Ulat Samia Hasilkan Kain Sutra Kualitas Jempolan

ULAT sutera ternyata ada beberapa jenis. Selain yang pemakan daun murbei, ada pula ulat sutera pemakan daun singkong maupun jarak kepyar, yakni ulat dengan nama ilmiah Samia ricini. Budidaya ulat ini satu di antaranya berada di kawasan Pengasih Kulonprogo. Ternyata benang yang dihasilkan dari kepompong ulat sutera Samia ricini lembut, sehingga layak dibudidayakan.

Salah satu penggiat budidaya Samia ricini, Yunianto Hargo Nugroho, SHut menuturkan sekitar 3,5 tahun lalu bersama enam temannya sepakat membudidayakan ulat sutera ini. Apalagi daun jarak kepyar serta singkong cukup mudah diperoleh dan ditanam di kawasan tersebut. Kelompok yang menamakan Jantra Mas Sejahtera (Jamtra) ini akhirnya berhasil membudidayakan Samia, bahkan mengolah kokon (bagian luar kepompong) menjadi kapas dan benang dengan alat pemintal tradisional.

“Lalu dari benang menjadi kain, kami kerjasama dengan pemilik alat tenun tanpa mesin. Lalu produk akhirnya terutama wujud syal, selendang dan kain sutera untuk pakaian batik, sibori maupun warna alam bekerjasama dengan beberapa pihak,” kata Yunianto kepada Merapi, baru-baru ini.

Ditemui di lokasi usahanya, suami dari Nur Indah ini menjelaskan, kain sutera berbahan kokon dari Samia ricini mempunyai banyak keunggulan. Antara lain natural, halus, lembut serta doft atau tak berkilau. Ketika dijadikan beberapa produk, agar pamor naturalnya terjaga, antara lain perlu menghindari pewarna kimia. Ia pun menunjukkan foto-foto dari tahapan telur Samia sampai produk akhir. Harga produk jadi mulai dari syal, selendang dan kain, yakni kisaran Rp 800.000 sampai Rp 1,8 juta per lembarnya.

“Kalau untuk bisa melihat ulat-ulatnya, saat ini kami belum ada tahapan memelihara ulat sutera Samia ricini di rak-rak. Beberapa hari lagi, kalau ke sini akan bisa melihat tempat khusus untuk memelihara kupu-kupu yang awalnya juga berasal dari ulat Samia ricini. Dari kupu-kupu akan menghasilkan telur ulat sutera,” terangnya.

Setiap satu gram telur ulat Samia, sebut Anto, dapat menetas menjadi ulat kisaran 558 ekor ulat. Jika ada kematian ulat, umumnya sekitar 15 persen. Dari telur menetas sampai bisa menjadi kokon butuh waktu sekitar 22 hari. Harga kokon Samia ricini saat ini kisaran Rp 25.000 sampai Rp 28.000 perkilogram. Adapun untuk memelihara 150.000 sampai 200.000 ulat sutera jenis ini butuh lahan kisaran satu hektar untuk menanam tanaman jarak kepyar maupun singkong.

“Kalau tanaman singkong sebaiknya jenis singkong karet atau taun, karena daunnya lebih lebar-lebar dan ulatnya senang. Hanya saja saat musim kemarau, kualitas daun singkong menurun. Berbeda dengan daun jarak kepyar, baik musim kemarau maupun hujan tetap bisa baik,” tandas Anto.

Ditambahkan, ketersedian pakan sangat penting sebelum memelihara ulat tersebut. Untuk budidayanya, Jamtra juga sudah bekerjasama dengan sejumlah mitra di Wonosobo, Purworejo, Wonogiri serta Kulonprogo. Semua kokon dari mitra-mitra tersebut, sampai saat ini masih dibawa ke Pengasih untuk diolah sampai menjadi kapas serta benang dengan alat pemintal tradisional. (Yan)

Read previous post:
Lomba Lurah Bicara Bakal Diperluas 45 Kelurahan

UMBULHARJO (HARIAN MERAPI) - Kegiatan Lurah Bicara di Kota Yogyakarta pada tahun 2020 akan diperluas di 45 kelurahan. Kompetisi yang

Close