GERAMNYA IBU KORBAN LIHAT PELAKU KLITIH-“Nyawa Harus Dibayar Nyawa”

BANTUL (MERAPI)- Bidiastuti nampak lemas dan menyimpan dendam mendalam saat melihat pelaku penyerangan terhadap putranya Fatur Nizar Rakadio di Mapolres Bantul, Selasa (14/1) siang. Dia bersama beberapa anggota keluarga dan rekan korban sengaja datang untuk melihat wajah pelaku penyerangan terhadap putranya yang akrab dipanggil Dio tersebut. Mendengar ancaman hukuman yang ditetapkan polisi, Bidiastuti mengaku belum puas. Dia ingin kematian putranya itu dibayar dengan hukuman yang setimpal. Sementara rekan korban menceritakan mencekamnya kejadian pada 14 Desember 2019 tersebut.

APS (18) yang ditetapkan sebagai tersangka, oleh beberapa petugas dibawa keluar ruang tahanan menuju ke ruang lobby Mapolres Bantul. Tatapan Bidiastuti tak hentinya mengarah kepada pelaku yang mengenakan kaos tahanan dengan tangan terborgol. Ibu 39 tahun itu didampingi beberapa kerabatnya. Sesekali matanya berkaca-kaca mendengarkan penjelasan Kapolres Bantul tentang kejadian yang menimpa putra keduanya tersebut. “Nyawa harus dibayar dengan nyawa,” sebutnya saat ditanyakan tentang ancaman hukuman yang ditetapkan kepada APS.
Bidiastuti tidak pernah menyangka hanya karena iseng, para pelaku ini tega menyerang Dio. Menurutnya, kematian siswa kelas X salah satu SMK di Depok Sleman itu membuatnya sangat kehilangan. Apalagi, di mata keluarga, Dio dikenal sebagai anak yang baik dan tidak pernah punya musuh sebelumnya. Bahkan selama sakit dan menjalani perawatan di rumahsakit, Dio selalu menanyakan soal sekolahnya terus. Menurutnya satu minggu sebelum meninggal, putranya dalam kondisi sadar dan dapat diajak komunikasi. Dio sempat khawatir tidak bisa mengerjakan tugas sekolah karena kondisinya yang lumpuh. “Nanti kalau ada tugas dari sekolah, ibu saja ya mengerjakan,” ucap Bidiastuti menirukan perkataan putranya semasa hidup.

Warga Ponggok 1, Jetis, Bantul itu bercerita pertama kali mendengar kabar putranya sekitar pukul 14.30 pada 14 Desember 2019. Dio pergi ke pantai bersama teman sekelasnya. Rombongan jurusan perminyakan tersebut dikatakan Bidiastuti janjian kumpul di sekolah pagi harinya baru berangkat bersama ke pantai. Siangnya Dio memberi kabar melalui putra pertamanya bahwa sedang di rumahsakit karena kecelakaan. “Sebelumnya sekitar pukul 12 dia (korban) telepon saya, bilang kalau teman-temannya akan mampir ke rumah,” sebutnya.
Salah satu rekan korban, Farhan Pangestu membenarkan jika rombongan tersebut sebenarnya menuju ke rumah Dio. Pada saat pulang dari pantai mereka berencana mampir ke rumah korban sebelum pulang ke rumah masing-masing. Siswa umur 15 tahun itu menyebutkan rombonganya sebanyak 28 orang dengan menggunakan 14 motor. Melaju dari arah Gunungkidul melalui Jembatan Siluk. Saat berpapasan dengan kelompok pelaku dan tiba-tiba saja mereka diserang dengan lemparan cat. Para pelaku melemparkan beberapa bungkus cat berwarna kuning, hijau dan biru. Karena diserang menggunakan cat, rombongan ini kemudian berlarian ke arah utara.

“Rombongan banyak yang kena lemparan, kita lari,” cerita Farhan.
Melihat rombongannya lari, ternyata kelompok pelaku putar arah dan mengejar ke arah utara. Insiden itu dikatakan Farhan terjadi di depan Toko Besi Srigading, Jalan Siluk-Imogiri. Saat itu posisi korban berada di barisan tengah di belakang Farhan. Pelaku yang mengendarai motor seorang diri memepet dan menendang motor korban. Sontak korban terjatuh dan diikuti oleh dua motor lain di belakang korban yang ikut terjatuh. Melihat kondisi ini rombongannya berhamburan menyelamatkan diri masuk ke dalam kampung. “Teman-teman lari ke dalam kampung takut diserang, mereka (rombongan pelaku) lurus ke utara,” ungkapnya.

Melihat para pelaku yang diamankan polisi, Farhan mengaku tidak ada yang dikenali satu pun. Bahkan menurutnya tindak kekerasan itu tidak dikarenakan masalah sebelumnya. Dia menyebut tidak ada geng di sekolahnya, bahkan korban di sekolah juga biasa saja, artinya tidak pernah terlibat permusuhan dengan teman atau sekolah lain. “Ya dia biasa saja, di sekolah juga tidak ada geng,” pungkasnya. (C1)

Read previous post:
Kesbang-Forum Kelompok Masyarakat Reresik Malioboro

KEGIATAN bersih-bersih Malioboro atau Reresik Malioboro setiap Selasa Wage terus dilakukan. Bukan hanya oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) dan komunitas

Close