KISAH MISTIS DI BALIK EKSOTISNYA LAVA BANTAL (1)-Warga Lihat Penampakan Ular Raksasa Minum di Aliran Kali Opak

OBJEK wisata Lava Bantal yang terletak di Kecamatan Berbah, Sleman kini menjadi salah satu destinasi andalan baru pariwisata di Kabupaten Sleman. Wisata geohetirage yang terbentuk akibat pertemuan lahar panas dengan dinginnya air yang membentuk bebatuan tak beraturan itu, menjadikannya wisata alam yang menarik untuk dikunjungi.
Namanya cukup terkenal kala diresmikan tahun 2016 lalu, yang juga membuatnya mendapatkan peringkat 2 dalam penghargaan Anugerah Pesona Indonesia (API) pada tahun 2018.

Namun siapa tahu, di balik kepopuleran wisatanya, Lava Bantal juga terkenal dengan beberapa cerita mistis yang mengelilinginya.
Bahkan, beberapa kali tempat wisata di bantaran sungai opak itu dijadikan lokasi uji nyali beberapa youtuber dan program tv tentang cerita misteri. Sosok makhluk halus atau penunggu yang sering diceritakan dalam uji nyali di Lava Bantal adalah keberadaan Mbah Jugil yang berwujud menyerupai jenglot.
Dari penelurusan Merapi di lokasi wisata alam itu, beberapa warga sekitar membenarkan jika terdapat sosok mahluk tak kasat mata yang menjadi penguasa dan penunggu Lava Bantal. Namun dari penuturan warga, sosok mbah Jugil adalah seorang kyai yang dulunya merupakan seorang penyiar agama.

“Saya klarifikasi, kalau yang beredar di youtube itu Mbah Jugil (diceritakan) penampakannya mirip jenglot. Mungkin sebagian percaya, tapi kalau warga sini meyakini penampakannya itu seorang kyai, karena dulunya penyiar agama. Petilasannya di makam sini, Makam Gemblung,” ungkap tokoh masyarakat sekitar, Sugiri (40).
Jika dilihat secara letak geografis, lokasi wisata Lava Bantal memang terlihat sedikit menyeramkan. Dengan diapit oleh dua makam besar, serta masih ditumbuhi pepohon bambu dan pohon besar lain, membuat tempat ini sekilas mirip hunian makhluk halus.

“Ya banyak penunggunya, mereka punya daerah sendiri-sendiri. Pocong ada, kuntilanak ada, sundelbolong iya, tapi kebanyakan di sini siluman ular,” tambahnya.
Sugiri yang juga merupakan Ketua RT 05/RW 33 Dusun Sumber Kidul, Keluharan Kalitirto, Berbah ini mengungkapkan jika sosok-sosok siluman ular yang berada di bawah Jembatan Gemblung bisa berubah-ubah bentuk.
“Sosoknya (siluman ular) berubah-ubah. Tergantung niatnya ketemu gimana. Dia (siluman ular) akan berubah bentuk seperti itu,” imbuhnya.
Beberapa cerita mengenai kawasan Lava Bantal yang beberapa tahun lalu sering digunakan sebagai tempat ritual dibenarkan oleh Sugiri. Sejumlah orang tak dikenal datang, menuruni jalan setapak menuju sungai dan melakukan semedi di bantaran sungai opak itu.

“Ada yang ritual banyak, tapi kita tidak mengetahui pasti. Kan itu ritualnya malam, dan di bantaran sungai itu. Kita mau menegur pun takut salah karena daerah itu juga di perbatasan desa. Ada katanya yang nyari kedudukan biar disayang sama pimpinan. Ya kalau di sini kan masih ada adat istiadat, harusnya hal seperti itu (ritual), tidak dilakukan,” tandasnya.
Sugiri yang tinggal persis di samping taman Lava Bantal, membuka cerita sedikit perihal tenggelamnya seseorang di wisata di sungai itu beberapa tahun lalu. Selain karena adanya unsur mistis, keteledoran diduga juga menjadi penyebab meninggalnya wisatawan setelah tenggelam di sungai opak.

“Di jembatan baru itu kan ada yang tenggelam dulu. Itu ada mistisnya, ada keteledoran wisatawan juga . Yang namanya proyek itu kan pasti ada tukar banding. Kontraktor besar itu kan pasti punya backingan, biar dia dan anak buahnya selamat, akhirnya kan penunggunya nyari sendiri. Dulu (penunggunya) mintanya ayam (manusia). Saat kejadian kita sudah negur, tapi orang itu ngeyel, kita kan yang tahu di situ dangkal atau tidak. Kalau di alam, kita itu jangan pernah ngepal (sombong),” terangnya.
Cerita yang tak masuk akan lain mengenai penunggu di Lava Bantal juga diceritakan Suharno, Ketua RW Dusun Watuadek, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah. Dia mengungkapkan jika warganya pernah melihat sosok ular naga yang sangat panjang sedang minum air aliran sungai opak.

“Saya diceritani tetangga saya pas dia mau semedi di situ, dia lihat naga kepalanya di sungai opak, badannya itu besarnya seperti pohon kelapa dan panjang sampai bukit di Watuadek itu. Dia cerita sama saya sampai panas dingin,” ujarnya.
Harno yang saat ditemui sedang mengecek sawah di samping dusunnya, membenarkan jika Lava Bantal hingga saat ini masih sering dipakai untuk semedi.
“(Sering dibuat semedi?) sering, malam Jumat kliwon sama Selasa kliwon, sampai sekarang itu masih, obong-obong (bakar-bakar) dupa,” tandasnya.
Meskipun sering dijadikan tempat ritual, Harno mengatakan hingga saat ini belum ada larangan untuk bersemedi. Ia hanya meminta agar ritual seperti itu tidak mengganggu warga sekitar.

“Kalau mintanya (semedi) untuk apa saya tah tahu. Penting tidak mengganggu warga,” pungkasnya. (C-8)

Read previous post:
Thuyul Dibuang, Mencari Biyung

PAGI-PAGI benar, matahari belum keluar dari peraduannya, Mbok Mulkini sudah berjalan menuju pasar krempyeng dusun Bangsri. Barang jualannya berupa gethuk

Close