Ngebet Jadi Driver Ojol, 38 Orang Tertipu

DEPOK(MERAPI)- Polda DIY berhasil membongkar praktik penipuan dengan modus menawarkan jadi driver ojek online. Sebanyak 38 orang yang berniat jadi diver ojek online pun tertipu. Pelaku mengaku mampu memberikan akun ojek online dengan biaya Rp 1,8 juta.
Tiga anggota jaringan penipu ini dibekuk. Mereka yakni T (40) warga Kebun Jeruk, Jakarta Barat, MA (35) warga Cakung, Jakarta Timur dan A (22) Warga Imogiri, Bantul.
“Setiap korban harus membayar Rp 1,8 juta, kalau hendak daftar jadi driver ojek online,” ujar Dirreskrimsus Polda DIY Kombes Pol Tony Surya Putra didampingi Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto kepada wartawan, Selasa (10/12).

Dijelaskan, setelah banyak yang korban yang transfer, ternyata akun yang dijanjikan hanya abal-abal. Sebab pihak perusahan ojek online tak membuka lowongan driver. Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, ketiga pelaku sekarang harus mendekam di tahanan Mapolda DIY.
“Kita juga mengamankan barang bukti tiga ATM, satu buku rekening tabungan, satu jaket driver ojek online dan lima unit handphone milik pelaku,” katanya.
Dijelaskan Tony, terungkapnya kasus ini berawal dari laporan korban GK (20) warga Bantul pada Senin (11/11) lalu. Saat itu GK menceritkan pada bulan September 2019, ia membaca postingan di media sosial ada lowongan driver ojek online lewat jalur cepat.

Namun syaratnya korban harus membayar Rp 1,8 juta. Jika melalui prosedur resmi, dia harus menunggu antara 6-9 bulan baru dipanggil. Lewat medsos tersebut tertulis, bagi yang berminat bisa menghubungi nomer WA tersangka.
Setelah itu korban menghubungi nomer WA tersebut, dan kemudian mendapat balasan SMS dengan aplikasi Fake SMS yang menyatakan dia bisa masuk menjadi anggota driver online setelah mentransfer uang.
Usai mentransfer, dia mendapatkan akun namun tak bisa digunakan untuk order penumpang. Dia lantas mendatangi kantor resmi perusahaan ojek online, dan dikatakan tak ada pembukaan driver.

Setelah dicek, ternyata akun milik GK belum terdaftar menjadi anggota aplikasi driver online. “Mengetahui jadi korban penipuan, perwakilan provider driver online di Yogya bersama GK melapor ke Polda DIY,” jelasnya.
Mendapat laporan itu, petugas langsung melakukan penyelidikan dengan menelusuri nomer WhatsApp pelaku. Hasilnya polisi berhasil meringkus ketiga pelaku di lokasi terpisah. Dari hasil pemeriksaan, diketahui ada 41 orang yang sudah mengubungi pelaku. Dari jumlah itu, 38 orang sudah mentransfer Rp 1,8 juta lainnya belum mentransfer.
Menurut Tony, tersangka T dan MA ditangkap di Jakarta sedangkan A ditangkap di Bantul. Dalam menjalankan aksinya komplotan ini mempunyai peran masing-masing.

Di mana T mengaku sebagai karyawan driver online Jakarta yang membuat SMS palsu dengan memakai aplikasi Fake SMS seolah-olah dari provider driver online. Sedang MA berperan mengatur jalannya proses perekrutan driver online di Yogya.
Kemudian tersangka A berperan mencari korban dengan cara membuka lowongan kerja sebagai driver online melalui media sosial dengan jalur VIP. “Penipuan ini dilakukan secara rapi dan terencana,” tandasnya.
Kepada petugas, T mengaku sudah melakukan penipuan tersebut selama satu tahun.
Atas perbuatannya ini, pelaku dijerat pasal 51 ayat 1 jo pasal 35 UU No 19/2016 tentang perubahan atas UU No 11/2008 tentang ITE dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara dan atau denda Rp 12 miliar serta pasal 378 jo 55 KUHP tentang penipuan secara bersama-sama dengan ancaman empat tahun penjara.(Shn)

Read previous post:
GEGER PASAR GODEAN 1948 (4) – Pintu Rumah-rumah Didobrak Tentara Belanda

Keadaan pasar porak poranda, bangunan los-los yang biasa dipakai untuk berjualan ambruk, pohon-pohon Waru bertumbangan. Bahkan sebuah pohon kelapa di

Close