BANTUL WASPADAI SAPI DARI GUNUNGKIDUL-Pantau Ketat Pasar Hewan dan Rajin Semprotkan Desinfektan

BANTUL (MERAPI)- Kemunculan penyakit antraks di Gunungkidul membuat Pemkab Bantul dalam hal ini Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) lebih waspada. Pasalnya sebagian sapi yang masuk ke daerah ini berasal dari Gunungkidul. Pantauan ketat diberlakukan untuk pasar-pasar hewan yang ada di Kabupaten ini. Hingga Senin (13/1) DPPKP memastikan belum ada temuan antraks di wilayahnya.
Kepala Bidang Peternakan DPPKP Bantul, Joko Waluyo memastikan tidak ada temuan tersebut. Dia pun berharap Bantul terbebas dari penyakit yang dikenal dengan sapi gila itu. Menurutnya, kemunculan antraks di Gunungkidul sudah sempat terjadi pada bulan April 2019 lalu. Sejak itu Joko menyebut sudah menambah intensif pengawasan terhadap ternak yang berasal dari Gunungkidul. Sehingga pengawasan distribusi ternak pun diperketat. “Sejak wabah pada April 2019 itu kami sudah perketat pengawasan sampai sekarang,” tegasnya.

Dikatakan, pengawasan ketat terhadap hewan ternak itu tidak hanya dilakukan di pasar hewan, namun juga dilakukan di rumah-rumah pemotongan hewan. Pihaknya bekerjasama dengan Balai Besar Verteriner (BBV) untuk pengujian sampel daging. Pengawasan pada rumah pemotongan hewan pun dilakukan menggunakan body feet. Hal ini tentu saja dinas ingin memastikan kelayakan dan keamanan daging yang dikonsumsi masyarakat. “Pengawasan juga kami laksanakan di kandang-kandang kelompok,” tambahnya.
Joko menyebut, potensi munculnya antraks di Bantul cukup besar. Karena menurutnya konsumsi daging di Bantul juga besar. Sehingga diakuinya antisipasi dan pantauan harus lebih ekstra. Hal ini bertujuan agar perekonomian tidak terpengaruh. Di Bantul menurut catatannya, terdapat 23 jagal atau pemotongan hewan, yang menyuplai 70 persen kebutuhan daging sapi di DIY. Sehingga akan sangat memengaruhi perekonomian Bantul jika wabah tersebut sampai masuk dan terlambat penanganannya. “Termasuk konsumsi daging kambing, warung sate klathak juga pengusaha krecek, banyak di Bantul,” imbuhnya.

Pengawasan ketat itu disebutkan Joko dilakukan sedikitnya 20 petugas medis dan paramedis yang berasal dari DPPKP Bantul serta Puskeswan. Setiap hari seluruh petugas menurutnya terjun langsung ke lokasi-lokasi tersebut. Terlebih lagi untuk pasar hewan seperti Imogiri, karena lokasi itu tempat berkumpulnya ternak dari berbagai daerah, petugas selalu menyemprotkan disinfektan setiap selesai pasaran. “Kalau sapi yang dari Gunungkidul kebanyakan sapi bibit untuk pembesaran, bukan sapi konsumsi. Untuk sapi konsumsi sebagian dari Bantul sendiri, sebagian lagi dari luar DIY,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu warga Dlingo, Haryono mengaku resah dengan munculnya antraks di Ponjong, Gunungkidul. Ayah tiga anak ini khawatir sapi yang berada di sekitar tempat tinggalnya akan tertular penyakit yang disebabkan bakteri Bacillius Anthracis tersebut. Menurutnya warga di kampungnya sebagian besar merupakan peternak. Sementara wilayahnya berbatasan langsung dengan Gunungkidul. Sehingga kekhawatiran itu menurutnya lumrah. Setiap kali ada ternak yang sakit, dia berupaya melapor kepada penyuluh dan dokter puskeswan wilayahnya. “Puskeswan ada di daerah Dangwesi, ya dekat sini. Pokoknya kalau sakit gimana-gimana langsung suruh periksa, supaya tidak khawatir,” ungkapnya. (C1)

Read previous post:
Sepatu Dicuri di Masjid, Farid Maafkan Pelaku

DANUREJAN (MERAPI)- Aksi pencurian kembali terjadi di kompleks masjid DPRD Provinsi DIY di kawasan Malioboro, Yogya, Senin (13/1). Beruntung aksi

Close