KETHOPRAK DWIJO BUDOYO ISI YOGYA: Pentaskan Lakon Mendung Bumi Ngrowo

MERAPI-TEGUH  Salah satu adegan lakon Mendung Bumi Ngrowo.
MERAPI-TEGUH
Salah satu adegan lakon Mendung Bumi Ngrowo.

SEWON (MERAPI) – Kethoprak sebagai salah satu seni pertunjukan teater tradisional yang hingga saat ini masih digemari masyarakat, keberadaannya harus terus dilestarikan dan dikembangkan. Adanya minat yang sedemikian besar dari sivitas akademi Institut Seni Indonesia (ISI), sehingga dapat menghadirkan kethoprak dengan Lakon Mendung Bumi Ngrowo yang tata panggungnya mengusung tonil layaknya sebuah tobong kethoprak di masa lalu, ini menjadi istimewa.

Demikian diungkap Rektor ISI Yogyakarta Prof. Dr. M. Agus Burhan, M.Hum dalam sambutannya mengawali pagelaran kethoprak Dwijo Budaya di Gedung Serba Guna ISI Yogya, Selasa (10/9) malam. Menurut rektor, semangat segenap sivitas akademika ISI dalam mengabdikan diri kepada seni teater tradisional memang patut mendapatkan apresiasi. Namun lanjut dia, sepertinya kalau untuk membuka prodi baru jurusan kethoprak masih sangat jauh dari angan-angan.

“Ini sangat bagus segenap karyawan dan dosen juga mahasiswa terlibat dalam penampilan kethoprak ini, namun begitu untuk membuka prodi baru jurusan kethoprak masih sangat jauh untuk diwujudkan,” ucap Agus Burhan.

Lebih jauh dijelaskannya, pementasan ini juga menjadi istimewa karena merupakan akumulasi minat dan kecintaan yang sedemikian besar dari segenap sivitas akademika ISI Yogyakarta. Pagelaran ini melibatkan berbagai keahlian bidang studi yang ada selain seni pertunjukan teater, musik pengiring, tarian semua berpadu guyup rukun.

Lakon yang dianggkat Mendung Bumi Ngrowo karya Drs. Untung Muljono, M.Hum didukung oleh Prodi S1 Pendidikan Seni Pertunjukan, Karawitan, Etnomusikologi dan Teater FSP ISI Yogyakarta. Sebagai mana dijelaskan Pimpinan Produksi Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum kepada Merapi, lakon ini berkisah tentang perjuangan seorang Surontani dalam perjuangannya menegakan kebenaran di masa pemerintahan Sunan Amangkurat, pasca wafatnya Sultan Agung raja Mataram.
“Kisahnya adalah awal dari imperialis yang masuk dalam lingkaran kekuasaan yang kemudian membawa bencana pada tahun-tahun berikutnya dalam sejarah Mataram,” ucap Nuris sapaaan Kaprodi S1 Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.
Sebelum pageralan kethoprak dimulai, tarian Syakuntala yang dimainkan kelompok Balangga yang terdiri dari penari Sylva Lundia, Chandra Adhi, Berrar Fachtya dan Sutan Alif semuanya alumni prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, menyajikan tarian yang memikat. Perpaduan gerak tari tradisonal berbalut kreasi baru dan berbagai gerak aerobic, mampu menyita perhatian penontonyang bejubel memadati gedung serba guna itu. (C-3)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Pemkab Bantul Revitalisasi Jalan

BANTUL (MERAPI) - Penataan atau revitalisasi Jalan Bantul mulai dilakukan bulan ini. Melanjutkan rehab jalan Jendral Sudirman tahun sebelumnya, Jalan

Close