BANTU PETUGAS MEDIS ATASI CORONA-Kelompok Difabel Asal Sleman Produksi 800 APD

NGAGLIK (MERAPI)- Minimnya fasilitas alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis yang menangani pasien Covid-19, membuat sebagian kelompok ikut dalam memproduksi barang tersebut. Salah satunya adalah puluhan penjahit dari kelompok penyandang disabilitas asal Kecamatan Ngaglik yang berjibaku menyelesaikan 800 pesanan APD untuk rumah sakit di Yogyakarta.
Ditemui di salah satu rumah konveksi di Dusun Tonggalan, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, salah satu prrodusen APD, Iswanto (42) menuturkan pihaknya mendapatkan pesanan dari 3 rumah sakit, yakni PKU Muhammadiyah di Bantul, Yogyakarta dan Sleman. Pesanan tersebut merupakan kesempatan antara kelompok simpan pinjam (KSP) Bank Difabel dengan MPM Muhammadiyah.

“Jadi kita membuat APD ini karena banyak rumah sakit banyak yang kekurangan alat pelindung tersebut. Ide ini kita bicarakan di dalam kelompok yang juga merupakan binaan dari MPM Muhammadiyah,” ungkapnya saat ditemui wartawan, Kamis (26/3).
Dijelaskan, bahan pembuatan APD menggunakan kain spundbond dan parasit. Untuk kualitasnya pun diklaimnya sudah sesuai dengan permintaan model yang juga telah diserahkan sejak awal.
“Untuk bahannya sendiri bahan dari PKU sendiri. Kita juga tidak tahu beli di mana, untuk modal pun besar. Untuk yang spundbound itu satu kali pakai, tapi untuk parasit itu nanti bisa dicuci,” jelasnya.
Dalam pengerjaannya, ada sekitar 10 penjahit berkebutuhan khusus yang dilibatkan. Teknis pembuatan pun sudah diatur sedemikian rupa seperti pemotongan kain, pembuatan pola dan hingga menjahit.

“Kalau rata-rata 1 orang bisa membuat 7 sampai 10 APD. Tergantung dari kecepatan proses menjahitnya. Kita pun juga didampingi dari pihak rumah sakit untuk memastikan keamanan dengan memakai masker dan menjaga jarak. Mereka juga memantau pengerjaan dan hasilnya agar sesuai,” tandasnya.
Untuk pesanan sendiri, kelompok ini diberi tenggat waktu satu minggu. Namun, karena dengan jumlah yang banyak dan tenaga seadanya, mereka meminta waktu penyelesaian selama dua minggu.
“Namun berapapun yang jadi hari itu juga, langsung dikirimkan. Jadi tidak perlu nunggu semuanya. Karena dalam keadaan tanggap darurat seperti saat ini kita juga harus siap mengerjakan dengan maksimal,” tegasnya.

Iswanto pun tidak memungkiri dengan adanya pesanan tersebut merupakan peluang usaha di tengah meredupnya berbagai usaha karena penyebaran virus Corona. Namun ia tetap memastikan kehadirannya bersama difabel lainnya adalah ikut dalam membantu penanganan virus melalui kemampuan yang dimilikinya.
Sementara, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sleman Sri Nurkiyatsiwi yang hadir pada kesempatan itu, menyebut jika pembuatan APD tersebut merupakan bentuk inovasi. Di tengah menurunnya jumlah APD yang ada, membuat perlengkapan kesehatan satu ini perlu untuk terus ada.
“Kalau standar secara resmi itu kan dari Kementerian Kesehatan. Tapi karena kondisi APD ini sangat dibutuhkan dan dari dokter yang rumah sakit sudah mensupervisi bahan dan modelnya seperti apa. Ini merupakan bentuk inovasi,” imbuhnya.

Laporan kebutuhan APD sejumlah rumah sakit di Yogyakarta rupanya sudah diterima oleh pemerintah propinsi. Dengan adanya kelompok UKM yang menekuni usaha menjahit, bisa menjadi peluang bisnis bagi mereka utamanya untuk menyediakan APD.
“Sudah banyak yang meminta secara informal untuk kebutuhan APD. Kami juga banyak pelaku UMKM bisa tidak kita ikut berperan dalam arti pembuatan APD sebagai solusi dan menjadi lapangan kerja bagi mereka. Ini yang masih terus kita koordinasi,” tutupnya.(C-8)

Read previous post:
Masyarakat menggunakan alat transportasi kereta api. (MERAPI-AMIN KUNTARI)
Tiket KA Bisa Dibatalkan, Uang Kembali 100 Persen

YOGYA (HARIAN MERAPI) - PT Kereta Api Indonesia (KAI) menerapkan kebijakan pengembalian tiket kereta api jarak jauh dan lokal untuk

Close