Pelaku Tak Pernah Jera, Cah KLitih Harus Dihukum Maksimal

YOGYA (MERAPI)- Aksi cah klitih di Yogya seakan tak bisa hilang.
Bahkan kecenderungannya makin brutal dan kejam. Korban tewas pun berjatuhan. Untuk itu, ada harapan mereka harus dihukum maksimal.
Kebrutalan cah klitih terbaru menewaskan seorang pelajar, Fatur Nizar Rakadio atau akrab dipanggil Dio warga bantul. Dia menghembuskan nafas terakhirnya, Kamis (9/1) usai dirawat 27 hari karena diserang cah klitih. Beberapa waktu lalu, seorang pelajar, Egy Hermawan juga tewas akibat dibacok cah klitih di Kota Yogya.
“Sebagai efek jera seharusnya hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku klitik adalah hukuman maksimal, apalagi sampai korban meninggal. Tindakan mereka kejam dan tak berprikemanusiaan. Hukuman maksimal bisa menjadi peringatan kepada pelaku-pelaku lain agar tidak melakukan hal yang sama,” ujar Sekretaris DPD Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) DIY, Mohamad Novweni SH kepada Merapi

, Senin (13/1) petang.

Tetapi selain penindakan, pihaknya menganjurkan agar langkah preventif tetap dilakukan. Upaya yang paling penting adalah peran aktif orangtua siswa diminta selalu melakukan kontrol terhadap anak-anaknya agar tidak salah pergaulan dan salah jalan. Karena sebagian besar pelaku klitih adalah pelajar yang masih di bawah umur.
Sekretaris DPC Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Gunungkidul, H Kokok Sudan Sugijarto SH menilai dari perspektif hukum pelaku harus dihukum secara tegas sesuai dengan aturan hukum. Tetapi jangan sampai lupa perhatian orangtua dan ketegasan pihak sekolah sangat dibutuhkan.
Karena perhatian orangtua dan ketegasan pihak sekolah menjadi palang pintu terdepan bagi pelajar. “Untuk itu kerja tersebut harus dilakukan terus menerus,” jelas Kokok.

Di sisi lain, Sekretaris DPC Ikadin Wates, Detkri Badhiron SH MH melihat klitih sebagai fenomena sosial khususnya di DIY yang tidak bisa kita sangka. Perilaku klitih dapat diindentikan dengan kenakalan remaja yang masih kategori anak. Karena rata-rata usia di bawah 18 tahun sesuai UU 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
“Kondisi ini tentu meresahkan kita semua. Tentang hukuman apa yang pantas tergantung dari kejahatan yang dilakukan. Hal itu tertuang dalam UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah memuat tindak pidana yang dapat dikenakan terhadap penegak hukum yang dalam memeriksa perkara anak yang berhadapan dengan hukum melakukan tindak kekerasan atau penyiksaan terhadap anak. Ketentuan tersebut terdapat di dalam Pasal 80 ayat (1), (2) dan (3),” ungkap Detkri.

Sementara itu, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY berencana membuat Pokja (kelompok kerja) yang fokus pada upaya pencegahan klitih yang belakangan ini marak di Yogyakarta. Saat ini baru tahap konsep. Hal ini diungkapkan Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Senin (13/1) di Kompleks Kepatihan.
“Pokja, ya karena sekarang kehidupan masyarakat keluarga jadi lebih bebas, dulu tidak ada HP (handphone) kalo kita makan dengan anak cucu bisa dialog kalo sekarang kita makan anaknya semuanya pada pegang HP,” ungkap Sultan terkait maraknya klitih di Kota pelajar itu. Sultan mengatakan hal itu merupakan perubahan luar biasa dalam pendidikan keluarga.
“Akhirnya kita duduk sambil makan itu dalam keadaan diam,” imbuhnya.
Realisasi pokja sendiri baru pada tahap membuat konsep dan struktur.
“Ya nanti mereka baru membuat konsep strukturnya kira-kira bagaimana, ya kan bagi saya inikan bagian dari yang dimaksud dengan keluarga tangguh itu lho,” tegasnya.

Sultan mengungkapkan pelaku klitih mayoritas adalah anak yang kurang beruntung dalam keluarga misalnya broken home. Pendekatan budaya akan dilakukan sebagai upaya pencegahan. “Kita coba untuk melakukan pendekatan budaya untuk berdialog, sebetulnya keluarga itu punya masalah dalam kehidupan, ekonomi, atau apa yang mungkin bisa kita bantu dalam upaya untuk memperbaiki kondisi,” imbuhnya.
Menurut Sultan, bila hanya sekadar memberi hukuman tidak akan menyelesaikan masalah, sebab keluarga adalah aspek penting dan perlu diajak berdialog secara terbuka.

“Kan persoalan berbeda-beda gitu loh, ya kami mencoba menangani itu tapi kita coba mendatangi rumah dan berdialog dengan keluarga,” imbuhnya.
Sultan sepakat akan ada pembicaraan lebih lanjut bagaimana membangun dialog dengan orangtua dan melibatkan saudara-saudara yang terkait.
“Jadi kita sepakat nanti ada pembicaraan lagi, mungkin 1 bulan lagi bagaimana caranya kita membangun dialog dengan orgtua dari anak2 itu,” tutupnya. (C-5/C-4).

Read previous post:
Koramil Moyudan Bantu Korban Bencana Alam

SLEMAN (MERAPI) - Koramil 14/Moyudan membantu mengatasi pohon tumbang, Minggu (12/1), akibat hujan deras disertai angin kencang. Kegiatan tersebut dibantu

Close