Tersangka Susur Sungai Bantah Kabur, Justru Tolong 6 Siswi Hanyut

SLEMAN (MERAPI)- Polisi telah menetapkan tiga pembina pramuka SMPN 1 Turi sebagai tersangka karena lalai dan mengakibatkan 10 siswa tewas saat kegiatan susur sungai Sempor, Donokerto, Sleman. Satu di antaranya adalah berinisial IY yang merupakan tersangka utama karena mempunyai gagasan kegiatan kepramukaan tersebut. Ironisnya, di tengah kegiatan itu, ia justru pergi dari lokasi dan dinilai tidak bertanggung jawab.
Beredarnya kabar IY yang meninggalkan lokasi karena keperluan mentransfer uang tersebut, dibenarkan oleh Oktryan Makta yang merupakan tim kuasa hukum pelaku. Disebutkannya, pelaku hanya meninggalkan lokasi sementara, dan bergegas kembali ke Sungai Sempor setelah mendapat informasi adanya korban hanyut di sungai.

“Tidak ada dalam posisi IY untuk melarikan diri. Dia sedang melakukan hal yang seharusnya dia lakukan. Karena ada suatu kepentingan, memang beliau keluar dari area yang seharusnya dia di sana. Namun tidak ada maksud untuk melepaskan tanggung jawab, karena saat dia dapat informasi siswa hanyut, beliau langsung kembali ke lokasi,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu (26/2).
Oktryan yang didampingi empat kuasa hukum lainnya itu menyebut jika pelaku telah menyiapkan sekaligus berkoordinasi dengan guru dan siswa terkait acara tersebut. Pelaku juga membenarkan bahwa dirinya lah yang bertanggung jawab atas kejadian naas tersebut.

“Dia memang sudah menyiapkan, tapi dia juga mengakui bertanggung jawab atas itu. Namun sekali lagi kegiatan ini bukan mendadak, karena sudah ada komunikasi dengan 7 pembina lain serta 23 Dewan Penggalang yang merupakan perwakilan siswa dari kelas 8,” jelasnya.
Terkait tersangka IY yang menjadi penggagas dari kegiatan itu, ditegaskan tim kuasa hukum jika kegiatan serupa sudah pernah dilaksanakan pada tahun 2019. Kegiatan susur sungai merupakan usulan yang pada 2019 lalu dan sudah disetujui oleh Kepala Sekolah waktu itu.
“Tersangka masuk tahun 2015. Kemudian mendapatkan sertifikasi Kursus Mahir Dasar (KMD) tahun 2016, karena memang guru harus punya sertifikasi itu. Susur sungai baru dimulai 2019 yang disetujui oleh kepala sekolah waktu itu,” tandasnya.

Oktryan mengatakan tidak ingin mengaitkan kejadian tersebut dengan pihak-pihak lain yang seharusnya juga terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Namun, pihaknya menegaskan jika kejadian ini bukanlah murni tanggung jawab individual yang dalam hal ini lebih banyak disangkakan kepada IY.
“Dalam kasus ini harus dilihat antara guru dan anak. Adalah kegiatan sekolah walaupun diklasifikasikan sebagai ekstrakulikuler. Namun bukannya menjadi tanggung jawab individual, tetapi tanggung jawab guru dalam hal ini struktur di SMPN 1 Turi,” terangnya.
Pihaknya juga mendorong pihak kepolisian agar melaksanakan proses penyidikan yang dilakukan mengedapankan asas transparansi dan profesional. Pasalnya dalam konteks kejadian tersebut, setiap orang mempunyai kadar tanggung jawab masing-masing dan itu harus diselidiki secara komprehensif.

“Dalam hal manajemen risiko, harusnya secara utuh dilihatnya. Tidak bisa hanya pada waktu kejadian. Nanti akan berkaitan dengan penyelidikan dan penyidikan di Polres Sleman. Akan dilihat kadar-kadar tanggung jawabnya. Tetapi kegiatan dilaksanakan dengan sepengatahuan. Rasa ini harusnya menjadi tanggung jawab bersama,” paparnya.
Kakak Sepupu tersangka, Agus Sukamta (58) turut membenarkan jika IY tidak melarikan diri dan justru ikut dalam proses penyelamatan. Setelah mengetahui ada informasi terjadi banjir tersebut, pelaku kembali ke lokasi dan ikut ke dalam sungai hingga menyelamatkan 6 siswa.
“Memang sempat keluar untuk transfer uang, tapi IY kembali ke lokasi setelah ditelepon siswanya. Dia pakai sepatu seorang siswa lalu turun ke sungai untuk menyelamatkan 6 orang. Setelah tahu ada 4 orang yang meninggal, dia pergi ke klinik SWA dan syok di sana,” jelasnya.

Meskipun begitu, pihaknya tetap menyampaikan permohonan maaf kepada para korban baik yang meninggal maupun yang terluka pada saat kejadian. Pihaknya juga telah menemui pihak korban secara langsung untuk meminta maaf dan bersimpati atas kejadian naas tersebut.
“Kita sudah temui keluarga korban yang meninggal dan kita minta meminta maaf kemarin dan hari ini. Dan dari pihak korban juga telah memaafkan sepenuhnya,” imbuhnya.
Pihaknya menyerahkan proses hukum sepenuhnya kepada pihak kepolisian dan juga kuasa hukumnya. Pihaknya juga meminta agar pihak kepolisian juga mempertimbangkan kondisi keluarga tersangka yang mengalami tekanan atas hujatan-hujatan yang juga dialami. (C-8)

Read previous post:
Bank BPD DIY Bima Perkasa Tanpa Nuke Tri Saputra di IBL Seri Kediri

SLEMAN (HARIAN MERAPI) - Bank BPD DIY Bima Perkasa tak diperkuat Nuke Tri Saputra di Indonesian Basketball League (IBL) Seri

Close