Manajemen PSS Liburkan Tim Sampai Akhir Mei

SLEMAN (HARIAN MERAPI) – Manajemen PSS Sleman akhirnya mengambil keputusan untuk memperpanjang libur pemain hingga akhir Mei 2020. Keputusan ini diambil manajemen dalam pertemuan virtual, Rabu (1/4). Manajer PSS, Danilo Fernando, menegaskan baru itu keputusan yang bisa disampaikan. Sedangkan untuk besaran pemotongan gaji pemain belum ada keputusan sama sekali.

 

“Setelah mempertimbangkan surat dari PSSI, kami liburkan pemain sampai akhir Mei. Dua bulan mungkin baru berkumpul lagi. Kami berharap situasi makin baik, untuk gaji belum ada keputusan,” kata Danilo, Rabu (1/4) petang.

 

Sebelumnya manajemen meliburkan pemain hingga akhir Maret kemudian memperpanjang waktu sampai batas waktu yang belum ditentukan. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal, manajemen memutuskan memberi batas waktu libur pada para pemain dan tim pelatih. Banyaknya jurnal penelitian dari sejumlah Universitas dalam dan luar negeri baru-baru ini memprediksi Covid-19 di Indonesia akan menurun di akhir April atau Mei 2020.

 

Asisten Manajer PSS, M Eksan, menambahkan bahwa manajemen saat ini memang tengah mempelajari semua kemungkinan di tengah pandemi. “Sambil kita ikuti langkah pemerintah,” katanya.

 

Adanya keputusan ini cukup melegakan para pemain karena paling tidak status mereka masih menjadi pemain PSS dua bulan ke depan dan akan menerima gaji yang besarannya akan diinformasikan kemudian. Adanya keputusan memperpanjang libur ini sekaligus mematahkan rumor bahwa ada pemutusan kontrak jadi salah satu pembicaraan manajemen dalam pertemuan. PSSI sendiri mengizinkan klub memotong gaji pemain sampai 75 persen.

 

Namun saran ini mendapat banyak kritik dari asosiasi pemain perofesional. Di sisi lain banyak klub, termasuk PSS, yang tidak mendapat pemasukan saat Liga 1 ditunda untuk mencegah penyebaran Covid-19.

 

Bek Laskar Sembada, Derry Rachman secara pribadi berharap tim tidak memotong gaji pemain hingga 75 persen. Bek kiri yang kini mendapat persaingan ketat dari Arthur Irawan itu memaparkan pemangkasan itu sangat merugikan pemain karena banyak rekan-rekannya yang untuk saat ini hanya mengandalkan sepakbola untuk menopang keluarga.

 

“Jangan 25 persen, kalau bisa ditambah. Banyak yang akan dirugikan kalau kami hanya terima segitu (25 persen gaji),” keluh Derry.

 

Meski demikian, Derry dan rekan-rekannya bisa memahami situasi saat ini. Banyak klub yang merasakan dampak negatif dari makin menyebarnya Covid-19 di Indonesia. Manajemen sebenarnya sudah memberitahukan adanya rencana pemangkasan gaji ke para pemain.

 

Derry dan kawan-kawan tidak mempermasalahkan kebijakan iti namun ia berharap benar manajemen tidak memangkas hingga 75 persen. “Kami sangat memahami situasi ini, manajemen juga sudah ngomong. Tapi semoga manajemen bisa mempertimbangkan banyak hal, doakan yang terbaik untuk kami,” sambung Derry. (Des)

 

 

Read previous post:
Usir Kantuk Saat Kerja, Petugas Kebersihan ngoplo

Close