Cegah Klitih, Sekolah Tambah Jam Belajar

BANGUNTAPAN (MERAPI)- Kapolsek Banguntapan, Kompol Suhadi menyebut pelajar SMP rawan menjadi pelaku klitih. Untuk itu perlu peran serta berbagai pihak untuk mencegahnya, termasuk dari pihak sekolah.
Hal ini disampaikan usai menyaksikan deklarasi anti klitih di SMP 2 Banguntapan, Senin (27/1). Deklarasi ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap aksi klitih yang masih sering terjadi melibatkan pelaku berstatus pelajar. Diharapkan selain dari keluarga, lingkungan sekolah juga mampu menekan aksi ini.

Kompol Suhadi mengatakan pengecekan di lapangan menunjukkan bahwa siswa SMP rawan menjadi pelaku klitih. Hal ini dibuktikan saat melakukan patroli dan razia, sering ditemukan siswa bergerombol. Setelah diperiksa sebagian besar adalah siswa SMP. Saat mendapati hal ini, pihaknya kemudian melakukan pembinaan. Mengingat usia mereka masih sekolah, Polisi baru akan melakukan penindakan sebagai alternatif terakhir jika sudah tidak dapat dibina. “Ini menyangkut masa depan anak, jadi pasti kita lakukan pembinaan dulu,” ungkapnya.

Wilayah yang paling rawan digunakan untuk tawuran pelajar di daerahnya adalah sepanjang Jalan Ringroad Timur. Sehingga ketika ada informasi akan ada tawuran maka polisi langsung melakukan razia. Sehingga potensi jatuhnya korban bisa ditekan. Jika pada saat razia ditemukan siswa yang membawa senjata tajam pihaknya tidak segan melakukan tindakan. Pelajar dengan senjata tajam dapat dikenai Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Senjata Tajam dengan hukuman maksimal tujuh tahun penjara. “Kalau memang sudah melanggar, kita pasti akan tegas,” ancamnya.
Deklarasi dilakukan pada saat upacara bendera dengan disaksikan pihak Pemdes, Kapolsek, Camat dan Danramil Banguntapan serta Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Bantul. Ratusan siswa ini menandatangani nota kesepakatan bersama.

Kepala SMP 2 Banguntapan, Purwanto mengatakan bahwa deklarasi ini juga merupakan bagian dari pendidikan karakter siswa yang diterapkan pihak sekolah. “Ini bagian dari pendidikan, karena penguatan karakter siswa juga bagian dari tanggungjawab bersama antara sekolah dan keluarga,” sebutnya.

Purwanto mengatakan sudah menyiapkan langkah konkret agar siswanya tidak terpengaruh pada hal-hal negatif. Salah satunya dengan penambahan jam belajar, dan memadatkan agenda kegiatan sekolah. Selain itu penguatan karakter siswa juga dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Upaya ini menurutnya sudah disepakati dengan wali murid, di mana sebelumnya wali murid sudah dikumpulkan dan diajak untuk membahas problematika ini. “Ini upaya agar waktu bermain anak-anak berkurang,” pungkasnya. (C1)

Read previous post:
PERSIAPAN MENUJU PON XX-2020 PAPUA – Puslatda DIY Diikuti 141 Atlet

YOGYA (MERAPI) - KONI DIY menetapkan sebanyak 141 atlet yang masuk program pemusatan latihan daerah (Puslatda) untuk menghadapi Pekan Olahraga

Close