Air Mengalir Setelah Disabotase, Petani Sleman Timur Menangis Sujud Syukur

MERAPI-MUHAMMAD RIDWAN  Warga gotong royong membersihkan Selokan Mataram.
MERAPI-MUHAMMAD RIDWAN
Warga gotong royong membersihkan Selokan Mataram.

KALASAN (MERAPI) – Penantian panjang ratusan petani di Kecamatan Kalasan dan Kecamatan Berbah untuk mengolah lahan sawah akhirnya terwujud. Pasalnya, sumber air yang selama ini memanfaatkan aliran selokan mataram sudah kembali dialiri air.

Ketua Forum Petani Kalasan Janu Riyanto, menuturkan air sudah kembali masuk ke selokan mataram khususnya di wilayah Kalasan dan Berbah sejak Kamis (23/1) lalu. Kembalinya aliran air di selokan mataram di sana disambut puluhan petani dengan membersihkan selokan mataram yang sudah ditumbuhi sampah dan rumput.

“Kembalinya air ini kita sambut dengan menangis sujud syukur setelah mengering dalam waktu lama. Kita juga lakukan kegiatan gotong royong membersihkan sampah dan rumput di sekitar selokan,” ungkapnya saat dihubungi akhir pekan kemarin.

Dijelaskan Janu, sebelumnya air tak pernah dijumpai di kawasan tersebut hingga selokan mataram mengering yang menyebabkan ratusan petani tidak menanam padi. Bahkan saat masuk musim tanam, air juga tak kunjung muncul hingga beberapa petani menyambung hidup dengan menjadi buruh bangunan.
“(Air) lama tidak mengalir di Kalasan dan Berbah, dan kondisi ini terjadi sekitar 3-4 tahun lalu sampai banyak petani tidak bisa panen. Waktu masuk musim penghujan (Oktober) kemarin, tak setetes pun air lewat di situ (selokan mataram),” ujarnya.

Kondisi selokan mataram yang sebelumnya kering, dikatakan Janu, mengakibatkan lebih dari 251 hektar sawah yang tidak dapat diolah. Diduga Janu, kondisi tersebut dilakukan oleh oknum yang sengaja mensabotase pintu air yang mengalir ke wilayah Sleman timur.

“Dari 251 hektar itu setidaknya ada 250 petani tidak bisa menanam. Belum lagi petani yang jauh jaraknya dari aliran selokan. Dugaan kami ada oknum yang sengaja (sabotase). Tapi kami tidak tahu siapa,” tambahnya.

Adanya permasalahan keringnya selokan mataram juga dibenarkan oleh Sriyana salah satu petugas pengamat selokan mataram dua. Ia menuturkan masalah tersebut sudah ada sebelum ia bertugas di wilayah tersebut.

“Yang saya tahu mengenai kendala air dikarenakan ada penyalahgunaan pintu penguras untuk pintu harian kolam. Petugas udah mencoba memberi arahan dn pendektan musyawarah untuk solusi di tempat tersebut, tapi mereka selalu kekeh gak bisa. Intinya kalau daru petugas menutup (pintu penguras) tidak lama mereka buka sendiri,” paparnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Heru Saptono, membenarkan adanya sabotase dari kelompok pembudidaya ikan (pokdakan). Dikatakan Heru, sebelumnya DP3 Sleman telah melakukan penelusuran terkait keluhan petani tersebut dan menemukan adanya bukti sabotase.

“Setelah kami telusuri, ada beberapa bangunan penguras di sekitar selokan di sekitar Selokan Mataram yang dialihkan fungsinya untuk kolam ikan oleh sebagian kelompok masyarakat,” terangnya.
Dari temuan tersebut, pihak pemerintah Kabupaten Sleman juga telah mengundang dua pokdakan yang disinyalir mengambil air di Selokan Mataram tanpa izin. Dalam pertemuan itu, kelompok diberi penjelasan bahwa tindakan mereka adalah salah dan juga memberikan beberapa solusi.

Sebagai jalan tengah, dijelaskan Heru, anggota pokdakan akan diberi waktu waktu satu hingga dua minggu guna berkomunikasi dengan penyuluh lapangan, dan mencari pangsa untuk memasarkan hasil ikan mereka. Selain itu, pemerintah juga berjanji akan mengusulkan ganti sumber air melalui pembuatan sumur dan bantuan pompa melalui alokasi APBD Perubahan 2020. Pemerintah Sleman dalam hal ini juga akan mengupayakan bantuan kincir air untuk mendorong produksi perikanan.

“Sembari menunggu realisasi pembuatan sumur, kelompok bisa memanfaatkan air dari sungai yang ada di sekitar lokasi budidaya. Kalau air surut, diganti dengan komoditi ikan tidak bersisik seperti lele yang kebutuhan airnya tidak banyak,” terang dia.

Menyikapi persoalan dalam hal distribusi pengairan, DP3 Sleman akan terus berkomunikasi dan mengedukasi petani maupun pokdakan agar menggunakan air secara arif dan bijak. “Dari laporan yang kami terima, air selokan mataram kini sudah mengalir sampai wilayah Kalasan dan Berbah ada lebih dari 100 hektare,” tutupnya. (C-8)

Read previous post:
Berbahan Sirih Atasi Keputihan

MANFAAT atau khasiat daun sirih sudah banyak yang mengenal, baik jenis hijau maupun merah. Cara pemanfaatannya bisa model tunggal serta

Close