Lempari Ambulans Pasien Corona, Warga Banyumas Jadi Tersangka

BANYUMAS (MERAPI)- Setelah melalui pemeriksaan sejumlah saksi, aparat Polresta Banyumas akhirnya menetapkan tiga tersangka dalam kasus penolakan pemakaman jenazah pasien virus corona (Covid-19), Rabu (15/4). Ketiga tersangka itu, diduga telah memprovokasi warga untuk melakukan penolakan pemakaman jenazah yang terpapar Covid-19 beberapa waktu lalu. Bahkan, mereka nekat mengumpulkan massa untuk menyerang ambulans yang membawa jenazah.
Kapolresta Banyumas Kombes Pol Whisnu Caraka kepada wartawan kemarin menjelaskan, dari hasil keterangan saksi-saksi dan hasil gelar perkara, ada tiga orang statusnya dinaikan jadi tersangka. “Dua tersangka warga Desa Gelempang, Kecamatan Pekuncen dan satu orang warga Desa Kedungwringin, Kecamatan Patikraja,” kata Kombes Pol Whisnu Caraka SIk di Mapolresta Banyumas.

Whisnu menambahkan, dari keterangan saksi-saksi, mereka memang terindikasi memprovokasi warga. Bahkan dua orang warga Glempang yang dijadikan tersangka malah mencoba menghalangi pemakaman dengan cara melempari mobil ambulans dengan batu.
Kemudian untuk tersangka warga Desa Kedungwringin, memprovokasi masyarkat untuk melakukan penolakan. Setelah menetapkan tiga tersangka, kata dia, tidak menutup kemungkinan masih ada penambahan tersangka. Penyidikan kasus tersebut terus dilakukan setelah polisi menerima dua laporan dari masyarakat, yakni satu merupakan pengaduan dan satu langsung laporan polisi. β€œItu laporan dari element masyarakat Banyumas,” ungkapnya.
Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, ketiganya saat ini belum dilakukan penahanan. Mereka hanya baru dimintai wajib melapor dan menunggu proses selanjutnya.

Kasat Reskrim Polresta Banyumas, AKP Berry menambahkan, tiga orang yang dijadikan tersangka yakni K (57) warga Desa Kedungwringin, Kecamatan Patikraja dan dua orang berinisial Ks (46) serta S (45) warga Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen.
Selanjutnya para tersangka dijerat pasal asal 212 dan 214 KUHP dan undang undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara. Seperti diketahui, kasus penolakan pemakaman jenazah pasien positif COVID-19 tersebut terjadi pada Selasa (31/3) sore di Desa Kedungwringin. Karena ada penolakan, selanjutnya dipindahkan ke Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen pada malam harinya.

Tetapi jenazah yang baru dimakamkam di Desa Tumiyang pada Selasa (31/3) malam, akhirnya dibongkar kembali pada Rabu (1/4) karena ada penolakan dari warga setempat dan desa tetangga, yakni Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok.
Pembongkaran makam tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Banyumas Achmad Husein dan selanjutnya dimakamkan ke desa lainnya.(Dyt)

Read previous post:
Bank BPD DIY Bima Perkasa Tak Potong Gaji Pemain

Close