DIJUAL DI PASAR TRADISIONAL- Polda DIY Bongkar Peredaran Gula Rafinasi


Petugas saat menunjukkan barang bukti gula rafinasi. (MERAPI-SAMENTO SIHONO)
Petugas saat menunjukkan barang bukti gula rafinasi. (MERAPI-SAMENTO SIHONO)

DEPOK (MERAPI)- Ditreskrimsus Polda DIY berhasil mengungkap kasus peredaran Gula Kristal Rafinasi (GKR) yang disalahgunakan untuk dijual ke masyarakat sebagai gula kristal putih biasa.


Kasubdit I Ditreskrimsus Polda DIY Kompol Asep Bangbang Saputra SIK mengatakan, satu orang tersangka berinisial NW (45) warga Gamping Sleman diamankan dalam perkara ini. Perannya sebagai penyandang dana.


“GKR ini diperuntukkan industri. Tapi oleh tersangka justru dijual ke pasar-pasar tradisional dan dititipkan ke toko di Sleman dan Yogya,” beber Kompol Bangbang kepada wartawan, Kamis (13/2).
Terbogkarnya kasus tersebut bermula saat petugas mendapatkan informasi peredaran gula rafinasi di wilayah Gamping. Dari informasi itu petugas lantas melakukan penyelidikan di lokasi, ternyata benar ada aktivitas pengemasan GKR.


Menurutnya, tersangka merupakan pemilik tempat penjualan gula kristal rafinasi, ia mendapatkan gula itu dari seseorang berinisial I. Setelah barang datang, tersangka langsung membayar dan penyuplai langsung pergi.


“Tersangka ini mengambil barang dari orang lain, saat ini masih terus kita selidiki. Jadi sistemnya, tersangka pesan kemudian bayar di tempat saat barang datang,” katanya.
Sekali transaksi NW memperoleh hingga 20 karung gula, masing-masing karung seberat 50 kg. Setelah mendapatkan gula itu, pelaku membuka kemasan gula rafinasi dan mengemas kembali ke dalam kemasan seberat 0,5 kg.


“Tersangka juga tidak menyertakan label yang memuat penjelasan gula di kemasan 0,5 kg. Pengakuanya, tersangka sudah 5 bulan beroperasi,” jelas Bangbang.
Kompol Bangbang menjelaskan, tersangka menjual gula rafinasi itu seharga Rp 11.500, padahal gula rafinasi per kilogramnya seharga Rp 10.500. sehingga setiap kilogramnya, tersangka mendapatkan keuntungan Rp 1000.


“Dalam tiga jam bisa produksi satu ton gula rafinasi yang dikemas dalam kemasan kecil. Keuntungannya sekitar Rp 1.000 per kilogram karena dijual ke pasar dan toko seharga Rp 11.500,” katanya.
Sementara tersangka NW mengaku mendapatkan keterampilan dalam mengemasi gula karena sebelumnya bekerja di pabrik gula biasa. Tapi karena tergiur dengan keuntungan besar, tersangka nekat mengemasi gula rafinasi.


“Sebelumnya saya pernah bekerja mengemasi gula biasa. Kemudian saya coba-coba mengemasi gula rafinasi, karena keuntungannya lebih besar,” akunya.
Polisi juga mengamankan barang bukti 2.150 kg gula rafinasi, peralatan yang digunakan yakni 2 sekop, 1 gayung, 1 timbangan, mesin pengemas gula, troly, dan 1 rol plastik, 1 ember, serta mobil yang digunakan pelaku.


Atas perbuatannya pelaku dijerat dengan pasal 139 jo pasal 84 ayat (1) UU No 18/2012 tentang Pangan. Pelaku juga melanggar Pasal 62 ayat (1) jo pasal 8 ayat (1) huruf i UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.(Shn)


Read previous post:
Triwulan I, Ditjen PSP Kejar Target Serapan Anggaran 40%

PALEMBANG (HARIAN MERAPI) - Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) minta Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota

Close