Piton Sepanjang 3,5 Meter Ndelik di Kandang Ayam

PENGASIH (MERAPI) – Warga Kemiri, Margosari, Pengasih, Kulonprogo digegerkan dengan kemunculan ular piton sanca kembang sepanjang 3,5 meter, Sabtu (21/12). Ular besar dengan bobot sekitar 20 kilogram tersebut diketahui sedang berada di kandang ayam warga, dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.
Keberadaan ular awalnya terdeteksi dari kegaduhan ayam yang dipelihara warga setempat, Tri Toto. Pada dini hari, istri Tri Toto, Neni Subekti mendengar suara ribut-ribut dari kandang ayam miliknya.
“Ayamnya gaduh, awalnya saya biarkan,” kata Neni.
Namun dalam waktu yang cukup lama, kegaduhan ayam di kandang tak juga berhenti. Neni kemudian berinisiatif membangunkan suaminya agar mengecek ke kandang ayam. Toto kemudian bangun dan mengecek kondisi ayam-ayamnya.

Tanpa diduga, Toto justru mendapati seekor ular piton berukuran besar. Ular tersebut sedang bersembunyi di bawah kandang ayamnya. Tidak mau ambil risiko, Toto meminta bantuan warga lainnya. Ular tersebut kemudian ditangkap bersama-sama dan dimasukkan ke dalam karung.
Pagi harinya, ular yang ditangkap warga menjadi tontonan. Banyak orang berdatangan lantaran penasaran ingin melihat langsung, mengingat ukurannya terbilang besar. Rencananya, ular tersebut akan diserahkan ke Kebun Binatang Gembira Loka.

Menanggapi temuan warga ini, Aji Rachmat, Ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia mengatakan, ular piton adalah ular yang tidak berbisa, namun tetap berbahaya karena gigitan dan lilitannya sangat kuat. Biasanya, ular ini tidak agresif menyerang, bahkan memiliki kecenderungan menghindar serta selalu mendeteksi gerakan.
“Jadi ketika menemukan ular piton, tidak langsung ditangkap tidak apa-apa,” katanya.

Aji kemudian membeberkan cara penanganan ular piton bila warga menemukan keberadaannya di lingkungan sekitar. Apabila berada di dalam lubang, ular tidak boleh ditarik. Namun jika sudah tertangkap, tutup kepala ular dengan kain, kemudian dimasukkan ke dalam kantong atau kotak dan diikat kuat. Masyarakat harus memperlakukan ular tersebut dengan tenang agar ular tersebut tetap tenang.
“Masyarakat tidak perlu melakban mulut ular agar tidak melukainya. Selain itu juga jangan menjerat kepala atau leher ular tersebut,” tegasnya. (Unt)

Read previous post:
PRABU WATU GUNUNG (4) – Perang Tanding Diganti dengan Cangkriman

Sanghyang Narada turun ke Marcapada mencari Bethara Wisnu untuk diajak ke Suralaya, menghadapi musuh karena ayahnya (Bethara Guru) tidak berani

Close