Pandemi Corona Tetap Bisnis Narkoba

DEPOK (MERAPI)- Pandemi virus corona di Indonesia, termasuk Yogyakarta tidak membuat pelaku kejahatan menyurutkan aksinya. Buktinya, Ditresnarkoba Polda DIY mengamankan ES (34), seorang pengedar pil koplo yang masih saja berbisnis narkoba saat wabah corona menyerang. Dari tangan pelaku, polisi mengamankan 10 ribu butir pil koplo.
Warga Depok Sleman ini diamankan petugas setelah tertangkap tangan saat akan mengambil pesanan pil psikotropika di kantor jasa ekspedisi daerah Kwarasan, Nogotirto, Gamping, Sleman.
Selain pil koplo, polisi juga mengamankan handphone milik pelaku yang dipakai untuk transaksi dan beberapa lembar bukti transfer.
“Saat ini pelaku sudah ditahan di Mapolda DIY. Petugas masih melakukan pengembangan atas kasus ini,” ujar Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Yuliyanto kepada wartawan, Kamis (9/4).

Dijelaskan, kasus ini terungkap setelah ada laporan warga tentang maraknya peredaran pil koplo di daerah Depok, Sleman. Petugas lantas menindaklanjuti informasi itu dengan melakukan penyelidikan. Dari data yang masuk, banyak pil koplo dipasok oleh ES. Dia kemudian diburu ke berbagai tempat.
Kemudian pada akhir pekan lalu, polisi mengendus pelaku berada di sebuah kantor jasa ekspedisi untuk mengambil kiriman pil koplo. Info itu langsung ditindaklanjuti polisi dengan penangkapan.
“Pelaku ES ditangkap saat akan mengambil barang pesanannya,” kaya Kombes Yuliyanto.

Pelaku beserta barang bukti lantas digelandang ke Mapolda DIY. Dari pemeriksaan, kepada petugas ES mengaku mendapatkan pil psikotropika tersebut dengan cara memesan kepada seseorang melalui media sosial online.
Menurutnya, untuk 10 botol berisi 10.000 butir harganya Rp 9 juta atau per botolnya berisi 1000 butir harganya Rp 900 ribu. Namun baru dibayar Rp 6 juta, sisanya setelah barang itu terjual atau ada transaksi dengan bandar di atasnya.
“Ini bukan pertama kali pelaku memesan pil psikotropika, karena sebelumnya ia juga memesan kepada orang lain. Hanya saja harganya lebih mahal, yaitu 1 botol berisi 1000 butir harganya Rp 1,1 juta,” katanya.

Atas perbuatannya, ES dijerat dengan Pasal 62, UU No 5/1997 tentang Psikotropika dan Pasal 196 No 36 /2009 tentang Kesehatan. ES diancam hukuman maksimal 5 tahun penjara atau denda 100 juta (UU Psikotropika) dan Penjara maksimal 10 tahun (atau) denda satu miliar rupiah (UU Kesehatan).
Kombes Yulianto berharap dengan sanksi yang berat ini, tersangka tidak melakukan perbuatannya lagi. “Semoga dengan hukuman berat yang diberikan, pelaku kejahatan ini tidak mengulangi perbuatannya,” pungkasnya. (Shn)

Read previous post:
Pelatda NPC DIY Masih Dilakukan Mandiri

Close