Melasti Mandiri, Umat Hindu Legawa

Pengambilan air suci di Telaga Madirda oleh umat Hindu Karanganyar jelang Nyepi. (Foto:Abdul Alim)
Pengambilan air suci di Telaga Madirda oleh umat Hindu Karanganyar jelang Nyepi. (Foto:Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Upacara keagamaan Tawur Agung Kesanga dan Melasti bagi umat Hindu di Kabupaten Karanganyar dibatasi pelaksanaannya. Pemeluknya disarankan beribadah secara mandiri di pura atau rumah masing-masing.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PDHI) Kecamatan Ngargoyoso, Priyanto mengungkapkan, upacara Melasti di Umbul Gondangrejo, Desa Kemuning yang sedianya dilaksanakan pada Minggu (22/3) terpaksa dibatalkan. Priyanto mengatakan lokasi pengambilan air suci tersebut pindahan dari Telaga Madirda yang sementara waktu disterilisasi karena proses renovasi. Guna mendukung pemerintah mempercepat penanganan pendemi virus corona, upacara Melasti di umbul Gondangrejo juga dibatalkan. Dengan demikian, pengumpulan massa dalam upacara keagamaan tersebut dapat dihindari. Meski demikian, umat Hindu disarankan menggelar upacara mandiri di pura pribadi dan rumah masing-masing.

“Berbeda dengan tahun lalu, upacara Melasti diadakan di sumber air atau Telaga Madirda. Namun karena ada perenovasian, upacara dialihkan ke umbul Gondangrejo. Namun akhirnya berujung pada pembatalan. Maka pengambilan air suci diadakan di pura masing-masing namun syaratnya diambil secara sendiri tidak bebarengan,” ungkapnya kepada wartawan, Selasa (24/3).

Dikatakannya, umat Hindu yang melaksanakan Tawuragung dibatasi hanya 20 orang. Biasanya, Tawur Agung diikuti 100 lebih umat Hindu di Karanganyar.
Upacara yang disarankan di rumah ini berlaku di semua pura di Karanganyar. Jumlahnya 123 pura yang tersebar di Kecamatan Ngargoyoso, Jenawi, Mojogedang, serta di Karangpandan.
“Beberapa umat ada yang melaksanakan upacara Tawur agung di pura dan di rumah. Kami memahami dan legawa. Semoga cobaan ini cepat berakhir dan kita semua menjadi manusia yang lebih baik,” katanya.

Priyanto mengungkapkan, Nyepi pada tahun ini membawa pesan umat manusia harus lebih introspeksi diri. Tuhan menurunkan wabah virus corona agar manusia merenung, belajar dan peduli terhadap sesama.
“Virus corona ini musibah. Kita harus bisa mengambil hikmah dibalik musibah ini. Instropeksi diri, jangan hiruk pikuk keluar. Kita harus menarik diri ke dalam keheningan. Karena dalam keheningan itu, kita menemukan Tuhan,” terangnya. (Lim)

Read previous post:
Pesantren di Pati Mulai Diliburkan, Orang Kumpul akan Disemprot Air

PATI (MERAPI) - Untuk mencegah berkembangnya Corona Virus Disease (Covid 19), bupati Pati H Haryanto SH MM MSi mengeluarkan perintah

Close