DISKUSI SINTESIS BERSAMA TAS: Langkah Jokowi Bukan Solusi Permanen

MERAPI - WULAN YANUARWATI  Diskusi jilid #2 bertajuk Desintas (Diskusi Sintesis Bersama TAS) di Sintesis Coffee & Space, Sabtu (9/11).
MERAPI – WULAN YANUARWATI
Diskusi jilid #2 bertajuk Desintas (Diskusi Sintesis Bersama TAS) di Sintesis Coffee & Space, Sabtu (9/11).

SLEMAN (MERAPI) – Sintesis Coffee & Space kembali membuka ruang diskusi jilid #2 Desintas (Diskusi Sintesis Bersama TAS), Sabtu (9/11)di Sintesis Coffee & Space Jalan Kaliurang. Kali ini bertema ‘Menakar Kabinet Indonesia Maju dari Perspektif Politik Hukum dan HAM’, menghadirkan Sosiolog UGM, Arie Sujito dan Aktivis Fakultas Hukum UGM, Ray Adrian dengan moderator Dosen STPMD ‘APMD’, Tri Agus Susanto.

Founder Sintesis Coffee & Space, Alam Panjaitan mengatakan, sudah kedua kali diskusi dilaksanakan dan setiap bulannya akan terus konsisten menghadirkan tema yang menarik dan sedang diperbincangkan khalayak.

“Sintesis tidak hanya menyediakan kopi, namun juga nutrisi literasi melalui diskusi yang berbobot dan berguna bagi khalayak,” ucapnya saat membuka diskusi.
Benang merah dari diskusi tersebut berkaitan dengan pemilihan anggota kabinet Indonesia beberapa waktu lalu, yang menimbulkan reaksi optimis dan pesimis dari berbagai kalangan, termasuk partai koalisi pendukung Presiden Jokowi.

Arie Sujito mengatakan, masuknya Prabowo Subiyanto dalam kabinet Indoensia Maju ibarat parasetamol, yang hanya meredakan panas namun tidak menyembuhkan. “Apa yang dilakukan Jokowi menunjukkan kompromi namun bukan merupakan solusi permanen. Mari kita lihat enam bulan mendatang,” ungkapnya saat diskusi.

Arie kurang setuju dengan banyaknya pengamat yang mendekotomi anggota kabinet antara politisi dan profesional. Ia berharap Jokowi tidak bertaruh pada jabatan Kementerian yang strategis.

Terkait penyelesaian kasus seperti UU KPK, Dosen di Departemen Sosiologi UGM ini menyatakan masalah itu bukan semata-mata hukum saja melainkan menyeluruh termasuk hukum dan politik.

Sementara aktivis Ray Adrian mempertanyakan nama kabinet Indonesia Maju. Kenapa tidak Indonesia Kerja II sebagai kabinet kelanjutan. Ia berpandangan masuknya Prabowo dalam kabinet justru sebuah kemoterapi yang menyakitkan namun menyembuhkan. Ray menilai Kabinet Indonesia Maju semakin kabur siapa yang pro pemertintah dan siapa yang oposisi.

“Mengapa kisruh RUU KUHP dan kebakaran hutan justru tetap menjadikan Yasona Laoly dan Siti Nurbaya Bakar masuk dalam kabinet Jokowi. Sebagai pertanggungjawaban untuk menyelesaikan masalah atau bagimana?” ungkapnya.
Diskusi berjalan dengan lancar dan dihadiri puluhan peserta dari mahasiswa, LSM, dan wartawan. (C-4)

Read previous post:
ilustrasi
Bila Pendekar Bentrok

SEPERTINYA tidak masuk akal, bagaimana mungkin dua padepokan silat yang tergolong masih bersaudara terlibat bentrok, apalagi hanya masalah atribut yang

Close