RATUSAN ORANG DIBERI ANTIBIOTIK-2 Sapi Mati Mendadak, Warga Dilarang Dekati Kandang

WONOSARI (MERAPI)-Kematian hewan ternak secara mendadak yang diindikasikan terserang antraks di Kabupaten Gunungkidul makin serius dan meluas. Dua ekor sapi diketahui mati medadak secara beruntun dan terakhir menimpa sapi betina milik Tukimin (58) warga Dusun Gunungkrambil, Sidorejo, Ponjong, Gunungkidul.
Beberapa saat sebelumnya, kasus kematian sapi mendadak juga terjadi di Dusun Semuluh, Ngeposari, Semanu. “Sebelum dikubur, bangkai sapi tersebut lebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan diambil sampel darahnya untuk diuji lab Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul,” kata Dukuh Gunungkrambil, Fitri Cahyanto kepada wartawan, Selasa (14/1).

Untuk mengetahui penyebab kematian kedua ekor sapi secara mendadak tersebut, baik Dinas Pertanian dan Pangan, maupun Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul menunggu hasil uji lab dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates. Meskipun belum diketahui hasilnya, saat dilakukan peguburan bangkai sapi, warga dilarang untuk mendekat maupun melakukan kotak langsung dengan sapi yang mati maupun kandang tempat untuk memelihara hewan ternak tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya penularan melalui media tanah dan sekitar habitat yang digunakan untuk memelihara sapi. “Penguburan bangkai sapi tersebut dilakukan petugas kesehatan dari dinas dan mereka itu mengenakan pakaian khusus,” imbuhnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, dr Dewi Irawaty mengatakan, jumlah pemberian antibiotik terhadap masyarakat di lokasi sekitar sapi-sapi mati mendadak meningkat. Dari semula sebanyak 560 orang kini menjadi 624 orang dan dimungkinkan akan terus bertambah.

Karena lokasi sapi mati mendadak yang saat ini terjadi di dua Kecamatan Ponjong dan Semanu terus bertambah. Padahal semula hanya terjadi di dua dusun di Desa Gombang, Ponjong. “Tetapi saat ini kematian sapi juga terjadi di Kecamatan Semanu yang merupakan wilayah perbatasan dua kecamatan tersebut,” jelasnya.
Dikatakan, pemberian antibiotik terhadap masyarakat terutama daerah edemi ini memang penting untuk mencegah terjadinya penularan penyakit antraks terhadap manusia. Rentetan peristiwa kematian hewan ternak semula terjadi di Kecamatan Karangmojo, kemudian meluas di Ponjong dan Kecamatan Semanu yang sama-sama merupakan wilayah berdekatan. “Khusus persediaan antibiotik, seluruh Puskesmas di 18 kecamatan telah tersedia,” ucapnya.

Dinas Kesehatan melalui RSUD mendata jumlah yang menjalani perawatan akibat terkena suspect antraks mencapai belasan warga dan dari jumlah tersebut 1 orang dinyatakan meninggal. Namun untuk memestikan penyebab kematiannya apakah karena tertular antraks atau tidak masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Bogor, Jawa Barat.
Sebagaimana diketahui adanya penykit antraks pada hewan ternak berawal di Desa Bejiharjo, Karangmojo, kemudin meluas di Kecamatan Ponjong dan diduga meluas di Kecamatan Semanu. Dari sampel tanah dan darah sapi mati yang diuji labkan terdapat salah satu usaha pemotongan hewan terindikasi terpapar antraks. Puluhan warga yang mengonsumsi daging sapi mati mendadadak itupun diindikasi terpapar antraks. Tetapi saat ini sudah dilakukan antisipasi dari dinas maupun Pemkab Gunungkidul. (Pur)

Read previous post:
Hadapi Bencana, PMI Sleman Siagakan 1.400 Relawan

SLEMAN (MERAPI)-Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Sleman telah mempersiapkan relawan untuk menghadapi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Tidak kurang dari

Close