3 Driver Ojol Terima Order Misterius dari Sungai Sempor

TURI (MERAPI)- Selalu ada hal berbau mistis di balik sebuah tragedi. Termasuk tewasnya 10 siswa SMPN 1 Turi saat tengah melakukan kegiatan susur sungai di sungai Sempor, Dusun Dukuh, Donokerto, Turi, Sleman. Sehari usai kejadian itu atau Sabtu (22/2) lalu, tiga driver ojek onlne (ojol) menerima order dari sekitar Sungai Sempor dengan satu nama yang mirip nama salah satu korban tewas.
Seorang warga RT 03 Dusun Dukuh yang menemui ketiga ojol itu kepada Merapi, Selasa (25/2) mengatakan, mereka semua mendapat pesanan antar jemput dari pelanggan yang sama. Dia pun menjawab jika tidak ada warga atas nama tersebut, dan menyebut jika nama itu adalah satu dari 10 korban tewas di sungai Sempor

“Driver pertama itu kan pakai GPS, dan lokasi penjemputannya itu berhenti di depan rumah saya (sekitar 300 meter dari kali Sempor). Dia mondar-mandir, kemudian ditanya adek saya, katanya mencari sebuah nama. Saya pas di dalam rumah dengar dia menyebut sebuah nama sebagai pemesan order. Saat saya cocokkan, ternyata namanya sama dengan salah satu korban yang baru saja ditemukan tewas. Saya kaget kemudian saya keluar beritahu orang itu dan saya minta driver itu batalin order,” ungkap pria yang tak ingin disebutkan namanya tersebut.
Driver yang diberitahu itu, dikatakannya, sempat lemas mendengar cerita tersebut. Lantaran ketakutan, driver itu pun akhirnya kembali pulang dan meng-cancel orderan tersebut.

“Dia sempat nunjukin ke saya obrolan pelanggan itu. Si pelanggan bilang kalau tidak usah telepon karena baterainya lowbatt. Pas sampai sini juga ditelepon tidak bisa. Pas sudah saya beritahu, dia langsung lemes, terus balik,” jelasnya.
Tak berlangsung lama, kata dia, datang lagi driver ojol yang lain. Dia datang dengan tujuan titik lokasi yang sama. Namun driver itu terlihat mondar-mandir di luar dusun Dukuh. Karena penasaran akan kasus yang sama dengan driver sebelumnya, dia pun mendatangi driver yang tampak kebingungan tersebut.
“Yang driver kedua itu mondar-mandir di luar dusun situ. Dia bilang dapat pesanan suruh jemput di sekitar sini (Sungai Sempor). Yang mengagetkan, nama pemesan sama dengan driver ojol pertama. Dia juga bilang kalau tidak usah ditelepon karena batre handphonnya lowbatt,” ujar dia. Karena punya kemiripan dengan driver pertama tadi, warga pun kemudian meminta driver ojol itu pergi dan membatalkan orderan. “Saya ceritakan semuanya. Dalam order itu, dia minta diantar ke Pasar Sleman,” ujar dia.

Pria yang berumur kurang lebih 35 tahun itu mulai merinding dan merasa ada keanehan dengan dua driver yang mendapat pesanan atas nama sama di sekitar lokasi kejadian (Sungai Sempor). Ia pun lantas meminta kepada warga sekitar jika bertemu dengan driver yang kebingunan dengan pesanan yang sama, agar langsung disuruh pulang.
Firasat aneh itu akhirnya benar terjadi. Tak berlangsung lama, datang driver ojol ketiga yang titik lokasi antarnya tepat di atas jembatan sungai Sempor. Seperti diketahui, di bawah jembatan Sungai Sempor itulah ratusan siswa SMPN 1 Turi hanyut. Driver itu mengaku mendapat order penjemputan di Sleman namun lokasi turunnya persis di jembatan Sempor. Namun entah bagaimana awalnya, sang driver justru langsung menuju jembatan Kali Sempor.

“Driver yang ketiga itu kebalik, dia malah datang ke lokasi turun tujuan di jembatan itu. Dia sempat berhenti dulu di masjid, terus didatangi warga,” ujar dia. Yang tak kalah mengagetkan, tambah warga itu, nama pemesan ojek online itu sama dengan dua driver sebelumnya. Yakni mirip salah satu korban tewas susur sungai Sempor. “Bilangnya sama warga dapat orderan atas nama itu (korban tewas). Sama seperti dua driver lain, dia juga minta driver tak menelepon karena batre handphone lowbatt,” tegasnya.
Menurut pria yang mempunyai usaha konter handphone itu, setelah driver ketiga itu, tidak ada lagi driver ojol lain yang datang. Ia pun menyebut jika hal seperti itu memang aneh, namun bisa terjadi umumnya 7 hari setelah kematian seseorang.

“Ya kalau kejadian itu dibilang tak logis ya tak logis, soalnya kan aplikasi itu online. Tapi memang hal semacam itu umumnya pasti terjadi, apalagi kalau masih satu minggu setelah meninggal,” terangnya.
Atas kejadian itu beberapa warga merasa ketakutan, utamanya saat akan keluar di malam hari. Warga lain, Fajar Sriyono warga RT 02, Dusun Dukuh menambahkan, beberapa ibu-ibu rumah tangga mengaku takut untuk ke belakang rumah yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari sungai setelah kejadian itu.
“Kan kemarin pada cerita-cerita di gardu pos kamling, ibu-ibu itu sampai takut mau keluar rumah. Istri saya saja mau ke belakang juga tidak berani kalau malam di atas pukul 21.00,” tutupnya. (C-8)

Read previous post:
Jamu Gacor Anggungan Dongkrak Stamina dan Vertilitas PPD

UNTUK tetap menjaga stamina burung anggungan yang akan naik kontes, perlu sekali asupan nutrisi lengkap yang mampu mendongkrak aktivitas anggungan

Close