MENELISIK JEJAK SANG WALIYULLAH SYEKH ALI AKBAR (2)-Politikus Handal dan Ahli Strategi Perang

SYEKH Ali Akbar adalah Sang Waliyullah. Namun nama itu tak begitu populer ditelinga masyarakat seperti tokoh sejarah lainnya. Syekh Ali Akbar punya kontribusi luar biasa terhadap keberadaan Desa Pasongsongan yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal Kabupaten Sumenep. Berkat jasanya pula, Sumenep kini hingar bingar dengan berbagai julukan, seperti Kota Wisata, Kota Santri, Kota Pelabuhan dan Kota Nelayan.

Selain dikenal sosok penyebar agama Islam, ia juga merupakan ahli politik dan ahli strategi perang. Tak ayal Raja Sumenep Bindara Saod pun kerap meminta bantuan arahan guna memperoleh kemenangan saat bertempur melawan Belanda.

Menurut penuturan sejumlah keluarga keturunan Syekh Ali Akbar, seperti yang tertulis dalam buku otobiografi Syekh Ali Akbar yang ditulis Yant Kaiy, bahwa berdasarkan kajian sejarah, penyebaran agama Islam di Pasongsongan dan sekitarnya adalah berkat perjuangan gigih syiar dari Syekh Ali Akbar. Waliyullah yang satu ini adalah orang alim dan bijaksana, berbudi luhur dan amanah dalam segala hal, tingkah lakunya senantiasa rendah hati, tidak pernah sama sekali memandang lemah orang lain.

Salah satu cucu dari keturunan ke tujuh Syekh Ali Akbar, Sertu Mohammad Syamsul Arifin menjelaskan, bahwa semasa hidup Syekh Ali Akbar tidak pernah putus wudhu. Artinya satiap Syekh Ali Akbar batal wudhu maka beliau cepat-cepat wudhu kembali.

“Orangtua saya pernah bercerita bahwa sepanjang hidupanya beliau berpuasa. Cerita tentang seputar puasa Syekh Ali Akbar tersebut, Syekh Ali Akabr bahkan kalau buang air besar setiap satu bulan sekali. Sementara tinjanya sebesar biji kurma,” cerita Sertu Syamsul Arifin.

Memang tanah tempat tinggal Syekh Ali akbar bertanah batu kapur kuningan. Pada jaman tersebut tumbuhan yang berbuah dan yang bisa dimakan kebanyakan pohon mengkudu. Sekarang tanah tempat Syekh Ali Akbar bernama Dusun Pakotan dan masih termasuk wilayah Desa Pasongsongan Kecamatan Pasongsongan.

“Jadi makan sahur dan berbuka puasa beliau adalah buah mengkudu. Itu pun tidak banyak, satu buah mengkudu untuk berbuka puasa dan sahurnya,” sambung Sertu Syamsul Arifin.

Tak heran, sebagai ahli ibadah, hatinya senantiasa husnudhan kepada Sang Ilahi. Ia memiliki karomah dan doa-doanya makbul. Maka tak berlebihan kalau Raja Bindara Saod seringkali meminta nasihat dan doa kepada Syekh Ali Akbar agar kerajaan yang dipimpinnya aman dan makmur. Apalagi kedekatan Raja Sumenep dengan beliau dilatarbelakangi oleh adanya hubungan darah pada keduannya.

Kendati Syekh Ali Akbar sebagai paman Raja Bindara Saod, akan tetapi Syekh Ali Akbar tetap hormat dan tunduk-patuh terhadap keputusan rajanya. Ia memakai etika sebagai pengejawantahan seorang rakyat kepada pemimpinnya. Bagi beliau keputusan raja adalah undang-undang yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sepanjang sabda raja itu masuk akal dan adil-bijaksana. Bukankah apa yang diucapkan raja sebelumnya telah melewati kajian pemikiran oleh menteri-menterinya dengan mengedepankan curahan nuansa perasaan. (Fin).

Read previous post:
Legenda Wahyu Kliyu, Historis Bersih Dusun Diangkat ke Sinematografi

DIANGKAT melalui seni sinematografi, legenda Wahyu Kliyu dari Dusun Kendal, Desa/Kecamatan Jatipuro memvisualisasi peristiwa penting yang mengawali perayaan upacara tahunan

Close