MENELISIK JEJAK SANG WALIYULLAH SYEKH ALI AKBAR (3)-Cucu Garis Keturunan Ketujuh Warisi Keilmuannya

MERAPI-ISTIMEWA
Nyai Mas’awiyah dan Sertu MS Arifin merupakan anak dan cucu garis keturunan ketujuh Syekh Ali Akbar

SEBAGAI Waliyullah, Syekh Ali Akbar diketahui adalah pemegang teguh falsafah luhur orang Madura. Falsafah itu berbunyi Bhuppa’ bhâbhu’ ghuru rato, yang mengandung makna ungkapan kepatuhan dan rasa hormat orang Madura secara hierarhikal pada figur-figur utama.

Orang Madura pertama-tama harus patuh dan taat pada kedua orang tuanya, kemudian pada guru (ulama), dan terakhir pada rato (pemimpin formal atau biasa disebut birokrasi). Artinya, dalam kehidupan sosial budaya orang Madura terdapat standard referensi kepatuhan terhadap figur-figur utama secara hierarhikal yang sudah seharusnya dilaksanakan.

Falsafah tersebut ditanamkan oleh orangtua Syekh Ali Akbar yaitu Syech Khalid sejak ia berusia dini. Syekh Khalid sendiri dikenal sebagai alim ulama yang kondang dengan sebutan Kiai Talang Takong. Tak ayal, kendati Raja Bindara Saod adalah keponakannya, Syekh Ali Akbar tidak mau memanfaatkannya untuk mementingkan diri sendiri.

Nama Syekh Ali Akbar memang tidak masyhur. Akan tetapi beliau sangat dicintai oleh masyarakat Pasongsongan. Walau tidak ada tinta sejarah yang mengabadikan buah perjuangannya, hal itu tidak akan menjadikan padam kemuliannya di mata keturunan Syekh Ali Akbar.

Garis keturunan keluarga Syakh Ali Akbar yang kini masih ada, yaitu Nyai Mas’awiyah melalui salah satu anaknya yaitu Sertu Mohammad Syamsul Arifin, yang berarti cucu dari garis keturunan ke tujuh sadar betul jikalau  jasa-jasa Syekh Ali Akbar  pada Kerajaan Sumenep sungguh luar biasa besar.

“Ibu saya yang kini usianya sudah lebih dari 100 tahun dan sekarang masih dalam kondisi sehat walafiat perah bercerita kepada saya, bahwa seringkali Raja Bindara Saod banyak mendapatkan saran dan masukan dari kakek saya (Syakh Ali Akbar). Baik tentang kehidupan keluarga Raja Sumenep itu sendiri, lebih-lebih tentang roda kepemimpinan kerajaan yang sarat dengan rongrongan dan ancaman yang datang silih-berganti dari segala penjuru. Akan tetapi semuanya bisa dilalui dengan baik. Semuanya bisa cepat diatasi berkat kelihaian langkah politik Syekh Ali Akbar,” urai Sertu Syamsul Arifin yang kini namanya kian menggaung oleh kemampuannya sebagai seorang terapis dan peracik ramuan herbal.

Sertu Syamsul Arifin yang merupakan prajurit TNI sangat menyadari dan tak mampu memungkiri, bahwa kemampuannya dalam meracik ramuan obat herbal sekaligus mengobati orang yang mengidap beragam gangguan penyakit, dari sakit yang ringan hingga berat tidak lepas dari warisan kemampuan hebat sang kakek (Syekh Ali Akbar).

Sebagai seorang alim ulama, Syekh Ali Akbar hari-harinya diisi berdakwah agama Islam dari pintu ke pintu tanpa mengenal lelah. Tanpa kenal kompromi. Seolah tidak ada waktu terbuang sia-sia begitu saja. Beliau senantiasa menebarkan kebajikan kepada siapa saja tanpa pandang bulu.

“Sebagai waliyullah, Syekh Ali Akbar mempunyai banyak karomah. Doanya mustajab. Cepat terijabah permohonannya. Dan saya jujur bangga dapat mewarisi keilmuan beliau, sehingga hidup saya memiliki manfaat bagi umat (masyarakat),” tandasnya. (Fin)

Read previous post:
ilustrasi
KECELAKAAN DI RINGROAD-Suami-Istri Masuk ke Kolong Truk

BANGUNTAPAN (MERAPI)- Suami istri Cirilus Iwan (46) dan Sumarni (46) keduanya warga Bantulan, Sidoarum, Godean, Sleman mengalamai luka berat di

Close