TALUD AMBROL TIMBUN 2 PEKERJA-2 Jam Terjepit Batu, Kaki dan Tangan Patah

SLEMAN (MERAPI)- Dua orang pekerja bangunan tertimpa longsoran talud yang tiba-tiba ambrol di tepi sungai dekat RSUD Sleman, Rabu (9/10). Diduga, talud ambrol karena kondisinya labil akibat digali. Akibat kejadian ini, kedua korban mengalamai luka dan bahkan satu orang terjepit batu selama 2 jam.
Saat kejadian berlangsung, kedua korban tengah menggali tanah di sekitar talud untuk pemasangan buis beton. Korban mengalami luka patah kaki dan tangan karena tertimbun reruntuhan batu pondasi talud tersebut.
Dua orang korban yakni Swito Budi Santosa (46) warga Jetis Medari Caturharjo Sleman dan Suradal (61) warga Bener Pingit, Tegalrejo Yogyakarta. Evakuasi yang berjalan selama dua jam ini berlangsung dramatis.
Sulitnya medan dan banyak bongkahan batu yang menjepit korban membuat petugas kesulitan dalam melakukan upaya penyelamatan. Berkat kesigapan petugas Basarnas, Sar DIY, Kepolisian dan TNI, kedua korban berhasil dievakuasi.

“Korban Suradal berhasil dievakuasi sekitar 10 menit usai kejadian. Tapi Swito hampir dua jam karena tubuhnya terjebit bantu. Kaki dan tangannya patah,” kata Kapolsek Sleman Kompol Sudarno kepada wartawan di lokasi kejadian.
Menurut Sudarno, talud tersebut runtuh sekitar pukul 10.16 WIB. Saat itu kedua korban dan sejumlah pekerja lainnya sedang melakukan penggalian di selokan tersebut untuk nantinya dipasangi besi cor.
Namun saat menggali, tiba-tiba talud yang dibangun sejak tahun 2014 dan berada di sisi timur itu runtuh. Reruntuhan talud menimpa dua orang korban.
Usai kejadian ini, sejumlah pekerja lain berusaha mengevakuasi korban. Namun karena medan sulit, mereka pun melapor ke polisi. Petugas gabungan dari Basarnas dan SAR DIY langsung turun ke lokasi kejadian.
Humas Basarnas DIY Pipit Eryanto menyebut korban Suradal berhasil dikeluarkan dari reruntuhan sekitar pukul 10.40. Sementara korban Swito baru dievakuasi sekitar dua jam setelahnya.

“Kedua korban selamat. Hanya mengalami patah tulang kaki dan tangan. Kendala dalam evakuasi memang pada sulitnya medan dan banyak batu yang menjepit tubuh korban, sehingga kami harus hati-hati,” kata Pipit.
Salah seorang saksi yang merupakan rekan kerja korban, Wahyu (20) warga Wonosari mengatakan, siang itu para pekerja sedang memasang besi dan buis beton untuk pengerjaan lantai talud. Saat kejadian di bawah talud ada enam orang menggali tanah.
“Tiga orang memasang besi, tiga orang lagi termasuk saya menggali untuk pemasangan buis beton,” katanya.
Saat itu Wahyu meninggalkan pekerjaannya untuk membeli rokok. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba talud di sisi timur ambrol menimpa dua pekerja yang sedang menggali. Ia dan teman-temannya lalu melakukan evakuasi secara manual.

“Kami langsung evakuasi manual, pertama pak Suradal. Kami angkat batu-batunya pakai tangan dan langsung bisa dievakuasi,” jelasnya.
Namun mereka tak bisa mengevakuasi Swito, karena banyaknya material yang menimpanya. Wahyu mengatakan sebelum kejadian itu ia sempat menyadari bahwa dinding talud sisi timur sudah dalam keadaan retak.
Terlebih jika ada kendaraan berat seperti truk lewat akan menggetarkan jembatan dan dinding talud. “Proyek ini sudah jalan dua mingguan. Dan kalau saya lihat talud itu sudah retak-retak. Akhirnya ambrol setinggi tiga meter,” pungkasnya.(Shn)