaik tak terlihat. Sebagai gantinya, boneka pengantin berpakaian adat jawa dipasang di tebu Bagus Aji dan Roro Lestari.
“Berdasarkan petunjuk dari pak bupati, ritual pengantin tebu tetap berlangsung. Itu tradisi sudah turun temurun. Namun jangan mengundang massa. Tetap terapkan social distancing dan physical distancing. Lakukan protokoler kesehatan,” kata Ketua Panitia Selamatan Giling Tebu PG Tasikmadu 2020 Bambang Sugiyanto.

Bagus Aji dan Roro Lestari merupakan tebu terbaik yang tumbuh dari ladang berlainan. Keduanya berusia sembilan bulan dan mandiri. Bambang mengatakan, tumbuh mandiri artinya tubuhnya tanpa mata tunas yang menyabang.
“Bagus Aji diambil dari Kebun Gesikan, Klaten. Sedangkan Roro Lestari dari Kebun Suruh, Tasikmadu,” katanya.

Tak ada iring-iringan pengantin tebu yang biasanya disertai reog dan orkes musik tradisional. Warga bahkan nihil meramaikan agenda tahunan itu. Manajemen PG Tasikmadu menutup rapat pintu gerbangnya untuk mencegah warga masuk meski sekadar melihat. Dua mempelai tebu, masing-masing dibawa seorang punggawa. Keduanya diikuti puluhan tebu lainnya memasuki pabrik, usai diturunkan dari truk. Para punggawa berbaris rapi menjaga jarak sambil mengenakan masker wajah.
“Tempat cuci tangan tersedia di pintu masuk. Kami juga mengenakan masker. Tak ada pejabat daerah diundang. Hanya internal manajemen PG saja yang dilibatkan. Kami juga tidak menyediakan santapan. Usai prosesi selesai, diharapkan bisa segera meninggalkan lokasi,” katanya.

Dua tebu mempelai digiling paling awal. Saat batangnya memasuki mesin pelumat, para karyawan dan manajer PG Tasikmadu memanjatkan doa agar produksi gula tahun ini melimpah, berkualitas dan memberi kesejahteraan bagi semuanya.
Manajer PG Tasikmadu PT Perkebunan Nusantara IX, Agung Bhaktitomo mengatakan tradisi temanten tebu berlangsung sejak zaman kolonial Belanda. Pabrik peninggalan KGPAA Mangkoenegoro IV itu tak hanya tempat memproduksi gula, namun memiliki nilai kearifan lokal serta penjaga tradisi.
“Maka dari itu kita berkonsultasi ke pemerintah, apakah masih diperbolehkan (selamatan giling tebu). Meski diperbolehkan, namun banyak hal ditiadakan seperti pasar malam cembengan, reog, pagelaran wayang kulit dan ssbagainya. Terlebih, menjaga agar masyarakat tidak ikut meramaikan. Ini hanya internal pabrik saja,” katanya.

Pada musim ini, PG Tasikmadu menggiling 180.387,10 ton tebu dari luasan ladang 2.769,49 hektare. Kemitraan PG dengan petani di wilayah Karanganyar, Sragen bagian utara, Wonogiri dan Sukoharjo. Produksi kali ini ditarget menghasilkan gula kristal seberat 13.276,84 ton. (Lim)

Read previous post:
Antisipasi Iklim 2020, Kementan Susun Strategi Ketahanan Pangan

Close