Disindir Sebagai ‘Sampah’, Pamong Polisikan Kades

BANTUL (MERAPI)- Kepala Desa Srigading, Sanden, Bantul, Wahyu Widodo dilaporkan polisi oleh perangkat desanya sendiri, Sulistyantoro dengan tuduhan pencemaran nama baik. Korban kecewa karena disindir dengan sebutan ‘sampah’ oleh terlapor. Wahyu pun membantah tuduhan itu.
Hingga kini kasus itu masih bergulir dan sudah ada 11 saksi yang diperiksa. Kuasa Hukum Sulistyantoro, R Sunu Yulimawan menyebut ada pernyataan Kades Srigading yang mengarah pada pencemaran nama baik kliennya tersebut. Pernyataan kades itu berawal pada chattingan di grup WhatsApp perangkat desa setempat. Dalam grup whatsapp tersebut Wahyu Widodo menyebut kalimat sindiran yang menyebut kata ‘sampah’. “Kita bersihkan sampah di Kantor Balai. Sampah itu beratnya 90 kilogram. Jawa bukan londo,” sebut Sunu menirukan kalimat kades di dalam grup tersebut, Jumat (17/1).
Kemudian saat dilaksanakan rapat koordinasi perangkat desa, kliennya menanyakan statmen kades yang menyebut ‘sampah’ di grup tersebut. Yang intinya menanyakan siapa yang dimaksud sampah oleh kepala desa.

Saat ditanyakan, Wahyu menolehkan muka lalu tangannya menunjuk ke arah Sulistyantoro. Menurut Sunu, hal itu menegaskan bahwa yang dimaksud sampah adalah Sulistyantoro. “Itu di forum rapat,” tegasnya.
Sunu menilai pernyataan kades tersebut tidak sepantasnya. Apalagi itu di hadapan sekitar 25 orang peserta rapat. Kliennya kemudian melaporkan Wahyu Widodo ke Polres Bantul pada 1 Oktober 2019. Pihaknya melaporkan Kades Srigading itu dengan sangkaan pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik. “Sekarang ada 11 saksi yang sudah diperiksa,” imbuhnya.
Sementara, Sulistyantoro menyebut polemik dengan pimpinannya itu sudah terjadi sejak lama. Pertama kalinya ketika tanggal 11 Februari 2019 dirinya diminta untuk menyelesaikan laporan anggaran pendabatan belanja desa (APBDes). Saat itu sebagai Kaur Keuangan dirinya kemudian menyelesaikan laporan pada 14 Februari 2019. Setelah itu justru dirinya dipindah tugaskan pada posisi Kaur Perencanaan Desa Srigading. “Padahal posisi Kaur Perencanaan itu tidak kosong, ditukar posisinya dengan saya,” ungkapnya.

Sejak saat itu polemik semakin meluas, bahkan Wahyu Widodo melayangkan surat peringatan hingga berkali-kali kepadanya. Menurutnya, surat peringatan itu mengarah pada keinginan Kades agar Sulistyantoro mengundurkan diri. Bahkan Wahyu Widodo dikatakannya membuat surat rekomendasi pemecatannya yang urung ditandatangani oleh camat setempat. “Kecamatan tidak mau tandatangan karena belum ada bukti hukum terhadap kesalahan-kesalahan saya,” ujarnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kades Srigading, Wahyu Widodo membenarkan pelaporan dirinya tersebut. Bahkan pihaknya juga mengakui jika sudah dipanggil dan dimintai keterangan oleh Polres Bantul. Namun begitu dia menyangkal jika dikatakan sudah melakukan pencemaran nama baik terhadap perangkat desanya tersebut. “Saya tidak pernah mengatakan Sulis itu sampah. Dia hanya baper saja,” sebut Wahyu.

Sementara terkait kata-kata sampah yang dilontarkan di grup whatsapp, Wahyu menyebut jika kata sampah itu tidak mengarah pada Sulis. Namun berarti yang sebenarnya, karena di balai desa memang ada sampah seberat 90 kilogram yang harus dibersihkan. “Bekas kayu, tunggak banyak, bobotnya lebih 90 kilogram,” pungkasnya.(C1)

Read previous post:
SOPIR HILANG KENDALI, MOBIL TERPEROSOK TEBING-Avanza ‘Mendarat’ di Atap Rumah

WONOSARI (MERAPI)-Kecelakaan tunggal terjadi di ruas jalan kampung Dusun Pagutan, Pengkol, Nglipar, Gunungkidul, Jumat (17/1) siang. Mobil Toyota Avanza Nopol

Close