Bos Penambang Pasir Ilegal Kantongi Rp 9 Juta Perhari

DEPOK (MERAPI)- Aparat Dit Reskrimsus Polda DIY menangkap seorang bos penambangan pasir secara ilegel dengan mesin sedot, BS (41). Dia ditangkap saat menambang pasir di Sungai Progo Dusun Ngapak, Prapak Kulon, Minggir, Sleman. Tak main-main, dengan mesin sedot, pelaku mampu menjual 10 truk pasir perhari senilai Rp 9 juta.
Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto kepada wartawan, Selasa (28/1) mengatakan, penangkapan BS dilakukan berdasarkan laporan polisi pada 21 Januari 2020. Saat itu, BS diketahui menambang tanpa dilengkapi IUP, IPR atau IUPK.
Menurutnya, BS mempunyai peran sebagai pemilik alat sedot yang telah dimodifikasi sekaligus penanggung jawab praktik penambangan pasir tanpa izin. Atas dasar itu, petugas lantas melakukan penangkapan pelaku.
“Biasanya ada kewajiban yang harus dibayar usaha penambangan untuk perizinan atau retribusi. Kalau tidak ada izin, tentu jadi kerugian negara,” beber Kombes Pol Yuliyanto.

Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda DIY AKBP M Qori Oktohandoko menambahkan, alat sedot yang digunakan BS terbilang unik. Pasalnya, alat sedot ini telah dimodifikasi dengan menggunakan tambahan roda depan dan belakang.
Modifikasi semacam itu dilakukan untuk memudahkan pelaku untuk berpindah tempat saat melakukan penambangan ilegal. Sehingga kalau sedang tidak menambang, alat tersebut dipindahkan atau dibawa pulang.
“Setelah dimodifikasi, lebih mudah untuk bergeser dari satu tempat ke tempat lain di sepanjang Sungai Progo. Kita juga baru kali ini menemukan alat sedot pasir yang seperti ini,” jelasnya.

Kepada penyidik, BS mengaku pasir tersebut dijual kepada pihak yang membeli secara langsung di kawasan lokasi tambang dengan memasang tarif Rp 900 ribu per truk. Bahkan setiap harinya, BS mampu menjual 9 sampai 10 truk. Dengan asumsi ini, dia mampu meraup Rp 9 juta perhari.
Selain mengamankan pelaku, petugas juga menyita barang bukti berupa dua unit mesin sedot yang dimodifikasi, tiga paralon, dua selang warna biru, serta satu unit dump truck. Saat ini barang bukti telan diamankan di Polda DIY.

Atas perbuatannya, BS dijerat dengan Pasal 158 Undang-Undang (UU) RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. BS terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda maksimal Rp10 miliar.
“Operasi penangkapan penambang ilegal tidak hanya berhenti sampai di sini. Ditreskrimsus akan terus menindak para prnambang ilegal yang menggunakan alat sedot maupun alat berat seperti excavator,” pungkasnya.(Shn)

Read previous post:
Underpass YIA Rawan Terjadi Kecelakaan

WATES (HARIAN MERAPI) - DPRD Kabupaten Kulonprogo akan melakukan rapat koordinasi membahas keluhan masyarakat di sekitar jalan bawah tanah atau

Close