Petani Lawan Tikus dengan Galvalum

MERAPI-MUHAMMAD RIDWAN  Petani memasang balvalum untuk mengurangi tikus.
MERAPI-MUHAMMAD RIDWAN
Petani memasang balvalum untuk mengurangi tikus.

MOYUDAN (MERAPI) – Hama tikus khususnya di wilayah Sleman bagian barat, sering kali membuat sejumlah komoditas panen padi menjadi gagal. Hal ini membuat sebagian petani di wilayah tersebut geram dan bahkan mengurungkan niatnya untuk menanam padi. Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Wawan Prasetia yang selama enam bulan terakhir intens mendekatkan diri kepada petani, mengaku sering mendapat beragam keluh kesah petani soal serangan hama tikus.

“Banyak petani di bagian selatan dan barat Sleman itu bertahun-tahun, petani itu tidak panen. Petani itu begitu panen gagal, panen lagi, gagal lagi sampai petani itu lemes. Karena modalnya habis diserang tikus kalau tiap panen,” ungkap Wawan, Jum’at (17/1).

Namun belum lama ini, sejumlah petani di Padukuhan Ponggok, Kecamatan Moyudan menemukan cara mengurangi serangan hama tikus, yakni menggunakan galvalum. “Sempat kita adakan geropyokan sama pengomposan, tapi dapat tikusnya ya cuman 5 sampai 8 tikus. Kita sama petani diskusi terus sampai ada solusi dengan menggunakan galvalum. Jadi galvalum itu dipasang memutari satu petak sawah dan tikus tidak masuk,” paparnya.

Meski pemasangan galvalum sangat efektif, namun nyatanya hama tikus tidak kekurangan akal. Walau tidak sebanyak sebelum dipagari dengan galvalum, tikus pun masih bisa masuk ke sawah dengan menggali tanah untuk melewati pagar galvalum.

“Namanya tikus itu ya tidak kekurangan akal, dia menggali tanah kan bisa. Tapi sudah kita akali dengan membuat perangkap di lubang yang sudah digali tikus dan hasilnya lebih dari 300 total tikus pernah tertangkap itu,” ujarnya.

Menggunakan galvalum tentu saat ini dinilai Wawan menjadi ide yang sangat cemerlang dan bagus untuk mengurangi gagal panen akibat hama tikus. Namun biaya yang dikeluarkan petani tentu tidak sedikit untuk memagari seluruh areal persawahan yang ditanami padi.

“Ada petani yang menghabiskan dananya sampai 8 juta untuk sekitar 3.000 meter persegi,” tandasnya.
Keberhasilan petani itupun sudah dipresentasikan ke Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman. Namun apresiasi dari pemerintah kurang terlihat dengan hanya menyetujui kurang dari setengah dana yang usulkan.

“Baru disetujui Rp. 190 juta dari usulan Rp. 500 juta. Nanti teknisnya seperti apa dari dinas (BP3 Sleman). Ya kalau dihitung dari luas lahan pertanian, itu masih kurang, tapi kita upayakan untuk terus menaikkan alokasinya,” imbuhnya.

Wawan berharap pemerintah serius dalam upaya penyelesaian persoalan mendasar yang berkaitan dengan pertanian. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran di bidang pertanian serta pemaksimalan petugas di pertanian dari dinas terkait

“(masalah) Tikus itu saja sudah bertahun-tahun ada, tapi baru ketemu solusinya. Kita harus berani (menaikkan) anggaran. Dan juga petugas seperti penyuluh dan sebagainya yang ada di lapangan itu ikut memantau bersama petani setiap hari,” tutupnya dengan tegas. (C-8)

Read previous post:
Pepaya Jepang Sebagai Anti Malaria

TAK sedikit jenis tanaman berkhasiat obat dimanfaatkan bagian daun-daunnya. Dengan izin Yang Maha Kuasa,  tak sedikit warga merasa cocok memanfaatkannya

Close