MELAWAN SAAT DITANGKAP-Cah Klitih Lempar Polisi Pakai Botol

YOGYA (MERAPI)- Polisi terus berupaya keras membersihkan aksi klitih di Yogya. Pada Minggu (12/1) dinihari, aparat Polresta Yogya mengamankan 10 remaja, sebagian besar pelajar yang diduga anggota gerombolan klitih saat hendak cari mangsa. Tak tanggung-tanggung, polisi mengamankan 14 bilah senjata tajam berbagai jenis dari tangan pelaku.
Selain sajam, polisi juga mengamankan bush gir, balok kayu, botol miras, dan 7 sepeda motor milik pelaku. Mereka sempat melawan polisi saat hendak dibekuk dengan melemparinya menggunakan botol miras.
“Mereka diduga hendak mencari musuh dari rombongan kelompok lain di jalanan,” beber Kasat Reskrim Polresta Yogya Kompol Sutikno kepada wartawan kemarin.

Dikatakan, awlanya polisi meringkus dua pelajar, BD (15) warga Bantul berperan sebagai joki dan DK (16) warga Kadipaten, kota Yogya yang dibonceng. Mereka berpapasan dengan petugas yang melakukan patroli di Kota Yogya pada Minggu pagi. Ternyata, mereka takut saat melihat polisi patroli. Mereka langsung putar berbalik arah menjauhi petugas yang sedang patroli.
Merasa curiga, petugas mengejar dua orang tersebut. Sebelum sampai di Ringroad wilayah Sewon, Bantul, mereka berhenti kemudian melempari petugas dengan botol miras. Petugas tambah curiga dan langsung mengejar kedua pelaku. Tak berapa lama, keduanya berhasil diamankan polisi.
Saat digeledah, petugas mendapati senjata tajam jenis pedang yang dibawa DK. Kepada petugas, mereka mengaku hendak mencari musuhnya dari kelompok lain atau aksi balas dendam karena salah satu anggota gengnya sempat menjadi korban.

Selanjutnya kedua pelaku langsung digelandang ke Polresta Yogya guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Setelah mengamankan kedua pelaku, petugas mengembangkan dengan melakukan penggeledahan di rumah DK di Jalan Kadipaten.
“Saat memeriksa rumah pelaku didampingi Ketua RT dan orangtuanya, ditemukan 13 senjata tajam dengan berbagai jenis,” jelasnya. Di rumah itu, petugas juga menjumpai 8 pelajar lain tengah ngumpul. Polisi menduga komplotan ini tengah merencanakan aksi klitih. Mereka pun kemudian ikut diangkut ke Mapolresta Yogya.
Menurutnya, delapan pelajar tersebut beralamatkan di Bantul dan kota Yogya. Menurut Sutikno, usia mereka rata-rata sekitar 15-18 tahun. Mereka adalah HRT (16), JIP (15), RAS (18), MN (15), MK (15), MGD (16) dan DYM (18).

“Delapan remaja ini diamankan saat masih standby di tempat perkumpulan,” jelasnya. Sutikno menambahakan, dari hasil penyelidikan, pelaku DK sebelumnya pernah berurusan dengan pihak kepolisian. Saat itu pelaku ini pernah menyerang mobil dinas Polsek Wirobrajan pada 2019 lalu.
“Karena DK adalah anak-anak dilakukan diversi pada saat itu,” jelasnya.
Namun, kata Sutikno, karena pelaku sudah pernah diversi sebelumnya maka tindak pidana kenakalan remaja di jalan atau aksi klitih akan tetap dilakukan sesuai pasal yang ada. Pelaku sudah tidak bisa diversi.

“Jika anak-anak di bawah umur dan melakukan tindakan pidana maka hukumannya di bawah 7 tahun. Pengalihan pidananya yaitu dengan cara diversi atau cara penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana,” jelasnya.
Sedangkan para pelaku yang membawa senjata tajam, dijerat pasal 2 ayat 1 undang-undang darurat nomor 12 tahun 1961. “Dua orang diserahkan ke Polres Bantul, karena diamankan di wilayah hukum Polres Bantul,” tandasnya.(Shn)

Read previous post:
Seto Nurdiyantoro: Bola di Tangan Manajemen PSS

SLEMAN (MERAPI) - Manajemen PSS Sleman dituntut berpikir lalu mengambil keputusan cepat usai pertemuan dengan Seto Nurdiyantoro. Jika memenuhi keinginan

Close