Sudarwanto Selamatkan 30 Siswa SMPN 1 Turi dengan Tangan Kosong

TURI (MERAPI)- Terjangan air bah yang mengalir di Kali Sempor pada Jumat (21/2) lalu membuat ratusan anak SMP 1 Turi yang tengah melakukan kegiatan susur sungai menjadi korban. Dilaporkan dari 249 peserta pramuka itu, 10 di antaranya meninggal dunia dan korban luka mencapai 23 orang.
Kondisi aliran sungai yang sangat curam dengan bebatuan besar serta tebing sungai yang tinggi, hampir sangat mustahil para anak-anak yang masih berusia belasan tahun itu bisa menyelamatkan diri.
Di balik kejadiaan naas itu, seorang pemancing ternyata terlibat dalam upaya penyelamatan yang membuat lebih dari 30 siswa selamat.

Adalah Sudarwanto (37) warga asal Dusun Kebangarum, Desa Donokerto, Kecamatan Turi yang menggunakan tangan kosong membantu satu persatu siswa yang hanyut dan menangis ketakutan. Ia yang semula berniat memancing itu, tiba-tiba melihat teriakan dari anak-anak di dalam aliran sungai.
“Tiap hari saya seneng mancing di sungai Sempor. Pas mau turun mancing itu lihat orang pada teriak, ya giduh, ada yang minta tolong, ada yang hanyut, banyaklah,” ungkapnya saat ditemui wartawan, Minggu (23/2).
Seketika ia yang pergi mancing bersama Tri Nugroho yaitu adik kandungnya, berlari dengan tergesa-gesa ke arah selatan sungai. Yang menjadi pioritasnya saat itu adalah menolong siswa-siswa yang sudah terlanjur hanyut terbawa derasnya air.

“Saat itu saya lari ke selatan. Siswa yang pada hanyut itu saya selamatkan duluan. Yang sudah di pinggir di bebatuan itu saya suruh tenang. Saya selamatkan dengan tangan kosong. Ada sekitar 30 orang lebih. Saya terjun ke air, saya gendong, ada yang saya bopong,” ujarnya.
Proses evakuasi siswa dari sungai menuju dataran yang lebih aman, dikatakan Darwanto menggunakan dua buah tangga. Selain itu, ia mengambil satu tangga lain untuk menghubungkan antarbebatuan yang ada di dalam sungai.
“Tangga itu saya pinjem dari warga Dusun Dukuh untuk jalan dari batu ke pinggir sungai. Pas naik dari sungai ke atas itu, pakai dua tangga lain,” terangnya.
Darwanto yang dikenal dengan sebutan Kodir itu, mengatakan kedalaman air saat itu bisa mencapai leher orang dewasa. Dengan air yang mengalir begitu deras dan beberapa peserta perempuan menggunakan rok, membuat peserta kesusahan untuk bergerak memegang bebantuan yang ada di sekitar.

“Posisi itu kebetulan banyak perempuan yang pakai rok jadi kesusahan mau raih batu. Kalau yang pakai celana mungkin masih bisa. Pas itu saja masih ada beberapa orang yang tersangkut di batu,” tambahnya.
Darwanto yang memastikan bahwa sudah tidak ada lagi siswa di lokasinya tersebut, kemudian kembali ke rumah. Usai Magrib, ia lantas ikut proses pencarian yang dilakukan di lembah sempor.
“Balik ke rumah dulu, habis Maghrib ke lembah Sempor lagi, cuma ikut lihat saja. Saya tidak bilang siapa-siapa pas saya nyelamatin itu, karena memang saya orangnya pemalu,” tegasnya.

Dilanjutkan Sudarwanto, ia juga tidak berniat sedikitpun untuk meminta imbalan atas usahanya yang dilakukannya. Meski penuh dengan risiko, ia mengaku hanya mengikuti naluri saja yang membuatnya berani untuk menolong puluhan anak itu.
“Saya itu sengaja tidak bilang-bilang atau coment di grup-grup medsos saya. Yang dapat gambar saya itu mungkin dari orang sekitar. Kalau prinsip saya intinya penting anak-anak itu selamat,” tutupnya. (C-8)

Read previous post:
ilustrasi
Depresi Mikir Rumah Tangga, Gantung Diri

WONOSARI (MERAPI)- Diduga tersandung masalah rumah tangga, seorang ayah berusia muda Rahmat Wijanarko (28) warga Turen Desa Karakan, Kecamatan Weru,

Close