Normalisasi Selokan Mataram, BBWS SO Butuh Dukungan Pemerintah

MERAPI-MUHAMMAD RIDWAN  Petani membersihkan Selokan Mataram.
MERAPI-MUHAMMAD RIDWAN
Petani membersihkan Selokan Mataram.

SLEMAN (MERAPI) – Kondisi debit air yang mengalir di Selokan Mataram saat ini jauh dari kondisi normal. Selain karena kondisi faktor cuaca hujan yang belum menentu, permasalahan seperti adanya sampah dan pengendapan sedimen tanah yang pasokan air hingga ke hilir di Sleman Timur terhambat.
Kepala Seksi Pelaksana OP Serayu Opak, Hanugrah Purwadi, mengatakan jika debit air yang mengalir hingga pintu air Grojogan di Maguwoharjo, Kecamatan Depok tidak mencapai 2 meter kubik per detik. Harusnya, musim penghujan seperti saat ini jumlah debit air yang mengalir mencapai 9 hingga 11 meter kubik per detik.

“Di Karang Talun sendiri terjadi penurunan debit yang sangat begitu besar. Karena masuk ke pintu-pintu inti tidak begitu besar, sekarang hanya 5 sampai 6 meter kubik per detik. Itu masih dibagi van der wick dan selokan mataram. Kalau normalnya disinj harusnya 9 sampai 11 meter, tapi nyatanya tidak sampai sekitar 2 meter kubik per detik,” jelasnya saat ditemui, Senin (3/1).

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang (Kabid) OP BBWS SO (Balai Besar Wilayah Sungai Serayu – Opak) membenarkan kondisi debit air di selokan mataram di pengaruhi karena cuaca. Selain faktor cuaca, permasalahan seperti sampah dan pengendapan tanah juga menjadi faktor air tidak bisa maksimal sampai ke hilir.

“Cuaca juga belum menentu, makanya debit air tidak sesuai normalnya. (Tidak sampai hilir) selain karena faktor pengambilan air ilegal, juga karena tumpukan sampah dan pengendapan tanah di sekitar aliran,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Selasa (4/1).

Upaya pemeliharaan selokan mataram, dikatakan Sahril, sudah sering dilakukan oleh petugas BBWS SO. Namun karena panjang selokan mataram yang lebih dari 31 meter, membuat upaya pemeliharaan hanya bisa dilakukan di pintu-pintu air.
“Kalau itu (pembersihan) sudah kita lakukan tapi belum menyeluruh. Kita juga ada program penanganan sampah, tapi karena selokan mataram itu kan 31 km, kita hanya bisa lakukan pemeliharaan di pintu-pintu air,” imbuhnya.

Selain faktor sampah, tingginya pengendapan tanah juga menjadi perhatiannya. Petugas dalam hal ini selalu memantau batas dasar saluran untuk mengantisipasi pengendapan tanah yang bisa menyebabkan dangkalnya aliran selokan mataram.
“Kalau sedimen itu selalu ada, tidak bisa kalau bersih total. Tapi memang kita selalu pantau, endapan itu sudah melebihi dasar saluran belum. Kita selalu jaga batas dasar saluran itu,” tandasnya.

Saat ini pihaknya tengah mengusulkan untuk melakukan pemeliharaan secara besar-besaran. Ia berharap juga ada dukungan dari pemerintah daerah setempat untuk memastikan air mengalir di selokan agar lancar.
“Kita sudah usulkan untuk pemeliharaan secara besar-besaran. Dan tentunya butuh dukungan juga dari pemerintah daerah. Untuk besaran anggarannya sedang dihitung perencana balai. Kita juga meminta agar masyarakat tidak membuang sampah di selokan agar tidak menghambat aliran air,” terangnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Heru Saptono, mengaku siap mendukung upaya normalisasi yang akan dilakukan oleh BBWS SO. Hal itu juga sebagai upaya untuk memastikan kelancaran air untuk irigasi persawahan di wilayah Sleman.
“Kita dari pemerintah daerah siap mendukung, apalagi air di selokan itu kan banyak digunakan untuk pertanian juga. Dan dari masyarakat sekitar yang khususnya petani juga pastinya siap untuk membantu,” tutupnya. (C-8)

Read previous post:
MERIAM ANAK MAKASAR (1) – Pertempuran Sengit, Pasukan Belanda Terpaksa Mundur

Kesultanan Goa adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari

Close