QTC Al-Mady Gelar Khotaman dan Imtihan

MERAPI – ISTIMEWA  Sebanyak 101 santri QTC Al-Mady mengikuti Khotaman dan Imtihan Tartil Tahfidz Juz 30 Turjuman Al Qur’an.
MERAPI – ISTIMEWA
Sebanyak 101 santri QTC Al-Mady mengikuti Khotaman dan Imtihan Tartil Tahfidz Juz 30 Turjuman Al Qur’an.

SLEMAN (MERAPI) – Qur’an Training Centre (QTC) Al-Mady Yogyakarta menggelar Khotaman dan Imtihan Tartil Tahfidz Juz 30 Turjuman Alquran, di Auditorium Kampus UPN “Veteran” Yogyakarta, Minggu (24/11). Kegiatan tersebut bertujuan menamatkan proses belajar para santriwan-santriwati.

Sebanyak 101 santri QTC Al-Mady mengkhatamkan Kaifatushalli, Tartil, Turjuman Alquran dan Tahfidz sekaligus menguji hasil belajarnya. Menurut Farida Akbar, Ketua Panitia Khotaman Imtihan Akbar QTC Al-Mady, tahun ini merupakan kali keempat Imtihan Akbar digelar.

Ia mengatakan, Khotaman Imtihan Akbar QTC Al-Mady juga digunakan untuk memperlihatkan metode QTC Al-Mady yang mempunyai program khusus yang tidak diajarkan di TPA lain, yaitu metode Ummi.

Keunggulan dari metode Ummi menurutnya, anak-anak bisa dengan mudah dan cepat mempelajari Al Qur’an dengan baik dan benar. Misalnya, untuk Turjuman, anak-anak bisa mengartikan per ayat dan per kata dari Tartil, Turjuman Al Qur’an serta yang baru yakni Kaifatushalli. “Rata-rata dalam satu tahun, anak-anak sudah mampu untuk menuntaskannya,” jelasnya.

Lanjut Farida, Imtihan Akbar tersebut dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab QTC Al-Mady untuk menyampaikan kepada publik, khususnya wali santri. Selain itu, Imtihan Akbar juga sebagai sosialisasi QTC Al-Mady yang menggunakan metode Ummi, program khusus yang tidak diajarkan di TPQ kebanyakan.

“Ummi Foundation Yogyakarta yang menerapkan, jadi QTC Al-Madylah yang pertama menjadi percontohan lembaga-lembaga TPQ dalam memakai metode Ummi ini,” ujarnya.
Baginya, QTC Al-Mady ini menjadi tempat pembelajaran Al Qur’an dari dasar yakni Tartil, setelah itu Turjuman ke Tajwid dan sesudahnya Tahfidz. Menurutnya, yang baru juga ada Kaifatushalli, kemudian mengartikan per kata dan per ayat hingga tuntunan shalat yang benar sesuai riwayat.

“Jadi hafalan Al Qur’an terus dipakai oleh anak-anak, termasuk ya waktu shalat dengan cara yang baik dan benar,” tuturnya.

Khusus untuk Kaifatushalli, Farida menyebut baru ada pertama di DIY, bahkan di Indonesia. QTC Al-Mady sendiri bekerjasama dengan Ummi Foundation untuk kali pertama program ini. Kaifatushalli penting untuk diketahui, hal itu agar umat Islam di Indonesia tidak salah paham dalam menyikapi dan mengomentari perbedaan gerakan shalat.

QTC Al-Mady juga menerapkan metode semi pondok, dimana para santri belajar mengaji empat kalid alam sepekan seusai pulang sekolah mulai pukul 16.00 hingga maghrib. “Ketertiban yang kami utamakan, kami ingin nggak sekedar meluangkan waktu belajar Al Qur’an tapi memahaminya,” jelasnya.

Menurut salah satu santri lulusan terbaik QTC Al-Mady 2019, Muhammad Hakim Fadli Himatullah, belajar Al Qur’an di QTC Al Mady sangat menyenangkan dan mudah dipahami. Ia mengaku bisa menuntaskan materi hanya dalam waktu satu tahun.
“Belajar Al Qur’an di QTC Al-Mady ngga berat, nyenengin kok, ustad dan ustadzahnya baik-baik. Aku sangat seneng dan bahagia banget bisa lulus dari Al-Mady,” ungkapnya. (C-2)

Read previous post:
KERUK TANAH GUNUNG TANPA IZIN- 3 Penambang Diganjar 4 Bulan Penjara

BANTUL (MERAPI)- Sebanyak tiga penambang gunung, Dwi Wahyudi (52), Efan Apriyanto (30) dan Warsito (42) warga Bantul masing-masing diganjar 4

Close